Feeds:
Posts
Comments

Raden Sahid

Sudah banyak orang tahu bahwa Sunan Kalijaga itu aslinya bernama Raden Said. Putra Adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta seringkali disebut Raden Sahur, walau dia termasuk keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu tapi Raden Sahur sendiri sudah masuk agama Islam. Sejak kecil Raden Said sudah diperkenalkan kepada agama Islam oleh guru agama Kadipaten Tuban.Tetapi karena melihat keadaan sekitar atau lingkungan yang kontradiksi dengan kehidupan rakyat jelata maka jiwa Raden Said berontak. Gelora jiwa muda Raden said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek oknum pejabat Kadipaten Tuban di saat menarik pajak pada penduduk atau rakyat jelata.

Rakyat yang pada waktu itu sudah sangat menderita dikarenakan adanya musim kemarau panjang, semakin sengsara, mereka harus membayar pajak yang kadangkala tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Bahkan jauh dari kemampuan mereka. Seringkali jatah mereka untuk persediaan menghadapi musim panen berikutnya sudah disita para penarik pajak.

Raden Said yang mengetahui hal itu pernah mengajukan pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Suatu hari dia menghadap ayahandanya.

“Rama Adipati, rakyat tahun ini sudah semakin sengsara karena panen banyak yang gagal,” kata Raden Said, “mengapa pundak mereka masih harus dibebani dengan pajak yang mencekik leher mereka. Apakah hati nurani Rama tidak merasa kasihan atas penderitaan mereka?” Adipati Wilatikta menatap tajam kea rah putranya. Sesaat kemudian dia menghela nafas panjang dan kemudian mengeluarkan suara,

“Said anakku, saat ini pemerintah pusat Majapahit sedang membutuhkan dana yang sangat besar untuk melangsungkan roda pemerintahan. Aku ini hanyalah seorang bawahan sang Prabu, apa dayaku menolak tugas yang dibebankan kepadaku. Bukan hanya Kadipaten Tuban yang diwajibkan membayar upeti lebih banyak dari tahun-tahun yang lalu. Kadipaten lainnya juga mendapat tugas serupa.”

“Tapi, mengapa harus rakyat yang jadi korban?” Sahut Raden Said.

Tapi Raden Said tak meneruskan ucapannya. Dilihatnya saat itu wajah ayahnya berubah menjadi merah padam pertanda hatinya sedang tersinggung atau naik pitam. Baru kali ini Raden Said membuat ayahnya marah. Hal yang selama hiduptak pernah dilakukannya. Raden Said tahu diri. Sambil bersungut-sungut dia merunduk dan mengundurkan diri dari hadapan ayahnya yang sedang marah. Ya, Raden Said tak perlu melanjutkan pertanyaan. Sebab dia sudah dapat menjawabnya sendiri. Majapahit sedang membutuhkan dana besar karena negeri itu sering menghadapi kekacauan, baik memadamkan pemberontakan maupun terjadinya perang saudara.

Walau Raden Said putra seorang bangsawan dia lebih menyukai kehidupan yang bebas, yang tidak terikat oleh adapt istiadat kebangsawanan. Dia gemar bergaul dengan rakyat jelata atau dengan segala lapisan masyarakat, dari yang paling bawah hingga yang paling atas. Justru karena pergaulannya yang supel itulah dia banyak mengetahui selukbeluk kehidupan rakyat Tuban. Niat untuk mengurangi penderitaan rakyat sudah disampaikan kepada ayahnya. Tapi agaknya ayahnya tak bisa berbuat banyak. Dia cukup memahaminya pula posisi ayahnya sebagai adipati bawahan Majapahit. Tapi niat itu tak pernah padam.

Jika malam-malam sebelumnya dia sering berada di dalam kamarnya sembari mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, maka sekarang dia keluar rumah. Di saat penjaga gudang Kadipaten tertidur lelap, Raden Said mengambil sebagian hasil bumi yang ditarik dari rakyat untuk disetorkan ke Majapahit. Bahan makan itu dibagi-bagikan kepada rakyat yang sangat membutuhkannya. Tentu saja rakyat yang tak tahu apa-apa itu menjadi kaget bercampur girang menerima rezeki yang tak diduga-duga. Walau mereka tak pernah tahu siapa gerangan yang memberikan rezeki itu, sebabnya Raden Said melakukannya di malam hari secara sembunyi-sembunyi.

Bukan hanya rakyat yang terkejut atas rezeki yang seakan turun dari langit itu. Penjaga gudang Kadipaten juga merasa kaget, hatinya kebat-kebit, soalnya makin hari barangbarang yang hendak disetorkan ke pusat kerajaan Majapahit itu makin berkurang. Ia ingin mengetahui siapakah pencuri barang hasil bumi di dalam gudang itu. Suatu malam ia sengaja sengaja mengintip dari kejauhan, dari balik sebuah rumah, tak jauh dari gudang Kadipaten.

Dugaannya benar, ada seseorang membuka pintu gudang, hampir tak berkedip penjaga gudang itu memperhatikan, pencuri itu.Dia hampir tak percaya, pencuri itu adalah Raden Said, putra junjungannya sendiri. Untuk melaporkannya sendiri kepada Adipati Wilatikta ia tak berani. Kuatir dianggap membuat fitnah. Maka penjaga gudang itu hanya minta dua orang saksi dari sang Adipati untuk memergoki pencuri yang mengambil hasil bumi rakyat yang tersimpan di gudang. Raden Said tak pernah menyangka bahwa malam itu perbuatannya bakal ketahuan.

Ketika ia hendak keluar dari gudang sambil membawa bahan-bahan makanan, tiga orang prajurid Kadipaten menangkapnya beserta barang bukti yang dibawanya. Raden Said dibawa kehadapan ayahnya.

“Sungguh memalukan sekali perbuatanmu itu!” hardik Adipati Wilatikta, “kurang apakah aku ini, benarkah aku tak menjamin kehidupanmu di istana Kadipaten ini? Apakah aku pernah melarangnya untuk makan sekenyang-kenyangnya di Istana ini? Atau aku tidak pernah memberimu pakaian? Mengapa kau lakukan perbuatan tecela itu?”

Raden Said tidak mengeluarkan suara. Biarlah, bisik hatinya. Biarlah orang tak pernah tahu untuk apa barang-barang yang tersimpan di gudang Kadipaten itu kuambil. Biarlah ayahku tak pernah tahu kepada siapa barang-barang itu kuberikan. Adipati Wilatikta semakin marah melihat sikap anaknya itu. Raden Said tidak menjawabnya untuk apakah dia mencuri barang-barang hasil bumi yang hendak disetorkan ke Majapahit itu. Tapi untuk itu Raden Said harus mendapat hukuman, karena kejahatan mencuri itu baru pertama kali dilakukannya maka dia hanya mendapat hukuman cambuk dua ratus kali pada tangannya. Kemudian disekap selama beberapa hari, tak boleh keluar rumah.

Jerakah Raden Said atas hukuman yang sudah diterimanya? Sesudah keluar dari hukuman dia benar-benar keluar dari lingkungan istana. Tak pernah pulang sehingga membuat cemas ibu dan adiknya. Apa yang dilakukan Raden Said selanjutnya? Dia mengenakan topeng khusus, berpakaian serba hitam dan kemudian merampok harta orang-orang kaya di kabupaten Tuban. Terutama orang kaya yang pelit dan para pejabat Kadipaten yang curang. Harta hasil rampokan itupun diberikannya kepada fakir miskin dan orang-orang yang menderita lainnya.

Tapi ketika perbuatannya ini mencapai titik jenuh ada saja orang yang bermaksud mencelakakannya. Ada seorang pemimpin perampok sejati yang mengetahui aksi Raden Said menjarah harta pejabat kaya, kemudian pemimpin rampok itu mengenakan pakaian serupa dengan pakaian Raden Said, bahkan juga mengenakan topeng seperti topeng Raden Said juga.

Pada suatu malam, Raden Said yang baru saja menyelesaikan shalat Isyá mendengar jerit tangis para penduduk desa yang kampungnya sedang dijarah perampok. Dia segera mendatangi tempat kejadian itu. Begitu mengetahui kedatangan Raden Said, kawanan perampok itu segera berhamburan melarikan diri. Tinggal pemimpin mereka yang sedang asyik memperkosa seorang gadis cantik. Raden Said mendobrak pintu rumah si gadis yang sedang diperkosa.

Di dalam sebuah kamar dia melihat seseorang berpakaian seperti dirinya, juga mengenakan topeng serupa sedang berusaha mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya dia sudah selesai memperkosa gadis itu. Raden Said berusaha menangkap perampok itu. Namun pemimpin rampok itu berhasil melarikan diri. Mendadak terdengar suara kentongan di pukul bertalu-talu, penduduk dari kampung lain berdatangan ke tempat itu. Pada saat itulah si gadis yang baru diperkosa perampok tadi menghamburkan diri dan menangkap erat-erat tangan Raden Said. Raden Said pun jadi panik dan kebingungan. Para pemuda dari kampung lain menerobos masuk dengan senjata terhunus.

Raden Said ditangkap dan dibawa ke rumah kepala desa. Kepala desa yang merasa penasaran mencoba membuka topeng di wajah Raden Said. Begitu mengetahui siapa orang dibalik topeng itu sang kepala desa jadi terbungkam. Sama sekali tak disangkanya bahwa perampok itu adalah putra junjungannya sendiri yaitu Raden Said. Gegerlah masyarakat pada saat itu. Raden Said dianggap perampok dan pemerkosa. Si gadis yang diperkosa adalah bukti kuat dan saksi hidup atas kejadian itu. Sang kepala desa masih berusaha menutup aib junjungannya. Diam-diam ia membawa Raden Said ke istana Kadipaten Tuban tanpa diketahui orang banyak. Tentu saja sang Adipati menjadi murka. Sang Adipati yang selama ini selalu merasa sayang dan selalu membela anaknya kali ini juga naik pitam. Raden Said diusir dari wilayah Kadipaten Tuban.

“Pergi dari Kadipaten Tuban ini! Kau telah mencoreng nama baik keluargamu sendiri! Pergi! Jangan kembali sebelum kau dapat menggetarkan dinding-dinding istana Kadipaten Tuban ini dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang sering kau baca di malam hari!”

Sang Adipati Wilatikta juga sangat terpukul atas kejadian itu. Raden Said yang diharapkan dapat menggantikan kedudukannya selaku Adipati Tuban ternyata telah menutup kemungkinan ke arah itu. Sirna sudah segala harapan sang adipati. Hanya ada satu orang yang tak dapat mempercayai perbuatan Raden Said, yaitu Dewi Rasawulan, adik Raden said. Raden Said itu berjiwa bersih luhur dan sangat tidak mungkin melakukan perbuatan keji. Hati siapa yang takkan hancur mengalami peristiwa seperti ini. Raden Said bermaksud menolong fakir miskin dan penduduk yang menderita tapi akibatnya justru dia sendiri yang harus menelan derita. Diusir dari Kadipaten Tuban. Orang tua mana yang tak terpukul batinnya mengetahui anak dambaan hati tiba-tiba berbuat jahat dan menghancurkan nama dan masa depannya sendiri. Tapi itulah peristiwa yang memang harus dialami oleh Raden Said.

Seandainya tidak ada fitnah seperti itu, barangkali Raden Said tidak bakal menjadi seorang ulama besar, seorang Wali yang dikagumi oleh seluruh penduduk Tanah Jawa. Raden Said betul-betul meninggalkan Kadipaten Tuban. Dewi Rasawulan yang sangat menyayangi kakaknya itu merasa kasihan, tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya dia meninggalkan istana Kadipaten Tuban untuk mencari Raden Said untuk diajak pulang. Tentu saja sang ayah dan ibu kelabakan mengetahui hal ini. Segera saja diperintahkan puluhan prajurit Tuban untuk mencari Dewi Rasawulan tak pernah ditemukan oleh mereka. Di dalam Babad Tanah Jawa dikisahkan bahwa Dewi Rasawulan pada akhirnya telah ditemukan oleh Empu Supa, seorang Tumenggung Majapahit yang menjadi murid Sunan Kalijaga. Dewi Rasawulan kemudian dijodohkan dengan Empu Supa. Dan kembali ke Tuban bersama-sama dengan diantar Sunan Kalijaga yang tak lain adalah Raden Said sendiri.

Kemanakah Raden Said sesudah diusir dari Kadipaten Tuban? Ternyata ia mengembara tanpa tujuan pasti. Pada akhirnya dia menetap di hutan Jatiwangi. Selama bertahun-tahun dia menjadi perampok budiman. Mengapa disebut perampok budiman? Karena hasil rampokannya itu tak pernah dimakannya. Seperti dulu, selalu diberikan kepada fakir miskin. Yang dirampoknya hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak menyantuni rakyat jelata, dan tidak mau membayar zakat. Di hutan Jatiwangi dia membuang nama aslinya. Orang menyebutnya sebagai Brandal Lokajaya.

Pada suatu hari, ada seorang berjubah putih lewat di hutan Jatiwangi. Dari jauh Brandal Lokajaya sudah mengincarnya. Orang itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan. “Pasti gagang tongkat itu terbuat dari emas,” bisik Brandal Lokajaya dalam hati. Terus diawasinya orang tua berjubah putih itu. Setelah dekat dia hadang langkahnya sembari berkata,

“Orang tua, apa kau pakai tongkat? Tampaknya kau tidak buta, sepasang matamu masih awas dan kau juga masih kelihatan tegar, kuat berjalan tanpa tongkat?”

Lelaki berjubah putih itu tersenyum, wajahnya ramah, dengan suara lembut dia berkata, “Anak muda, perjalanan hidup manusia itu tidak menentu, kadang berada di tempat terang, kadang berada di tempat gelap, dengan tongkat ini aku tidak akan tersesat bila berjalan dalam kegelapan.”

“Tapi, saat ini hari masih siang, tanpa tongkat saya kira kau tidak akan tersesat berjalan di hutan ini.” Sahut Raden Said.

Kembali lelaki berjubah putih itu tersenyum arif, “Anak muda tongkat adalah pegangan, orang hidup haruslah mempunyai pegangan supaya tidak tersesat dalam menempuh perjalanan hidupnya.” Agaknya jawab-jawab yang mengandung filosofi itu tak menggugah hati Raden Said. Dia mendengar dan mengakui kebenarannya tapi perhatiannya terlanjur tertumpah kepada gagang tongkat lelaki berjubah putih itu.

Tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih. Karena tongkat itu dicabut dengan paksa maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur. Dengan susah payah orang itu bangun, sepasang matanya mengeluarkan air walau tak ada suara tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamat-amati gagang tongkat yang dipegangnya. Ternyata tongkat itu bukan terbuat dari emas, hanya gagangnya saja terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari, seperti emas. Raden Said heran melihat orang itu menangis. Segera diulurkannya kembali tongkat itu,

“Jangan menangis, ini tongkatmu kukembalikan.”

“Bukan tongkat ini yang kutangisi,” ujar lelaki itu sembari memperlihatkan beberapa batang rumput di telapak tangannya.

“Lihatlah! Aku telah berbuat dosa, berbuat kesiasiaan. Rumput ini tercabut ketika aku aku jatuh tersungkur tadi.”

“Hanya beberapa lembar rumput. Kau merasa berdosa?” Tanya Raden Said heran. “Ya, memang berdosa! Karena kau mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata guna makanan ternak itu tidak mengapa. Tapi untuk suatu kesia-siaan benar-benar suatu dosa!” Jawab lelaki itu. Hati Raden Said agak tergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.

“Anak muda sesungguhnya apa yang kau cari di hutan ini?”

“Saya mengintai harta?”

“Untuk apa?”

“Saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita.”

“Hemm, sungguh mulia hatimu, sayang caramu mendapatkannya yang keliru.” “Orang tua, apa maksudmu?”

“Boleh aku bertanya anak muda?”

“Silahkan!“

“Jika kau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?”

“Sungguh perbuatan bodoh,” sahut Raden Said, “hanya manambah kotor dan bau pakaian itu saja.” Lelaki itu tersenyum,

“Demikian pula amal yang kau lakukan. Kau bersedekah dengan barang yang di dapat secara haram, merampok atau mencuri, itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing.” Raden Said tercekat. Lelaki itu melanjutkan ucapannya, “Allah itu adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal.”Raden Said makin tercengang mendengar keterangan itu.

Rasa malu mulai menghujam tubuh hatinya. Betapa keliru perbuatannya selama ini. Di pandangnya sekali lagi wajah lelaki berjubah putih itu. Agung dan berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai suka dan tertarik pada lelaki berjubah putih itu.

“Banyak hal yang terkait dalam usaha mengentas kemiskinan dan penderitaan rakyat pada saat ini. Kau tidak bisa merubahnya hanya dengan memberi para penduduk miskin bantuan makan dan uang. Kau harus memperingatkan para penguasa yang zalim agar mau merubah caranya memerintah yang sewenang-wenang, kau juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya!” Raden Said semakin terpana, ucapan seperti itulah yang didambakannya selama ini.

“Kalau kau tak mau kerja keras, dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah maka ambillah itu. Itu barang halal. Ambillah sesukamu!” Berkata demikian lelaki itu menunjuk pada sebatang pohon aren. Seketika pohon itu berubah menjadi emas seluruhnya. Sepasang mata Raden Said terbelalak. Dia adalah seorang pemuda sakti, banyak ragam pengalaman yang telah dikecapnya. Berbagai ilmu yang aneh-aneh telah dipelajarinya. Dia mengira orang itu mempergunakan ilmu sihir, kalau benar orang itu mengeluarkan ilmu sihir ia pasti dapat mengatasinya. Tapi, setelah ia mengerahkan ilmunya, pohon aren itu tetap berubah menjadi emas. Berarti orang itu tidak mempergunakan sihir.

Raden Said terpukau di tempatnya berdiri. Dia mencoba memanjat pohon aren itu. Benar-benar berubah menjadi emas seluruhnya.Ia ingin mengambil buah aren yang telah berubah menjadi emas berkilauan itu. Mendadak buah aren itu rontok, berjatuhan mengenai kepala Raden Said. Pemuda itu terjerembab ke tanah. Roboh dan pingsan. Ketika ia sadar, buah aren yang rontok itu telah berubah lagi menjadi hijau seperti arenaren lainnya. Raden Said bangkit berdiri, mencari orang berjubah putih tadi. Tapi yang dicarinya sudah tak ada di tempat. “Pasti dia seorang sakti yang berilmu tinggi. Menilik caranya berpakaian tentulah dari golongan para ulama atau mungkin salah seorang dari Waliullah, aku harus menyusulnya, aku akan berguru kepadanya,” demikian pikir Raden Said.

Raden Said mengejar orang itu. Segenap kemampuan dikerahkannya untuk berlari cepat, akhirnya dia dapat melihat bayangan orang itu dari kejauhan. Seperti santai saja orang itu melangkahkan kakinya, tapi Raden Said tak pernah bisa menyusulnya. Jatuh bangun, terseok-seok dan berlari lagi, demikianlah, setelah tenaganya terkuras habis dia baru sampai di belakang lelaki berjubah putih itu. Lelaki berjubah putih itu berhenti, bukan karena kehadiran Raden Said melainkan di depannya terbentang sungai yang cukup lebar.Tak ada jembatan, dan sungai itu tampaknya dalam, dengan apa dia harus menyeberang.

“Tunggu!“ ucap Raden Said ketika melihat orang tua itu hendak melangkahkan kakinya lagi.

“Sudilah Tuan menerima saya sebagai murid?“ pintanya.

“Menjadi muridku?” Tanya orang itu sembari menoleh.

“Mau belajar apa?”

“Apa saja, asal Tuan menerima saya sebagai murid!”

“Berat, berat sekali anak muda, bersediakah kau menerima syarat-syaratnya?”

“Saya bersedia!“

Lelaki itu kemudian menancapkan tongkatnya di tepi sungai. Raden Said diperintahkan menungguinya. Tak boleh beranjak dari tempat itu sebelum lelaki itu kembali menemuinya. Raden Said bersedia menerima syarat ujian itu. Selanjutnya lelaki itu menyeberangi sungai. Sepasang mata Raden Said terbelalak heran, lelaki itu berjalan di atas air bagaikan berjalan didaratan saja. Kakinya tidak basah terkena air. Setelah lelaki itu hilang dari pandangan Raden Said, pemuda itu duduk bersila, dia berdo’a kepada Tuhan supaya ditidurkan seperti para pemuda di goa Kahfi ratusan tahun silam. Do’anya dikabulkan.

Raden Said tertidur dalam samadinya selama tiga tahun. Akar dan rerumputan telah membalut dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya. Setelah tiga tahun lelaki berjubah putih itu datang menemui Raden Said. Tapi Raden Said tak bisa dibangunkan. Barulah setelah mengumandangkan adzan, pemuda itu membuka sepasang matanya. Tubuh Raden Said dibersihkan, diberi pakaian baru yang bersih. Kemudian dibawa ke Tuban. Mengapa ke Tuban? Karena lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang. Raden Said kemudian diberi pelajaran agama sesuai dengan tingkatnya, yaitu tingkat para Waliullah.

Di kemudian hari Raden Said terkenal sebagai Sunan Kalijaga. Kalijaga artinya orang yang menjaga sungai. Ada yang mengartikan Sunan Kalijaga adalah penjaga aliran kepercayaan yang hidup pada masa itu. Dijaga maksudnya supaya tidak membahayakan ummat, melainkan diarahkan kepada ajaran Islam yang benar. Ada juga yang mengartikan legenda pertemuan Raden Said dengan Sunan Bonang hanya sekedar simbol saja. Kemanapun Sunan Bonang pergi selalu membawa tongkat atau pegangan hidup, itu artinya Sunan Bonang selalu membawa agama,

(Diambil pupuh-pupuh dari Babad Tanah Jawa yang berkaitan dengan riwayat Sunan Kalijaga.)

Petikan Pupuh Babad Tanah Jawa

Dandanggula.

1. ………………………………….., ………………………………., …………………………., ………………………….., kawuwusa Dipati Tubin, Ki Rangga Wilwatikta, lawan garwanipun, Kusuma Rêtna Dumilah, putri adi tariman saking Narpati, Brawijaya ping tiga.

2. Majalengka Sang Dyah wus sasiwi, jalu estri nggih pambajêngira, Ki Mas Sahid jêjuluke, abagus warnanipun, gagah grêgêk dêdêge inggil, calungan saya lantas, alus sriranipun, tan nggethek tan cirinya, amung siji cacade Rahaden Sahid, asring rêmên kasukan.

3. Kang taruna wanudya yu luwih, kêkasihe Dewi Rasawulan, kadya Ratih Dyah citrane, rêmên tapa Sang Ayu, wimbuh cahya anawang sasi, amrik ati sêmunya, jatmika ing têmbung, alon tindak-tandukira, sasolahe akarya kêpyuring galih, samya estri kasmaran.

Asmaradana

1. Samana Sang pindha Ratih, tinimbalan mring kang Rama, munggwing keringe ibune, tanapi kang putra priya, Dyan Sahid munggwing ngarsa, Sang Dipati ngandika rum, Angger sira akrama-a.

2. Pilihana para putri, putrane para Dipatya, yen ana dadi karsane, matura ing ibunira, ingsun ingkang anglamar, kang putra datan umatur, lajêng kesah ngabotohan.

3. Angling malih Sang Dipati, marang kang putra wanudya, Rasawulan putraningong, sira bae akrama-a, pan sira wus diwasa, Dyah Rasawulan umatur, Benjang kula arsa krama.

4. Yen sampun kakangmas krami, kawula purun akrama, ing mangke dereng masane, taksih rêmên amratapa, nênêpi guwa sunya, Kang ibu tansah rawat luh, tan sagêd malangi putra.

5. Kuneng Sang Dipati Tubin, warnanên wau kang putra, kang kesah mring kalangane, ngabên sawung sampun kalah, kêplêk kecek tan mênang, prabote têlas sadarum, sawunge kinarya tohan.

6. Muring-muring Ki Mas Sahid, pan lajêng angadhang dalan, ambêbegal pakaryane, lan sabên-sabên mangkana, yen kalah ngabotohan, angrêbut aneng marga gung, tan ajrih rinampog tohan.

7. Wus kaloka putra Tubin, digdaya angadhang marga, ambêbegal pakaryane, katur Kangjêng Sunan Benang, yen putra Tuban mbegal, mêjahi lêlurung agung, Jêng Sunan alon ngandika.

8. Marang sagung para murid, Payo padha anggêgodha, mring bakal Wali kinaot, Ki Sahid putra ing Tuban, iku kêkasihing Hyang, nanging durung antuk guru, mulane maksih ruhara.

9. Nulya pêpak para murid, Jêng Sunan Benang siyaga, apan endah busanane, angagêm srêban rinenda, dhêstare sutra bara, atêkên jungkat sinêlut, kênana tunggal mutyara.

10. Jêng Sunan nulya lumaris, ingiring murid sahabat, kalih dasa dharat kabeh, arsa salat marang Mêkah, samana prapteng marga, ing prênahe Sang Binagus, putra Tuban kang mbêbegal.

11. Ki Mas Sahid aningali, yen ana wong alim liwat, atêkên jungkat mencorong, ablongsong tunggal mutyara, anulya tinututan, Ki Mas Sahid asru muwus, Paman êndi jungkatira.

12. Dene mencorong sun ambil, yen tan aweh ingsun rêbat, yen arsa nyuduk maring ngong, lah mara nyuduka sira, ing wuri lan ing ngarsa, Jêng Sunan mêsem amuwus, Jêbeng sira salah karya.

13. Sira njaluk jungkat mami, tiwas ambutuhkên lampah, datan akeh pangajine, yen sira rêmên ing dunya, intên miwah kancana, lah iya ambilên gupuh, kancana intên ganjaran.

14. Ya ta ponang kolang-kaling, tinudingan Kangjêng Sunan, malih dadi mas mêncorong, pan dadya intên kumala, gumlar pating gêlêbyar, Ki Mas Sahid gawok ndulu, mitênggêngên tanpa ngucap.

15. Jêng Sunan nulya lumaris, alon denira lumampah, den jarag nggodha karsane, sêmu ngênteni kang mbegal, dhuh lagya saonjotan, Ki Mas Sahid nulya emut, ngraos lamun kaluhuran.

16. Ki Mas Sahid wus pinanthi, mring Hyang Suksmana Kawêkas, ngriku prapta nugrahane, osik marang kaluhuran, pratandha trah kusuma, kêpencut ilmu pitutur, kramatnya ingkang sarira.

17. Akêbat dennya tut wuri, mring lampahe Sunan Benang, tan matur anginthil bae, wus prapta madyaning wana, kendêl Kangjêng Suhunan, angandika mring kang nusul, Lah ki jêbeng paran karsa.

18. Anusul mring laku mami, anginthil wong arsa salat, apa arsa makmum angger, Mas Sahid matur anêmbah, Mila kula tut wuntat, ing Paduka Sang Awiku, amba arsa puruhita.

19. Kapengin kadya Sang Yogi, mandi cipta kang kahanan, nuwun winêjang wakingeng, kêdah amba tuduhêna, ilmu kadya Jêng Sunan, anuwun wêjanging ilmu, kawula atur prasêtya.

20. Kangjêng Sunan mangkya angling, Apa têmên jêbeng sira, ora dora mring Hyang Manon, sira sanggup puruhita, kapengin kadya ingwang, mandi cipta kang satuhu, yen têmên ya tinêmênan.

21. Ning abot patukoneki, wong dadi Wali utama, dudu brana panukune, mung lila setya lêgawa, tan mingsêr yen wus ngucap, sih mring Guru jrih Hyang Agung, sun tan ngandêl basa swara.

22. Yen ora kalawan yêkti, yêktine wong sanggup sêtya, apa wani sira jêbeng, sun pêndhêm madyaning wana, lawase satus dina, yen wani sira satuhu, jumênêng Syeh Waliyullah.

23. Nêmbah matur Ki Mas Sahid, Kawula sumangga karsa, tan nêdya cidra Hyang Manon, sanadyan tumêkeng lena, kawula tan suminggah, Jêng Sunan nulya angrangkul, sarwi mesêm angandika.

24. Ingsun darmi angsung margi, mring sira Ki Syeh Malaya, satuhune sira dhewe, ing sakarsa-karsanira, anrima Ingkang Murba, heh murid sahabat gupuh, ki jêbeng karyakna luwang.

25. Samana Ki Jaka Tubin, pinêndhêm madyaning wana, wana Gêmbira namane, kang pinêtak wus tinilar, Jêng Sunan lajêng salat, mring Mêkah sakêdhap rawuh, bakdane salat Jumungah.

26. Nulya kondur panggih murid, pan lajêng nganglang buwana, ………………………………, …………………………….., ……………………….., ………………………………, …………………………………-

 

1. ……………………………………, …………………………….., ………………………………., …………………………., Ingkang kocapa malih, Kangjeng Sunan Benang iku, enget pendhemanira, putra ing Tuban rumiyin, Kangjeng Sunan alon denira ngandika.

2. Mring sahbat murid pinepak, kinen mbekta wadung kudi, Jeng Sunan nulya lumampah, aglis prapta ing wanadri, waringin wus kapanggih, ngrempoyok yode ngrembuyung, anulya binabadan, tinegor punang waringin, wus dhinudhuk pendheman putra ing Tuban.

3. Pinrenah amben-ambenan, lir gana warnane putih, binekta mantuk ing Benang, tan winarna aneng margi, wus prapta pondhok wukir, kinutugan sakul baru, emut Jaka ing Tuban, pepungun nulya ngabekti, glis rinangkul Ki Jaka mring Jeng Suhunan.

4. Langkung sih Jeng Sunan Benang, maring Ki Jaka ing Tubin, ingaken kadang taruna, pinanggihaken kang rayi, pinaringan kekasih, Syeh Malaya wus misuwur, panggihe tan winarna, sampun atut palakrami, Syeh Malaya andangu Jeng Sunan Benang.

Pangkur

1. …………………………………………, ……………………………….., ……………………………, kocapa putra Tuban, Syeh Malaya kang abrangta mring Hyang Agung, kalintang bêkti Hyang Suksma, tan tolih mring anak rabi.

2. Saenggon-enggon martapa, midêr ing rat aneng wana lan wukir, nênêpi guwa kang samun, keh guwa linêbêtan, mring pasantren sadaya jinajah sampun, wus tinarima mring Suksma, tan samar tingal kang gaib.

3. Samana ngidêri jagad, Syeh Malaya ngubêngi kang pasisir, wus prapta pasisir kidul, mênangi janma tapa, aneng guwa guwa Langse wastanipun, nênggih namane kang tapa, Syeh Maulana Maghribi.

4. Wus lami dennya martapa, aneng guwa tapakur tanpa muni, ngantos panjang remanipun, kukune ting carongot, datan nyandhang jarikipun ajur mumur, Syeh Malaya gawok mulat, kaelokaning Hyang Widdhi.

5. Mangkono osiking nala, luwih têmên kaelokaning Widdhi, kang tapa sandhange mumur, kuku remane panjang, tanpa mangan suprandene nora lampus, luwih têmên kinasihan, mring Hyang Suksma Kang Linuwih.

6. Ing ngêndi pinangkanira, kang martapa ragane den sakiti, kang tapa angling ing kalbu, unandikaning nala, Syeh Malaya aja ngrêgoni maringsun, tan kobêr nampani sira, lagi ngandikan Hyang Widdhi.

7. Syeh Malaya datan samar, ing osike kang tapa wus udadi, ngraos kasoran pandulu, kaluhuraning cipta, Syeh Malaya saking guwa nulya mundur, lêstati ing lampahira, nurut ereng-ereng wukir.

8. Wus lepas dennya lumampah, Syeh Malaya prapta ing Crêbon Nagri, kendêl aneng ing lêlurung, nuju marga prapatan, sêsareyan ambathang aneng lêlurung, dakare ngadêg lir naga, wong liwat merang ningali.

9. Katur mrang Pangeran Modhang, lamun wontên tiyang tilêm ing margi, kang dakar ngadêg kalangkung, Pangran nulya marentah, mring garwane kinen nggodha kang neng lurung, garwa sakawan tumandang, milih ingkang lindri manis.

Dandanggula 

1. Kawarna-a samana wus mijil, Prapteng lurung prênahing kang tapa, ginugah aneng ênggone, Sadalu neng lelurung, garwa catur anggodha sami, nanging datan rinasa, ingkang tapa turu, dakare malah anendra, amangkêrêt nggalinting langkung dennya lir, kang garwa mundur merang.

2. Prapteng Pura matur marang laki, tur uninga solahe anggodha, tan pêpayon panggodhane, malah dakar kang wungu, dadi alum sacabe aking, Jêng Pangran angandika, Yen Wali kang turu, Jêng Pangran apan tumindak, mring lêlurung ingiring kang para murid, prapteng nggon Syeh Malaya.

3. Uluk salam Pangeran duk prapti, Syeh Malaya nauri kang salam, nanging taksih eca sare, Jêng Pangran malah tunggu, aneng lurung angsal sapta ri, nulya wungu kang nendra, sêsalaman sampun, Syeh Malaya aris nabda, Sun aturu aneng ing marga puniki, tan idhêp yayi prapta.

4. Matur nuwun Pangran Wukirjati, Dhuh kakangmas suwawi katuran, mampir aneng jro kadhaton, Syeh Malaya lon muwus, Sun tarima sihira yayi, pun kakang mbujang lampah, apan arsa laju, anusul mring guruningwang, Panêmbahan Sunan Benang munggah kaji, lah wis kantuna mulya.

5. Syeh Malaya pan lajeng lumaris, Pangran Crêbon kondur mring kadhatwan, klintang ngungun jroning tyase, ya ta malih winuwus, Syeh Malaya kang arsa kaji, sampun nabrang sêgara, Pulo Upih rawuh, lampahe nulya kapapag, lawan Kangjêng Syeh Maulana Mahgribi, Syeh Mlaya tinakonan.

6. Heh ya jêbeng arsa mênyang ngêndi, dene sira anabrang sagara, Syeh Malaya alon ture, Manira arsa nglangut, maring Mêkah amunggah kaji, Angling Syeh Maulana, Bêbakal sireku, wong wus antuk kanugrahan, tingal padhang ciptanira pan wus dadi, arsa kaji mring Mêkah.

7. Basa Mêkah dudu Kakbah jati, Mêkah tiron têngêrane sela, kang gumantung tanpa centhel, iya tilasanipun, Nabi Ismail kala lair, Nabi Brahim kang yasa, sariat kang tinut, dene wong ahli Makripat, nut ing keblat Kakbah iku sale sami, asline Jati Suksma.

8. Ya wus aneng ing sira pribadi, Kang Linuwih Purba Amisesa, aneng sira paesane, pama ngilo sireku, ing carêmin katon kêkalih, Jatine mung Satunggal, Wayangan kadulu, Ana ndulu Wêwayangan, saking tan wruh marang ingkang ngilo carmin, lah jêbeng awangsula.

9. Syeh Malaya kascaryan sabdaning, asru mêndhak arsa ngaras pada, Sang Wiku njawat tangane, Syeh Maulana muwus, Aja nêmbah jêbeng tan kêni, sira padha lan ingwang, lan Wali Panutup, sagung kang Wali atapa, tan madhani brangtane marang Hyang Widdhi, lan wis ingsun tarima.

10. Syeh Malaya matur atanya ris, Tuwan pundi sintên kang pinudya, amba ayun andhêdherek, Ngandika Sang Awiku, Sun Syeh Maulana Maghribi, ngasrama Pamancingan, Arab asalingsun, aja susah melu mring wang, sira arsa anggêguru maring mami, Ki jêbeng ora kêna.

11. Lamun sira ora den lilani, marang gurunira kang kawitan, wênang sun mlambangi bae, Bêcik wong setya tuhu, Tinarima marang Hyang Widdhi, Tuhu amêrtapa-a, Aneng kali tunggu, Wot Galinggang aneng alas, Aneng alas ndhêkukuwa guruneki, Pêrak tanpa gêpokan.

12. Iya têbih tan wangênan nênggih, Nyatakêna den kanthi satmata, Yen karasa ing dheweke, lah uwis tuturingsun, Njawat tangan lajêng lumaris, Kascaryan Syeh Malaya, Kantun neng dêlangggung, Saksana uwit Galinggang, ……………………………., ………………………………………..

13. Satus dina kramatira mijil, kayu Glinggang ngrêmbuyung ronira, ngaubi nggenira sendhen, saking marma Hyang Agung, kayu mati sinendhen urip, wuwusên Sunan Benang, wau kang alangkung, anguwot aneng Galinggang, nulya mirsa kang rayi sare neng kali, winungu uluk salam.

14. Syeh Malaya kaget aningali, mring kang raka gupuh njawat asta, Jêng Sunan Benang wuwuse, Paran karsanireku, tapeng alas JAGA ing KALI, yen mangkono ta sira, sun wehi jêjuluk, SUSUHUNAN ING KALIJAGA, Para sahbat sadaya samya ngêstreni, Syeh Mlaya nama Sunan.

15. Wus kaiden sira aneng ngriki, adhêdhukuh aneng Kalijaga, garwane sinusulake, lamine tan winuwus, Sunan Benang milwa mbabadi, tumut karya pratapan, dhepoke apatut, wus mangkana Sunan Benang, angandika mring kang rayi Sunan Kali, Payo mring Giri Pura.

16. Kang ng-Lurahi sakeh Para Wali, Sunan Giri ya Prabhu Satmata, kang angreh Wali Jawane, payo nyuwun pangestu, Tur sandika Sinuhun Kali, tandya samya lumampah, pra murid tut pungkur, ing marga datan winarna, sampun lêrês Jêng Sunan dennya lumaris, prapteng Giri Kadhatwan.

17. Sampun cundhuk mring Suhunan Giri, tandya sami anjawat astanya, pêpak Para Wali kabeh, Jêng Sunan Benang muwus, mring kang raka Suhunan Giri, Kawula tut uninga, jangkêp Wali Wolu, pun adi ing Lepenjaga, kang jumênêng Wali Panutup ing Jawi, sinihan mring Hyang Suksma.

18. Sunan Giri angling angideni, jumênênge Sunan Kalijaga, mupakat Pra Wali kabeh, Jêng Sunan Kali matur, mring kang raka Benang Sang Yogi, Kawula nama Sunan, dereng angsal tuduh, amba nuwun pangawikan, Sunan Ampel ngandika barêng lan siwi, Lah nuli kawêjanga.

19. Sunan Benang anulya apamit, mring kang raka Sang Prabhu Satmata, tuwin mring Jêng Sunan Ampel, wus salaman gya mundur, lajêng njujug pakuwon masjid, Sunan Benang neng rawa, anitih pêrahu, lajêng Sunan Kalijaga, nunggil palwa dhuk anitih palwa alit, palwa rêmbês tinambal.

20. Sunan Benang angling mring kang rayi, Kae jêbeng rêmbês kang baita, popokên ing êndhut bae, Kang rayi glis anyakup, êndhut pinopokkên palwa glis, mantun rêmbês kang palwa, winêlahan sampun, baita sampun manêngah, sirêp janma marêngi purnama siddhi, Sunan Lepen winêjang.

21. Pamêjange sinêmon kang rayi, Damar mati yen mati urub-nya, urube nyangdi parane, Kang rayi aris matur, Kalêrêsan dennya nampeni, lêrês kang panggrahita, duk sarta kang wau, sinêksen marang Hyang Suksma, pratandhane sinihan marang Hyang Widdhi, coblong datanpa cahya.

22. Langkung nuwun Kangjêng Sunan Kali, atur sêmbah mawi ngaras pada, Jêng Sunan Benang sabdane, Yayi den awas emut, aja kongsi kawêdhar nglathi, Iku sabda larangan, yen kawêdhar ngrungu, mring sagunging kang tumitah, yen mangrêti dadi Manusa Sejati, Kapir Kupur Sampurna.

23. Nulya wonten cacing lur mangrêti, mring wangsite Sunan kang wasita, cacing katut lêmpung popok, duk Sunan Kali iku, ngambil êndhut katutan cacing, wor popoking baita, mangrêti kang sêmu, nulya ruwat dadya janma, aglis matur Kawula inggih mangrêti, ajênga puruhita.

24. Sunan Benang kagyat amiyarsi, ngandika Sapa ingkang angucap, dene tan katon warnane, Ponang cacing umatur, Kawula lur mangrêti wangsit, duk wau asasmita, tinampenan sêmu, sêmune Jati Manusa, pan kawula tumut tampi sewu wadi, ngraos dados kawula.

25. Sunan Benang angandika aris, Wus pasthine kodrating Hyang Suksma, cacing ngrungu dadi uwong, Mandi sabda Sang Wiku, Iya uwis tarima mami, sêtyanira maring wang, karsane Hyang Agung, datan kêna sumingkira, sêtyanira iya marang ingsun iki, arana SITI JÊNAR.

26. Ya arana SYEH LÊMAHBANG bêcik, de asale saka ing Lemahbang, Kang liningan tur sêmbahe, angling malih Sang Wiku, mring kang rayi, Susuhunan Kali, iku yayi pratandha, luwihing Hyang Agung, tan kêna kinayangapa, kaki sira duk durung winulang bangkit, sinihan ing Hyang Suksma.

27. Duk kalane sira arsa kaji, kinen wangsul mring Syeh Maulana, sira neng kali arane, tigang candra pan antuk, krasanira sakêdhap guling, yen aja sinêlira, pasti ajur mumur, yayi jiwaraganira, prabhawane sira brangta ing Hyang Widdhi, tanpa guru tindaknya.

28. Luhung yayi sira wus sinêlir, mring Hyang Suksma langgêng Ananira, badan tan langgêng anane, Urip tan kêna lampus, Urip datan ana nguripi, dunya prapteng akherat, langgêng Ananipun, sagung kang para Oliya, durung ana anyabrang sagara pati, patitis kaya sira.

29. Ingsun iki upamane yayi, ngadhêp madu aneng jroning gêdah, mung wêruh maya-mayane, durung wruh rasanipun, sun kêpingin kaya sireki, nyabrang sagara rahmat, yen kêna riningsun, ingsun yayi pirsakêna, basa lêmbu nusu ing anakireki, nggêguru marang sahbat.

30. Alon matur Kangjêng Sunan Kali, Pan sumangga ngaturkên kewala, marginipun gampil angel, tan kenging was ing kalbu, langkung rungsit dhêmit kang margi, Sigra madêg kalihan, Jêng Sunan manêkung, asta ngrangkul samya madya, suku jajar kêrêp katingal kang Jati, sakêdhap prapteng Mêkah.

31. Siti Jênar tumut anututi, nut ing guru ngadêg suku tunggal, mateni pancadriyane, sakêdhap netra rawuh, prapteng Mêkah anulya panggih, lan sagunging Waliyullah, ing Kakbatullahu, sagunging Wali sadaya, munggah Kakbah Wali Wolu sinung wangsit, kasanga Siti Jênar.

32. Wali Wolu wus wênang nimbangi, masjid Mêkah ginambar ing Dêmak, pinaring surat kutbahe, bakda jawat amantuk, Para Wali sakêdhap prapti, ing Jawa njujug Dêmak, anulya kapangguh, lan Dipati ing Bintara, Natapraja gupuh gupuh angaturi, Pra Wali nuli lênggah.

33. Adipati midêr angawaki, Para Wali pan asih sadaya, angsung pandonga luhure, Adipati jrih lulut, gung Pra Wali den kawulani, rinojong sakarsanya, pamangsulnya arum, sadaya samya nênêdha, mring Hyang Suksma tulusa Sang Adipati, mangkuwa ing rat Jawa.

34. Sunan Giri angandika aris, mring kang rayi Dipati Bintara, Yayi saosa kayune, kinarya masjid agung, Para Wali ingkang ngideni, anepa masjid Mekah, sira kang katêmpuh, angkat junjunge kang wrêksa, usuk sirap reng blandar lawan têtali, pangrêt lawan wuwungnya.

35. Sun tempuhkên maring sira yayi, dene kanca sagung Pra Oliya, sun bubuhi sêsakane, sagung kang saka guru, sun têmpuhken kang Para Wali, dene kang saka rawa, pra Mukmin sadarum, sun bubuhi saka rawa, kayu jati milihana kang prayogi, nuli padha ngambila.

36. Kang liningan sandika wot sari, Para Wali wus rêmbag sadaya, nulya bubar mring alase, pan sami ngambil kayu, Para Wali lan Para Mukmin, mring alas ting salêbar, na ngalor angidul, ana ngulon ana ngetan, kawarna-a lampahe Jêng Sunan Kali, wus prapta wana pringga.

37. Madik kayu lurusa kang uwit, tinêngêran kang badhe sêsaka, pan sakawan bubuhane, Jêng Sunan nulya ndulu, wontên kodhok ginondhol wêling, Kangjêng Sunan sang sabda, wijiling sabda HU, kang sarpa glêpeh mangsanya, kang canthoka ucul manculat atêbih, matur kang punang sarpa.

38. Punapa Jêng Susuhunan Gusti, ngandika HU hucul mangsan kula, de ta paran ing artine, Jêng Sunan ngandika rum, Ya HULUNEN mangsanireki, punang sarpa glis kesah, canthoka lon rawuh, muwus matur Punapa-a, ngandika HU luwar kawula asakit, langkung nuwun sih tuwan.

39. Lon nauri Kangjêng Sunan Kali, Artine HU HUCULA kang sarpa, aja mangsa salamine, Punang canthoka nuwun, Datan sagêd mangsuli kang sih, amung pakarya tuwan, arsa ngusung kayu, kula sagah ndhatêngna, mring Bintara yen sampun glondhongan Gusti, kawula kang ambêkta.

40. Kacarita Jêng Suhunan Kali, nulya lajêng denira lumampah, akapêthuk lan arine, Rasawulan Dyah Ayu, kang atapa ngidang wus lami, tan engêt ing wardaya, supe prajanipun, wus amor lan kidang sangsam, supe kadi cinêluk lumayu nggêndring, ngungun Kangjêng Suhunan.

41. Nulya tindak tan dangu kêpanggih, lan muride kang aran Ki Supa, turune Empu kinaot, angsal sih gurunipun, mila Supa sêkti linuwih, lan malih muridira, wong mukmin satuhu, Iman Sumantri wastanya, inggih sêkti kinasihane pan sami, binêkta mbujung kidang.

42. Kinen sangu kêpêlan sacêngkir, pan kinarya mbalang kang atapa, Jêng Sunan wangsul pan age, glis prapta prênahipun, kidang estri kang neng wanadri, Sang Rêtna Rasawulan, kêpanggih lumayu, binujung cinêgat-cêgat, binalangan kêpêlan sêga kaping tri, tutut nuli kacandhak.

43. Jaka Supa kang nyêkêl Sang Dewi, Rasawulan supe tanpa sinjang, budi cinêkêl astane, aglis nuli tinimbul, mring Jêng Sunan pinudya eling, bêntinge Jaka Supa, tinapihkên sampun, apan sampun kinêmbenan, mring Ki Supa Sang Rêtna cinêluk eling, eling manusanira.

44. Kangjêng Sunan Kali ngandika ris, Luwih bangêt ing tarimaningwang, sira bisa nyêkêlake, marang ing ariningsun, Rasawulan kang wus alali, mring kamanusanira, saiki wus emut, lawan sira wehi sandhang, iya sira mangkuwa Nagari Tubin, Supa karyanên krama.

45. Tur sandika Sang Rêtna ing Tubin, Kangjêng Sunan angatêring Tuban, datan winarna lampahe, Nagri Tuban wus rawuh, panggih Rama lan Ibuneki, Sang Dyah Rêtna Dumilah, asru tangisipun, rinangkul kang putra kênya, angarangkul marang putrane kêkalih, tan nyana maksih gêsang.

46. Dene titi lami tan kawarti, tata tita kang nangisi putra, kalih wus atur sêmbahe, mring Rama lawan Ibu, Sang Dipati ngandika aris, Dhuh nyawa putraningwang, ingsun pan wus sêpuh, sira aja lunga-lunga, ngadhêpana nagaranira ing Tubin, sun meh prapteng sêmaya.

47. Tur sandika Kangjêng Sunan Kali, nulya matur ngaturi pariksa, ing lampahe sarirane, katur sadayanipun, saking purwa wasana prapti, myang salahe arinya, katur Rama Ibu, langkung ngungun Ki Dipatya, myarsa atur kalintang ngêrêsing galih, dhumatêng ingkang putra.

48. Sang Dipati angandika aris, Luwarana kulup arinira, tumuliya ing dhaupe, lan Ki Supa puniku, tumuliya dhaupna nuli, lan rinta Rasawulan, Enggale wus dhaup, sampun panggih kang pangantyan, tan winarna panggihanira Sang Putri, atut apalakrama.

PEMBAHASAN:

Dari ke-dua cerita di atas tidak bisa dianggap sebagai cerita yang valid, tetapi bisa dibuat sebagai acuan. Pertama dalam cerita versi bahasa Indonesia maka pada awalnya R. Sahid memang orang yang berbudi-pekerti baik dan bisa dibilang sangat baik, karena mampu mengalahkan semua ke-egoan diri sendiri. Cerita itu menjadi tidak valid, karena hal itu. Tidak ada seorangpun anak Adipati yang mau dihukum begitu saja, sedangkan merasa dirinya benar.

Kemudian cerita tersebut membebankan semua kesalahan terhadap Negara Majapahit, yang sedang memungut pajak besar-besaran untuk keperluan Negara. Hal ini jelas sekali si pembuat cerita adalah orang yang tidak mengerti tentang Majapahit dan bahkan membencinya. Kebencian karena apa, bisa ditebak sendiri.

Dalam cerita versi Pupuh (Jawa) diceritakan dengan gamblang, bahwa R. Sahid pada masa kecilnya memang anak yang suka berpesta-pora layaknya orang-orang kaya. Dan hal ini adalah lebih masuk akal. Tetapi pada akhirnya bisa menyadari atas kekeliruanya dalam menempuh kehidupan, akhirnya bisa mengikuti jejak-jejak para ulama (pembawa ajaran Islam) dan bahkan akhirnya ilmunya dapat disejajarkan dengan mereka.

Beberapa hal lagi yang menjadi tidak masuk akal adalah guru R. Sahid sendiri Sunan Bonang. Dalam catatan saya Sunan Bonang, adalah anak dari Sunan Ampel dari istri Dewi Rosowulan (adik R. Sahid). Dengan ini cerita dibuat sangat muter-muter tidak berujung-pangkal. Tetapi dari crita yang manapun kita setuju bahwa R. Sahid (Sunan Kalijaga) mempunyai banyak andil di negri Nusantara ini:

  1. Berhasil meng-Islamkan raja Majapahit yaitu R. Kretabhumi (P. Brawijaya V)
  2. Berhasil mem-visualisasikan tokoh-tokoh dalam cerita Mahabarata dan Ramayana sehingga menjadi Wayang, sebagai salah satu warisan dunia.

Sebelumnya mohon maaf kepada yang tulisannya termuat disini, saya tidak bermaksud seperti itu. Tetapi saya sudah berusaha menyembunyikan identitas.

 

Tuhan-Tuhan Buatan Manusia dan Aturan-aturan Hidup Buatan manusia. Merdeka atau Terjajah.

Ketika manusia memperhatikan dirinya, memperhatikan manusia lain, memperhatikan alam semesta, dan kehidupan ini, dia akan sampai pada kesimpulan bahwa manusia, alam semesta, dan kehidupan ini semua diciptakan oleh Sang Khalik/Sang Pencipta, sedangkan semua yang diciptakan Sang Khalik disebut mahluk. Manusia sebagai salah satu mahluk yang diciptakan oleh Sang Khalik kemudian dapat dikelompokan menjadi dua golongan saja, yaitu golongan Manusia yang Taat dan golongan Manusia yang Maksiyat. Tanpa melihat suku, bangsa, warna kulit, gender, kekayaan, usia, derajat dll.

 

Taat atau maksiyat pada siapa?

Manusia akan taat pada Khalik-nya/Penciptanya, atau manusia akan bermaksiyat kepada Penciptanya sendiri. Taat atau maksiyat pada Penciptanya bagaimana?Manusia yangTaat tentunya mereka beriman kepada eksistensi/keberadaan Penciptanya, lalu mereka akan menjalani seluruh perintah/aturan yang berasal dari Penciptanya.

Manusia yg Maksiyat ada yang beriman kepada eksistensi/keberadaan Penciptanya, dan ada juga yang tidak beriman kepada eksistensi/keberadaan Penciptanya, mereka akan mengingkari sebagian atau mengingkari seluruh perintah/aturan yang berasal dari Penciptanya

 

Manusia akan taat atau akan maksiyat pada SangKhalik, siapa Sang Khalik?

Sang Khalik atau Sang Pencipta adalah Alloh Swt. Alloh Swt adalah Pencipta alam semesta beserta segala isinya. Sedangkan semua ciptaanNya disebut mahluk. Diantara mahluk ciptaan Alloh Swt yang sangat banyak, terdapat manusia, dan diantara manusia2 ini ada yang taat pada Khalik dan ada yang maksiyat.

 

Manusia akan taat atau maksiyat pada aturan2 Alloh Swt, apa itu aturan Alloh Swt?

Aturan Alloh Swt adalah aturan-aturan untuk menjalani kehidupan yang diciptakan oleh Alloh Swt. Aturan2 kehidupan ini dituangkan dalam bentuk Kitab-kitabNya yang disampaikan kepada seluruh manusia melalui para Nabi dan Rasul. Aturan ini bukan hanya urusan ritual saja. Aturan kehidupan ini mengatur manusia ketika berhubungan dengan Khaliknya, mengatur diri manusia itu sendiri, mengatur hubungan manusia dengan manusia lain, mengatur manusia dengan mahluk lainnya misalnya dengan binatang atau alam sekitarnya.

Para Nabi dan Rasul adalah penyampai dan penjelas mengenai aturan kehidupan ini agar dapat diterapkan oleh manusia saat menjalani kehidupan yang telah diciptakaan Alloh Swt. Aturan Alloh Swt yang terakhir dan paripurna adalah Islam (Syariat Islam) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.Aturan-aturan Alloh Swt inilah yang disikapi berbeda oleh manusia, yaitu ada yg mentaatinya dan ada yang mengkufurinya, baik sebagian atau seluruhnya.

Manusia yang Taat adalah yang beriman kepada Alloh Swt dan akan melaksan seluruh aturan Alloh Swt, sedang manusia yang Maksiyat bagaimana?

Manusia yang Maksiyat akan beriman atau ingkar total kepada keberadaan/eksistensi Alloh Swt, seraya mereka mentaati sebagian sambil mengkufuri sebagian ayat-ayat Alloh Swt, atau mengkufuri total seluruh ayat Alloh Swt.

Saat mereka mengkufuri keberadaan atau eksistensi Alloh Swt mereka akan membuat Tuhan-tuhan sesuai kesenangan mereka sendiri, sebagian malah mengangkat dirinya menjadi Tuhan atau mengangkat diri menjadi ‘para nabi dan rasul’. Tuhan-tuhan Buatan manusia inilah yang disebut Berhala. Para Pembuat Tuhan akan dikenal dengan istilah Thogut.

Tuhan-tuhan Buatan ini akan mereka simbolkan atau mereka bentuk dengan mahluk-mahluk ciptaan Alloh Swt, karena mereka tidak mau menyembah Alloh Swt. Ada yang dengan bentuk manusia, binatang, manusia campur binatang, atau benda-benda mati lainnya, seperti matahari, bulan, bintang, api, petir, pohon, angin, laut, batu dsb. Tuhan-tuhan ini akan mereka rangkum dalam bentuk simbol-simbol gambar, gambar timbul, patung-patung, panji/ bendera-bendera ,atau cerita-cerita/kisah-kisah baik tulisan atau film dewasa ini.

Setelah mereka membuat Tuhan-tuhan atau mengangkat diri menjadi Tuhan, manusia-manusia maksiyat ini akan membuat aturan-aturan hidup yang disenderkan pada Tuhan-tuhan buatan mereka. Akan lahir aturan dari Tuhan-tuhan mereka. Mereka akan berkata : “Ini adalah Aturan Tuhan”. Ini dikarenakan mereka mengkufuri sebagian atau mengkufuri total aturan-aturan Alloh Swt, mereka akan mengganti aturan-aturan Alloh Swt dengan aturan-aturan diluar aturan Alloh Swt. Aturan-aturan selain aturan Alloh Swt ini adalah aturan yang mereka reka sendiri sesuai hawa nafsu mereka. Mereka akan membuat aturan berdasarkan keinginan atau kesenangan mereka sendiri dan/atau berdasarkan manfaat sebesar-besarnya untuk mereka sendiri.Aturan Tuhan ini sebenarnya adalah aturan-aturan buatan Manusia Maksiyat itu sendiri, karena mereka sendiri yang membuat Tuhan-tuhan itu, atau karena mereka telah mengangkat diri menjadi Tuhan.

Akibatnya, manusia akan dihadapkan pada dua kenyataan yaitu Pertama, adanya Sang Khalik yaitu Alloh Swt yang bersanding dengan Tuhan-tuhan Buatan Manusia (Berhala) yang beragam nama dan bentuknya disesuaikan dengan pembuatnya.Lalu, Kedua, adanya Aturan Alloh Swt yang bersanding dengan Aturan Tuhan Buatan Manusia (Aturan Manusia) yang juga beragam sesuai para pembuatnya.Singkatnya, akan ada Alloh Swt Sang Khalik dengan Tuhan-tuhan lainnya buatan manusia, beserta Aturan Alloh Swt, dengan Aturan-aturan Manusia yang lahir dari Tuhan-tuhan buatan manusia.

Berikutnya, Tuhan-tuhan mereka ini beserta juga ‘aturan-aturan Tuhan’ akan mereka sebarkan ke seluruh penjuru dunia kepada manusia-manusia lain diluar dirinya atau diluar kelompoknya dengan segala cara mulai dari propaganda, penipuan, penyesatan, pemaksaan, ancaman-ancaman, sampai dengan perang dan penindasan agar manusia lain menerima dan mengikuti “Tuhan-tuhan mereka beserta Aturan-aturannya”.

Proses penyebaran dan pengadoptasian Tuhan-aturan dan aturan Tuhan inilah yang disebut dengan ‘penjajahan’. Karena melalui Tuhan-tuhan buatan beserta aturan-aturan Tuhan inilah manusia maksiyat pada akhirnya akan mengeruk manfaat sebesar-besarnya dari manusia lain, karena dibalik Tuhan dan aturan Tuhan, ini adalah hawa nafsu para manusia maksiyat.

 

 

Maksudnya penjajahan ?

Penjajahan adalah perampasan hak hidup manusia oleh manusia lain.hak hidup sebagian orang hilang diambil paksa oleh sekelompok orang lain. Hak hidup apa? Manusia akan kehilangan hak hidupnya, yaitu hak untuk hidup menyembah Alloh Swt yang menciptakan mereka, karena mereka dipaksa hidup menyembah Tuhan-Tuhan yang dibuat oleh manusia maksiyat.

Dan manusia akan kehilangan hak hidupnya untuk hidup dengan aturan hidup yang berasal dari Alloh Swt, Sang Pencipta Kehidupan, karena mereka sekarang harus hidup mengikuti aturan-aturan hidup yang berasal dari Tuhan-Tuhan buatan manusia, sedangkan aturan ini tidak lain dan tidak bukan hanya berisi keinginan-keinginan atau kehendak-kehendak hawa nafsu para manusia maksiyat. Sehingga bila manusia sebagai mahluk tidak hidup hanya menyembah Alloh Swt dan mentaati semua aturanNya, maka manusia akan terjebak ke dalam penyembahan mahluk terhadap/kepada mahluk. Karena Tuhan-tuhan buatan manusia atau berhala dengan aturan-aturan berhala tersebut, sesungguhnya adalah buatan para mahluk yang bermaksiyat kepada Khaliknya sendiri.

Jadi penjajahan adalah penyembahan mahluk kepada mahluk? Manusia sebagai mahluk wajib menyembah Penciptanya yaitu Alloh Swt.Manusia juga wajib hidup dengan aturan hidup yang berasal dari Sang Pencipta Kehidupan. Sedangkan penjajahan adalah penyembahan dengan paksa mahluk terhadap mahluk, dimanamanusia dipaksa menyembah Tuhan-tuhan buatan (berhala), bukan lagi penyembahan mahluk terhadap Khaliknya. Manusia juga dipaksa untuk mengikuti aturan berhala dengan dalih “atas nama Tuhan”, bukan lagi aturan-aturan Alloh Swt. Dibalik Tuhan buatan manusia berhala ini dengan segala aturannya adalah para manusia (mahluk) maksiyat.Maka, penjajahan adalah penyembahan mahluk terhadap mahluk.

 

Bukankah penjajahan itu perampasan wilayah dengan segala isinya?

Manusia-manusia maksiyat ingin memenuhi semua keinginan-keinginannya dan hawa nafsunya baik itu berasal wilayah mereka sendiri atau dari wilayah lain diluar wilayahnya, sehingga mereka akan merampas wilayah-wilayah lain diluar wilayahnya. Caranya adalah memaksakan peratruran-peraturan mereka apada manusia lain baik yang berada diwilayahnya atau yang berada di luar wilayahnya. Perampasan wilayah lain adalah logis dari sudut pandang penjajah, yaitu memenuhi hawa nafsu mereka.

 

Contoh dari Tuhan-tuhan buatan manusia atau contoh-contoh atauran buatan manusia apa saja?

Banyak, apa-apa saja yang dianggap Tuhan selain hanya Alloh Swt adalah Tuhan-tuhan buatan manusia. Tuhan-tuhan buatan manusia ini pasti bukan Alloh swt, tetapi mahluk-makhluk Alloh Swt yang diangkat sebagai Tuhan, karena yang pembuat Tuhan palsu ini adalah manusia-manusia yang ingkar kepada Alloh Swt. Maka, mahluk apa saja yang dipertuhankan karena dianggap punya kekuatan-kekuatan atau kesaktian-kesaktian diluar Alloh Swt adalah berhala, baik itu disimbolkan/dibentuk sebagai manusia-manisia, binatang-binatang, manusia campur binatang, atau benda-benda mati yang ada disekitar manusia dan yang berada di alam semesta ini.

Di India kita mengenal binatang sapi di sembah, ular disembah, juga gajah. Di Yunani kita mengenal manusia-manusia yang daianggap dewa baik laki atau perempuan, Di Cina pun sama. Di Jepang matahari disembah. Lalu di Mersir binatang kucing dianggap keramat, harimau serta singapun pun dijadikan berhala. Di tempat lain manusia menyembah petir, api, juga bintang-bintang bahkan UFO. Di Indonesia binatang burung dijadikan simbol negara, laut sebelah Selatan ditakuti, pohon beringin dijadikan simbol partai, begitu juga senjata keris dianggap mempunyai kekuatan, serta mata-mata air yang dipercaya membawa berkah. Agama-agama diluar Islam pun menuhankan dengan simbol manusia seperti Budha, Hindu juga Kristen pun Katolik juga Yahudi, semua penuh dengan symbol-simbol kemahlukan.

 

Contoh-contoh aturan-aturan buatan manusia?

Banyak. Semua aturan selain aturan yang berasal dari Alloh Swt yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul adalah aturan buatan manusia, apapun namanya. Aturan manusia ini selalu disenderkan kepada Tuhan-tuhan buatan manusia yang lahir dari manusia-manusia maksiyat itu sendiri. Hukum atau aturan manusia ini banyak bertentangan atau bertentangan seluruhnya dengan aturan yang berasal dari Alloh Swt, karena dibuat oleh orang-orang yang ingkar kepada sebagian atau seluruh aturan Alloh Swt.

Di tiap-tiap daerah kita mengenal hokum-hukum adat. Ini berarti ada manusia maksiyat di tiap daerah yang membuat hukum untuk wilayahnya masing-masing. Adat Sunda, adat Jawa, Adat Padang, dll. Di tiap negara kita mengenal hukum negara masing-masing. KUHP, UUD 45 contoh untuk wilayah Indonesia.

Lalu kita mengenal hokum-hukum yang bersifat International yang nilai-nilainya atau hokum-hukumnya akan dianut oleh sebagian besar wilayah dunia. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Emansipasi, Globailisasi, untuk wilayah International dsb, adalah contoh-contohnya. Untuk wilayah ritual kita kenal hukum Hindu, Budha, Yahudi, Kristen, Kejawen, dll.

Ketika terjadi perampasan wilayah baik itu wilayah daerah atau negara, maka daerah atau negara yang kalah harus(dipaksa) mengikuti atauran atau hukum si Pemenang, ini yang kita kenal sebagai Penjajahan. Kita mengenal 3G dari Kristen Gold, Glory, Gospel, rampas kekayaan daerahnya, berkuasa didaerah taklukan, lalu ganti agamanya menjadi Kristen.Kita mengenal juga Protokol Zion dari Yahudi, Indonesia menganut Hukum-hukum Belanda sampai sekarang. Budaya Barat disebarkan melalui 4F: Food, Fashion, Festival, Films atau 3S: Sex, Song, Sport melalui para tangan Kapitalis, dsb. Selain itu kita kenal para Dewan Perwakilan Rakyat yang membuat Undang-undang, juga para senator dengan tugas yang sama, yaitu membuat aturan hidup untuk para rakyat jajahannya.

Melihat contoh-contoh diatas, kalau begitu manusia sekarang dalam keadaan terjajah? Ya, karena manusia saat ini sedang dipaksa untuk menyembah Tuhan-tuhan buatan manusia beserta aturan-aturannya.

 

Bagaimana kalau begitu agar manusia merdeka?

Manusia harus meninggalkan seluruh Tuhan-tuhan buatan manusia lalu kembali menyembah hanya kepada Alloh Swt, dan manusia harus segera membuang seluruh aturan-aturan buatan manusia yang sedang berlaku sekarang dan kembali kepada hanya aturan Alloh Swt yaitu Syariat Islam.Maka manusia akan kembali menjadi hamba Alloh Swt bukan menghamba kepada sesama mahluk, merdeka dalam menyembah Alloh Swt dan melaksanakan semua aturan-aturanNya.

Tulisan ini jauh dari kata sempurna. Mohon masukan teman-teman semua, karena saya biasa berdiskusi panjang bukan, menulis panjang.

 

 

 

Patung Burung Garuda Pancasila dan Gempa 7 SR

Ketika terjadi Gempa 7 SR, Burung Garuda Pancasila tetap terpaku di dinding yg sedang bergetar hebat, dia tidak dapat terbang menyelamatkan dirinya karena sayapnya hanyalah kayu kaku. Kakinya tetap menggengam pita bertuliskan Bhineka Tunggal Ika, padahal ingin rasanya dengan kaki itu ia berlari, tapi sayang kakinyapun terbuat dari kayu kaku.

Dinding sebelah depannya rubuh duluan dari pada dinding tempat ia bertengger, debunya mengenai mukanya, ingin rasanya membalikkan muka untuk menghindar debu, apadaya lehernya pun dari kayu kaku. Akhirnya dinding tempat bertenggernya pu rubuh, Burung Garuda yang katanya sakti ikut jatuh bersamaan dengan tempat bertenggernya. ia tidak dapat berbuat apa-apa, ia jatuh dalam posisi telentang di lantai.

Beberapa sesaat kemudian sebuah batu besar jatuh kearahnya, mudah-mudahan tameng didadaku dapat menahan batu ini, kata Pancasila dalam hati (karena paruh dan lidahnya pun dari kayu kaku). Prakk!! Batu besar memecahkan Burung Garuda Pancasil hingga terpecah tiga, lehernya patah, dadanya belah, sayap kirinya entah mental kemana, kakinya retak besar menunggu menjadi patahan berikutnya…

Benda lemah hina inikah yang selalu dianggap simbol sakti oleh orang Indonesia? Lalu dimana Alloh Swt? Kenapa kita menduakan Alloh Swt? Kenapa kita membela  Patung Berhala? Kenapa kita tidak takut kepada Alloh Swt yang dengan mudah membuat Gempa 7 SR?

Waktu saya ke Cirebon beberapa waktu lalu, saya mampir sholat di Masjid Agung Cirebon. Ada yang aneh, di salah satu pintu keluar Masjid ada Kotak Kencleng bertuliskan AG Bank Artha Graha Cirebon. Oh rupanya “sumbangan” dari Bank itu yang ada di seberang jalan Masjid Agung. Bagaimana ini DKM Masjid Agung Cirebon? Menerima bantuan dari insititusi riba, padahal riba adalah sesuatu yang dilaknat keras oleh Alloh Swt. Hanya memandang manfaat bukan Syariat?

 

 

Jemaah Islamiah Liberal (JIL)

Muslimin tidak butuh jaminan Guntur Romli JIL terhadap Kafir Ahmadiyah…Alloh Swt sudah menjamin mereka ke Neraka kok. Orang Liberal JIL sekarang lagi kebanjiran order yah sebagai pembela dan juru damai kafir Ahmadiyah, nambah kapling di Neraka dong?

Besok-besok JIL itu akan berubah juga jadi JAL (Jaringan Ahmadiyah Liberal) lumayan lah diversifikasi usaha buat nabung di Neraka.

 

 

Lain-lain

Salah satu kebiasaan kita adalah suka menghiasi zahir kita sehingga orang tidak melihat kita dg penampilan yang buruk. Kita sering resah bila materi duniawi tidak terpenuhi tapi kita tidak bersedih bila iman kita berkurang. Kita berikan jiwa kita segala yang disukai tapi kita tidak menuntutnya melaksanakan hak-hak Allah. Kita takut pada penguasa & meremehkan penentangan pada Allah. Padahal ada perolehan yg lebih baik, takut kepada Allah & mencari keridhaanNya.

Beginilah sistem Pancasila yang Demokratis melayani si Miskin yang ingin berobat ke Rumah Sakit Umum. Fotokopi KTP, Kartu Keluarga, Surat Rujukan dari Dokter terkait, Surat Rujukan Puskesmas setempat, dulu malah sampai ke Biro statistik BPS. Pengantar RT/RW, Surat Keterangan Miskin dari KeLurahan dan Kecamatan (setelah disurvei dan disetujui kemiskinannya) semua rangkap 4 dan jangan lupa “amplop” untuk memperlancar segala surat-surat tsb.

Kenapa si mampu dapat bebas dari pe-rumit-an ini? Apakah salah ketika si mampu pun ingin mendapat Pelayanan Umum Gratis?

 

 

Seri Berpikir Singkat

Bagaimana angka-angka itu bisa menentukan nasib manusia? Angka 13 berarti sial, angka 8 atau angka 9 berarti beruntung atau baik, angka 4, berarti kematian, dst. Siapa mereka yang berani-berani menetapkan arti seperti itu? Dan banyak manusia percaya begitu saja.

Dua lempeng dunia bertemu bertumbukan di selatan Pulau Jawa, terbentuklah deretan pegunungan di Pulau Jawa dan palung/jurang dalam di bawah laut di Selatan Pulau Jawa. Arus air laut di banyak titik di Pantai Selatan Pulau Jawa mengalir ke dalam palung/jurang bawah laut itu sehingga menyebabkan banyak manusia hilang karena tersedot ke arah palung tersebut. Lalu apa hubungannya dengan Ratu Cantik Pantai Selatan Nyai Roro Kidul dan istana bawah lautnya? Rupanya ada pihak-pihak yang ingin berkuasa dan kaya dari dikarangnya cerita sang Nyai itu.

Menurut primbon tanggal sekian bulan dan tahun sekian itu adalah hari baik untuk melaksanakan pernikahan. Menurut primbon tanggal sekian bulan dan tahun sekian itu harus di hindari untuk memulai bisnis. Buku apa itu primbon? Siapa yang buat ketetapan-ketapan itu? Berdasarkan apa ketetapan-ketapan itu dibuat? Pertanyaan-pertanyaan itu belum dijawab tetapi manusia langsung mempercayainya.

Kalau posisi rumah/toko menghadap ke arah tertentu maka kehidupan/usaha akan lancar.

Kalau posisi rumah/toko menghadap ke arah lain maka kehidupan/usaha akan seret. Kalau bentuk depan rumah/ toko lebih kecil dan dari bagian belakang rumah/ took maka rejeki akan banyak tertampung. Kalau pintu dan jendela rumah itu pada posisi itu maka rumah tangga akan langgeng, dst. Hong Shui adalah kepercayaan animisme primitive, tapi anehnya diterapkan juga oleh mereka yang katanya insinyur dan arsitek modern.

Pola kerja Dukun pada korban-korbannya: memberikan harapan, membuat penasaran, mengancam, menjerat dan mencengkram, duit. Tetapi masih banyak manusia yang percaya.

Keris-keris dimandikan, diberi sesaji, didoakan, diarak. Padahal keris itu hanya terbuat dari bentukan logam besi. Kalau begitu, mandikan juga palu, paku, gegep, obeng, sepeda, mobil, dan jembatan besi. Toh dibentuk dari bahan yang sama, yaitu logam besi.

Imbangi berjalan ke Mall/Mart, Waterboom, Hotel, Resto dengan berkunjung ke Rumah Sakit dan kuburan agar dapat bersyukur.

Ketika upacara bendera digelar, maka dapat diperhatikan 3 isu sentral: pembina/inspektur upacara, bendera, peserta upacara. Yang harus diperhatikan, ketika Pembina/inspektur upacara memerintahkan menghormat bendera kepada segenap peserta upacara, kepada siapakah sebenarnya peserta upacara tunduk? Tunduk pada Pembina/inspektur upacara yang memberi perintah manusia untuk menghormat benda mati? Atau kepada bendera yang berupa helaian kain benda mati?

Wilayah abu-abu itu tidak ada. Yang ada hanya wilayah hitam dan wilayah putih. Yang mengaku dari wilayah abu-abu itu adalah mereka yang berasal dari wilayah hitam tetapi ingin terlihat dari wilayah putih.

Ketika musuh mengembangkan Bom Nuklir, Bom Fosfor, Bom Kimia, Rudal-rudal by laser/satelite guide, malah Bom Sonar, seharusnya kita menyiapkan diri dengan senjata yang sama selevel dengan para musuh dan lebih baik bila level teknologi persenjataan kita diatas musuh. Tetapi kenapa masih ada orang yang percaya akah mistisnya senjata keris? Keris lawan Nuklir?

Jangan hanya melihat ke arah Real Estate, apartment, Condo atau Lapang Golf. Coba pandang juga ke bantaran sungai, bantaran rel, gang sempit nan becek, kampung kumuh dan kolong jembatan, agar pikiran menjadi luas tidak hanya memikirkan diri sendiri.

Harga emas Rp100ribu/gr, lalu jadi Rp250ribu/gr, kemudian Rp350ribu/gr dan terus ke Rp450ribu/gr. Apakah harga emas naik? Tidak! Harga emas adalah tetap, yang sebenarnya terjadi ialah nilai uang Rupiah yang turun terhadap emas. Nilai uang kertas terhadap emas diseluruh dunia terus turun melemah terhadap emas. Ini karena sistem ribawi, sistem uang kertas, transaksi non riil judi valas/forex dll. Ini adalah sistem ekonomi liberal yang gagal. Mau beli emas Rp1 juta/gr besok-besok?

Silahken bicara apaaaa saja pada orang-orang bodoh. Mereka akan menerima saja tanpa menyanggahnya. Makanya para Penguasa dzolim akan terus menerus memelihara kebodohan rakyatnya, agar tetap dapat menjajah mereka, toh mereka tidak sadar sedang ditindas.

Manusia mau pergi kemana? Pertanyaan sederhana yang akan dijawab berbeda oleh setiap orang. Jawaban akan tergantung pada tinggi rendahnya seseorang dalam memandang hidup.

Ketika upacara bendera digelar, Pembina/inspektur/komandan upacara memerintahkan menghormat bendera kepada segenap peserta upacara. Bukankah lebih baik kita beri hormat saja pada Pembina/inspektur/komandan upacara yang manusia daripada menghormat bendera yang berupa helaian kain benda mati? Siapa yang lebih tinggi derajatnya, manusia atau benda mati? Tetapi bagaimana sebenarnya derajat manusia yang memerintahkan manusia lain untuk menghormat benda mati? Derajatnya lebih rendah dari benda mati.

Bermuka ramah, tersenyum lebar, berkata-kata menyejukkan, memberi perhatian kepada mereka yang menjadi konsumennya, karena konsumen adalah Raja. Bagaimana kalau mereka sedang tidak jadi konsumen? Itulah kosep menjilat dan berpura-pura baik ala kapitalisme. Islam mengajarkan agar bersikap sama baiknya kepada setiap manusia tanpa melihat kondisi apakah mereka konsumen atau bukan.

Agama A membuat patung A, kepercayaan B membuat patung B, keyakinan C membuat patung C, dst. Lalu pemuka agama mereka masing-masing menyuruh umatnya menyembah patung-patung itu. Maka umat A tidak akan menyembah patung B, umat B tidak akan menyembah patung C, dst. Kenapa mereka tidak mau menyembah patung yang berbeda? Padahal sebenarnya patung A, B dan C dibuat dari bahan yang sama yang itu-itu juga. Kalau tidak kayu, batu, pasir campur semen atau logam-logam, cuma berbeda bentuk.

Ketika Sang Khalik memerintah untuk berpaling dari amalan mereka yang menyimpang, mereka akan bicara saat ini kita berbuat adalah sesuai kebiasaan Nenek Moyang, warisan para Leluhur, orang-tua kita, Karuhun, para pendahulu kita. Padahal sebenarnya, Nenek Moyang, Leluhur, Karuhun dsbnya adalah diri mereka itu sendiri. Hanya mereka terlalu pengecut untuk mengakui kesalahan-kesalahannya juga karena terganggu kesenangannya dan pundi-pundi uangnya. Makanya mereka bersembunyi dibalik nama  Nenek Moyang, Leluhur, Karuhun dan para Pendahulu.

Mereka menyembah patung yang terbuat dari batu, dari kayu, semen, logam. Mereka lakukan penyembahan itu ditengah hingar bingar tehnologi jaringan internet 4G, laptop, i pad, tablet, dll. Dari segi benda, teknologi elektronik itu lebih banyak manfaatnya daripada batu, kayu, semen, atau logam yang dibentuk tuhan. Memberi manfaat apa patung-patung itu? Kenapa tidak disembah gadget-gadget itu sekalian?

Menghormat bendera yang benda mati itu pasti ada pencetusnya. Kemudian mereka mendikte manusia untuk menghormat benda mati dengan semua cerita patriotik bombastis terkait benda mati bendera itu yang tentunya mereka Sang Pencetus yang membuatnya sendiri. Aneh, banyak orang yang terdikte untuk menghormat benda mati itu. Sang Pencetus pun manggut-manggut senang. Ah mereka mau saja mentaati kata-kata kita walau disuruh menghormat benda mati sekalipun, ujar mereka. Kita menguasai mereka, tambahnya.

Sebuah paku 4cm tergeletak melintang di tengah jalan. Seseorang melihatnya. Pilihan ada ditangannya apakah akan menyingkirkan paku itu atau berlalu cuek saja. Bagaima kalau sekian menit kemudian dijalan itu akan lewat sebuah mobil yang mengantar seorang Ibu yang akan melahirkan, atau mobil Pemadam Kebakaran yang akan bertugas, atau seseorang yang sedang mengejar dead line? Manusia sering meremehkan amalan kecil, padahal setiap amalan akan memiliki chain reaction yang dia tidak tahu ke depannya seperti apa.

Sebuah baut di ban mobil Ferrari, orang banyak yang meremehkannya. Bagaimana jadinya bila baut itu terlepas dari ban pada mobil yang dapat dipacu sampai dengan kecepatan 350 km/jam? Orang sering tidak bersyukur ketika dirinya hanya menjadi “baut ban” pada sebuah mobil Ferrari. Padahal kehidupan itu adalah sebuah sistem yang saling kait mengkait…

Dari seberang sana manusia berkeyakinan bahwa ketika manusia banyak berkumpul maka manusia dapat menetapkan kebenaran. Bagaimana manusia dapat menetapkan kebenaran? Manusia itu lemah dan terbatas walau berkumpul sebanyak-banyaknya tidak menjadikan mereka kuat dan menetapkan kebenaran. Dapatkah manusia membuat diri mereka sendiri apalagi membuat alam semesta dan kehidupan? Anehnya, ide mereka itu diterima disini.

Aturan yg berkaitan dengan patung-patung yg sekarang disembah sebagian manusia adalah aturan-aturan yg dibuat & berasal dari para pencetus patung itu. Para pencetus patung berlindung di balik patung yg dibuatnya. Maka ketika manusia taat pada peraturan yg berkaitan dgn patung-patung itu. Sebenarnya manusia sdg mentaati peraturan atau keinginan-keinginan Sang Pencetus patung. Dan masih banyak manusia yang tertipu.

Saya yang benar, kami yang paling benar. Semua meyakini diri atau kelompoknya yang benar, padahal kebenaran itu harus hanya satu, bukan banyak. Melalui pengamatan fakta dan perantaraan akal yang dirangkai dengan informasi, nilai, atau standard yang berasal dan yang bersumber dari Dzat Yang Maha Benar, maka manusia akan menemukan kebenaran yang haqiki.

Ketika manusia mengimani keberadaan Alloh Swt yg tidak terlihat mata, manusia akan memiliki tataran kesadaran baru mulai dari kesadarn indivdu, social & Negara. Maka pegawai tidak perlu ditatap Boss supaya bekerja baik, pelajar/mahasiswa tidak menyontek, tidak perlu pedagang mengurangi timbangan, pembohong akan belajar jujur, Pemerintah melayani rakyatnya bukan menipunya. Karena semua manusia sadar bahwa Alloh Swt Maha Melihat. Sudahkah kita?

Kulit putih,langsing,tinggi smampai,rambut htam lurus,wajah merah mrona,kulit kencang mulus tanpa bulu,payudara&bokong besar adl standar cantik wanita saat ini.Standar siapakh ini? Rupany nilai in dbentuk o/Prdusen Kapitals yg mmbuat prduk2 yg brhubungn dg wanita.Spy produk laku mrk mncuci otak wnita dg nilai mrk itu.Apkh nilai2 in akn trus diikuti?Bukankh wanita sholehah itu adl sbaik2ny prhiasan dunia?

Prhatikn bentuk tubuh manusia lalu prhatikn bntk tubuh ular,prhatikan ikan lalu burung,gajah,laba2,lintah,ubur2,kalajengking,jerapah dstMahluk2 tsb mmiliki prbedaan bntuk yg sngat kontrasYg mperhatikn kragamn ini harusny trgugah brpikir hingga pd ksimpuln bhw smuanya dciptakn oleh Sang KhalikSayang msh bnyk mnusia yg sombong krn kbodohanny u/mngakui kberadaan Sang Khalik dn taat pd syariatNya

Bebatuan dipinggir jalan, siapa yang melirik? Tapi begitu batu-batu itu di bentuk menjadi tuhan-tuhan oleh pengrajin patung, ditaruh di tempat ibadah, lalu disertakan cerita ketuhanan karangan si pemesan patung, aneh, manusia segera menyembahnya. Padahal patung tuhan-tuhan itu berasal dari bebatuan yang dipinggir jalan…

Manusia sering berbuat sesuatu hanya utk orang lain..Berbuat baik utk dipuji orang lain..membeli barang2 supaya diperhitungkan orang lain..menolong agar dihargai orang lain..banyak berbicara utk dipandang orang lain..berprestasi supaya mengundang decak kagum orang lain..malah keinginan diri di selaraskan dngn orang lain..lalu..apakah manusia sudah mempersembahkan sesuatu utk Sang Khalik semata..atau..jangan-jaringan itupun supaya dinilai orang lain? Mau sampai kapan?

Makanan minuman yg halal, saat Ramadhon saat siang tiba2 haram krn perintah Alloh Swt..lalu yg siang td haram saat malam halal lg..lalu jd haram lg disiang esokny dn jd halal lg saat malamny..bgtu trus slama 1 bln penuh..prubahan stat halal haram yg drastis trjadi stiap hr saat Ramadhon..sharusny lepas Ramadhon yg sdh jelas haramny dn tdk akan brubah jd halal sperti umbar aurat..riba Bank..Judi valas forex..aturan2 demokrasi dst akan mudah dtolak..siapkah qta jd orang brtaqwa?

Sikap sseorang ktk mrasa ada yg mngawasiny akn brbeda dgn sikap sseorang yg mrasa bebas dr pngawasn,apkah murid saat ujian dg adany Pengawas…Maling mau maling rumah yg brkamera CCTV dg rumah yg tanpa pngamanan..atw Bawahan saat Boss ada atw saat Boss pergi..dstKetika sseorang mngimani kberadaan Sang Khalik yg tdk trlihat mata..maka sikap nya akn brbeda dg manusia yg tdk mpercayai Sang Penciptanya sendiri..Lalu qta mau berurusan dg manusia yg mana…yg briman atau yg kufur?

Manusia licik mbuat tuhan2..mbuat agama2 palsu..mbuat aturan hidup u/ bkuasa..Bsembunyi dbalik tuhan&agama buatan mrk u mnipu mnusia lain mrusak alam dg aturn buatan mrk sndiri a/n tuhan&agama buatan mrk sndir mdikte mnusia myembah tuhan2 yg mrk bentuk dg sgl bentuk..Hnya kmbali dg kberpikirn..prenungn yg mdalam,pmaksimaln akal dg mperhatikn fakta hidup,akn mgeluarkn mnusia keluar dr pyembahn manusia thadap mnusia kpd pyembahn sejati mnusia kpd Sang Khalik Pencipta mnusia&alam semesta

Bebijian yg benda mati…dilempar ke tanah yg benda mati…di siram dengan air yg benda mati…lalu biji itu hidup…!! Tumbuh kembang mjadi tanaman baru&siap mjadi bakal tanaman berikutnya dan mjadi bahan bagi kehidupan mahluk lainny trmasuk manusia..Siapakah yg mghidupkannya kalau bukan Sang Khalik Pencipta Alam Semesta..? Lalu kenapa manusia masih myembah dan mbela patung2 yg dipajang/digantung yg dibuat dari benda mati&tidak pernah akan dapat hidup?

Konsekuensi penyembahan adalah taat pada aturan…Sekiranya menyembah pada Sang Khalik…maka kita harus taat pada seluruh aturan-Nya…Atau jangan-jangan kita sedang menyembah manusia…karena mematuhi aturan-aturan buatan manusia dan tidak taat pada aturan Sang Khalik…??Sekarang kita sedang menyembah siapa?

Mustahil Sang Khalik hny mbuat aturan bgmn manusia myembah-Nya saja&tidak mbuat aturan hidup brmasyarakat s/d mngurus negara jg sumber daya alamny…krn mnusia yg brinteraksi dg ssamanya mulai dr kluarga,msyarakat&negara hidup di alam ini.Smuany adlh ciptaan Sang Khalik.Tdk mngkn ada ciptaan tanpa aturan.Jadi tdk ada tmpat u manusia mbuat aturan hidup krn khidupan ini adlh ciptaan Sang Khalik bukan ciptaan manusia.Manusia hny tinggal mlaksanakn aturn hidup dr Sang Khalik

Seorang misal mpunyai ilmu/skill dg nilai 40 ia brbuat salah 50x shari,lalu ia ikut pelatihan.Usai latihn ia ilmuny brnilai 60 &mlakukn ksalahan 35x shari,mk platihn it bhasil utkny.Tapi bila usai platihn ilmu&skill tidak btambah dn kesalahan tdak bkurang,maka tujuan platihan gagal diraihnya.Apalgi kl ksalahn brtambah banyak.Mari instropeksi diri lalu prhatikan jg msyarakat dn negara ini,apkah khidupan smakin baik? Kejahatan brkurang atau tetap atau malah brtambah? Berhasilkh?

Orang-orang Kafir yang ingkar kepada Alloh Swt itu adalah ciptaan Alloh Swt. Memangnya mereka ciptaan gambar atau patung-patung berhala yang mereka sembah itu?

Ketika seorang dihadapkan pada satu masalah yang ditanggapi berbeda oleh 2 belah pihak/kubu, maka seharusnya ia cerdas untuk mencari mana yang benar, bukan hanya ikut-ikutan, karena tidak mungkin ada dua kebenaran. Kebenaran itu cuma satu, tidak lebih. Pada akhirnya ia akan mengambil keputusan yang sesuai dengan salah satu pihak atau kubu, tetapi ia telah mengambil keputusan melalui usaha mencari kebenaran, bukan ikut-ikutan.

Sikap seorang yg mpunyai tujuan akan bbeda dg orang yg tidak brtujuan.Yg btujuan akan bsiap diri dg bekal pjalanan, pelajari peta atw alamat tujuan, bpikir bgmn sampai dsana, taat aturan djalan spy slamatd tujuan.Yg tidak bertujuan, hal-hal persiapan dsb-nya tidak akn dpikirkn, semuanya sesuka hati, pergi tdak pergi sama saja.Apalgi kalo tujuany adalah Kampung Akhirat? Akn terrlihat perbedaan antr sikap orang yg myakini hari akhir dgn yg tdk percaya. Kita mau berurusan dgn kelompok yg mana?

Para Pemilah Ketaatan. Mereka akan taat bdasarkn waktu tertentu, misal taat saat Ramadhon, maksiyat sesudahnya.  Mereka taat melihat tempat, taat di masjid atau di Mekkah, di luarnya kembali maksiyat. Mereka taat sesuai kondisi, ketika sempit mdadak taat, pas lapang banyak maksiyat. Mrk taat kalo ada manfaat, misalnya kumpul zakat siap jd panitia, waktu ada seruan jihad entah kemana. Mereka memilah sebagian ayat-ayat aturan & larangan, padahal Alloh Swt akan meminta pertanggungjawaban semua aturanNya. Kenapa setengah-setengah?

Sang Khalik Alloh Swt menciptakan mahluk manusia dan menetapkan aturan baginya. Barang siapa yang mentaati aturan tersebut maka ia adalah mahluk manusia seutuhnya. Sayang, banyak manusia yang mengingkarinya. Maka ia bukanlah mahluk manusia walaupun berbentuk manusia. Ia dapat turun ke derajat lebih rendah dari binatang ternak.

Manusia itu mahluk ciptaan yang tidak dapat mencipta. Mencipta adalah hak Sang Khalik mengadakan dari yang tidak ada, tanpa bahan, tanpa sarana apapun, tanpa bantuan siapapun, tanpa persetujuan siapapun. Manusia hanya dapat mengolah hasil ciptaan yang sudah ada dari Sang Khalik, mengkombinasikannya, dst. Contohnya mengolah nasi dari tanaman padi yang sudah disediakan tanahnya, airnya, udarannya, sinar mataharinya dst. Membuat rumah, jalan, pesawat, dll, dari bahan yang sudah ada di alam ini dengan kecerdasan yang sudah dititipkan. Manusia yang tidak mampu mencipta tapi kemudian membuat kerusakan ciptaan di daratan dan dilautan dengan kerakusannya, dikarenakan manusia berjalan dengan melepaskan diri dari aturan mengenai seluruh ciptaan Sang Khalik.

Ban mobil itu bukan mobil, tapi bicara mobil pasti harus membahas ban mobil. Akan berbeda orang yang cuma tahu ban mobil tanpa paham (atau tidak mau paham) mobil secara utuh, dengan orang yang sudah memahami mobil secara sistematis kemudian mengambil spesialisasi ban mobil. Apakah kita akan mempercayai orang yang paham setengah-setengah atau orang yang sudah memahami keseluruhan system sambil mengambil spesialisasi? Atau jangan-jangan kita ini termasuk orang berpikir dengan cara setengah-setengah, menerima sebagian sambil menolak sebagian yang lain?  

Patung adalah benda mati, ia tidak sedikitpun dapat melangkah dari tempat ia dipancang atau dipaku, ia kaku. Tetapi begitu banyak aturan hidup yang berasal dan berkaitan dengan patung-patung kaku ini. Sekali lagi, mana mungkin patung kaku dapat membuat aturan hidup, menoleh saja ia tidak mampu. Lalu dari mana aturan hidup itu berasal? Rupanya dari manusia-manusia para Pencetus Patung kaku itu. Mereka ingin meguasai dan ingin disembah manusia lain sambil berlindung di belakang patung kaku yang mereka cetuskan dan mereka bentuk.

Seorang dapat dikatakan memiliki pemikiran yang tinggi ketika ia tidak hanya memikirkan diri sendirinya lagim ia memikirkan orang lain, saudaranya, tetangganya, sahabat-sahabatnya, masyarakat, Negara, sampai dunia ia juga memikirkan alam sekitar tanaman, binatang, tanahm, air, rumput, energy dan sumber-sumbernya dll. Maka dari itu ketika seorang hanya memikirkan dirinya, ia dikatakan berpikiran rendah, walaupun pada saat itu ia dapat menahan diri untuk tidak mengambil hak orang lain. Hinalah seseorang ketika ia tidak pernah memikirkan orang lain, dll, kecuali dirinya sendiri, sambil merampok dan merugikan hak hidup orang lain, merusak alam semesta dan menghancurkan peradaban? Di kelompok manakah kita berada?  

Sekiranya dapat melihat dan membaca Seri Berpikir Singkat yang terakhir ini, siapakah yang memberi penglihatan ini, apakah Alloh Swt, atau patung-patung kaku yang dibentuk dari benda mati itu? Mengapa mereka masih mempertuhankan dan tetap berhukum pada aturan Patung yang tidak bisa melihat, apalagi memberi penglihatan, bukan berhukum kepada aturan Alloh Swt yang telah memberi mereka penglihatan?

 

 

Keris apa hubungannya dengan Maulid Nabi?

Keris, tombak, benda-benda pusaka, dll dikeluarkan, dimandikan, diarak, terus dimasukkan kembali ke tempatnya sampai tahun depan. Lalu proses itu diulang lagi, begitu seterusnya. (Apa itu benda pusaka?)

Benda-benda mati itu dikemas dengan cerita-cerita ghoib, sakti mandraguna, suci, berkemampuan supranatural, dst sehingga membuat yang (terjebak) percaya kepadanya akan “menuhankan” benda-benda mati tsb (dan pastinya tunduk pada si pembuat cerita-cerita bohong tsb). Itulah fenomena pembodohan yang terjadi, demi melanggengkan kekuasaan yang tinggal sehelai demi helai pada sisa-sisa kesultanan di (sebagian) tanah Jawa. Dan kelicikan mereka bertambah-tambah dengan menambal sulam kekusaan mereka dengan mengambil Islam (hanya sebagian-sebagian saja) untuk terus menjaga kekuasaan mereka karena sebagian besar pengikutnya sudah meninggalkan animisme yang selama ini mereka andalkan kerena hijrah ke jalan Islam dan untuk tetap mempertahankan “pasar” mereka itu, maka Islam pun dimanfaatkan. Salah satunya yang menonjol adalah Tahun Baru Islam/Satu Muharam/Satu Syuro dan Maulid Nabi.

Islam turun untuk menghancurkan segala kebodohan, keberhalaan, penjajahan manusia terhadap manusia, penuhanan manusia selain kepada Sang Khalik. Islam turun agar manusia kembali menuhankan Alloh Swt sebagai satu-satunya Tuhan yang layak disembah melalui perantaraan para Nabi dan Rasul, terutama Rasul terakhir Muhammad Saw.

Tetapi manusia-manusia licik itu hanya menggunakan Islam untuk terus melanjutkan kebodohan, keberhalaan dan penyembahan manusia terhadap mereka para Penguasa Dzolim, dengan menjual ayat-ayat Alloh Swt dengan harga murah. Mencampuradukkan Islam dengan nilai-nilai dan aturan hina buatan mereka sendiri. Sekali lagi hanya untuk mempertahan kekuasaan mereka yang durjana.

Masihkah akan ikut-ikutan perayaan-perayaan buatan mereka yang sudah tidak ada relasinya dengan Islam? Keris-keris yang benda-benda mati itu, apa hubungannnya dengan Maulud Nabi?  Lebih hina lagi adalah perebutan najis/tahi Kerbau Putih pada perayaan Satu Syuro, apalagi hubungannya dengan penganggalan Islam, kalau bukan hanya cerita-cerita bohong rekayasa Penguasa Dzolim. Dan semua ini didiamkan saja oleh Patung Berhala yang lebih besar yaitu Burung Durjana Pancasila. 3

 

Apakah kita akan menitipkan uang kita pada orang yang baru pertama kita lihat (kenal pun tidak)?

Apakah kita akan menitipkan Hp atau laptop kita pada orang yang baru kita lihat (kenal pun tidak)?

Apakah kita akan menitipkan kendaraan kita pada orang yang baru kita lihat (kenal pun tidak)?

Apakah kita akan menitipkan rumah kita kita pada orang yang baru kita lihat (kenal pun tidak)?

Apakah kita akan menitipkan keluarga kita pada orang yang baru kita lihat (kenal pun tidak)?

Tapi kenapa kita begitu mudah menitipkan hidup kita, mewakilkan hidup kita pada orang-orang yang baru kita lihat hanya dari papan kampanye, yang kenal pun tidak, kepada mereka yg sok akan menjadi wakil hidup kita, penyelamat, pemberi kesejahteraan, melayani, mengayomi, dan segala bahasa yg membiusnya agar kita memilih mereka (yang sekali lagi kita tidak sama sekali kenal dengan mereka kecuali lewat papan dan media kampanye)?

Dan terbukti (berulang-berulang) mereka itu akhirnya memang menipu umat/rakyat yang memilihnya. Mereka tidak mewakili, tidak melayani, tidak melindungi, tidak mensejahterakan seperti yang mereka janjikan dahulu. Apakah kehidupan rakyat lebih baik setelah mereka terpilih?

Terbukti setelah menyapa umat saat kampanye, mereka hilang entah kemana, malah asik korupsi memperkaya diri dengan segala kemewahan tanpa ingat (dan berniat) mewakili dan mengurus umat yang (terjebak) memilihnya kecuali hanya melayani majikan-majikan mereka yang menjadi sponsornya ketika kampanye. Dan kemudian akan mengulang aksinya kembali kembali mendekati umat, untuk memperkaya dirimereka sendiri lagi, dan menipu umat lagi.

Kini, gambar-gambar mereka sudah terpampang dimana-mana dengan senyum dan slogan licik khas para pegiat demokrasi. Masihkah kita akan percaya dengan mereka yang selalu umbar janji tanpa bukti? Inilah Pancasila yg katanya Demokratis sakti mandraguna (dalam menipu umat)? Masih akan ikut memilih dan tertipu lagi?

 

 

Pecah Belah Muslim Indonesia dengan Malaysia melalui kasus hilangnya organ tubuh pada mayat TKI yang meninggal di Malaysia.

Kok di blow up kasus ini? Kasus hilangnya organ tubuh pada mayat di Indonesia untuk dijual juga banyak kok, malah kasus penculikan hidup-hidup lalu diambil organ tubuhnya juga banyak. Lalu saya ngobrol langsung sama Mahasiswa yang sedang kuliah Otopsi dimana mereka bisa harus membeli mayat tanpa identitas untuk kuliah praktek yg seharusnya mayat ini di urus oleh Negara tapi justru dijual Rumah Sakit Pemerintah Pancasila Berhala sebagai tambahan pendapatan mereka. Dan berbagai kejahatan lainnya yang terjadi di Indonesia sini.

TKI itu pergi keluar negri akibat Pancasila Patung Berhala tidak mengurus kesejahteraan rakyatnya ditanah airnya sendiri kok, kalau sudah sejahtera disini ngapain jauh-jauh keluar negri? Lalu lucunya kenapa justru cuma menyalahkan Malaysia yang tidak bisa urus TKI, emang Pancasila sudah urus kesejahteran rakyatnya disini?  

Selain memecah belah Muslim Indonesia dengan Malaysia, kasus ini sekaligus mengalihkan isu video porno DPR (yang kesekian kalinya) atau Geng motor yang dibecking-i aparat (kenapa Geng motor tidak ditembak mati Densus 88 yang tukang nembakin orang yang baru DISANGKA sbg teroris) atau kasus bentrok rebutan jatah wilayah antar Polisi dan TNI (yang harusnya mengamankan rakyat) atau kasus yang menyeret istri si Anas Demokrat. Inilah wajah Burung Pancasila si Patung Berhala Sakti Indonesia. Masih betah?

Jangan sebut Ahmadiyah itu: Islam Ahmadiyah. Karena Ahmadiyah itu bukan Islam.

Jangan sebut Sufi itu: Islam Sufi. Karena Sufi dengan Tasawuf-nya itu bukan Islam.

Jangan sebut Syi’ah itu: Islam Syi’ah. Karena Syi’ah itu bukan Islam.

Jangan sebut Jaringan Islam Liberal ( JIL ) itu: Islam Liberal. Karena JIL itu bukan Islam.

Jangan sebut Pancasila itu sejalan dengan Islam. Karena Pancasila itu tidak dikenal dalam Islam.

 

 

Saya dapet berapa.?

Inila adalah pertanyaan dari seorang Aparatur Pancasila Patung Berhala tingkatan Lurah kepada temanku saat dia meminta tanda tangan/acc Sang Aparatur sebagai salah satu proses cairnya dana untuk Pengadaan Fasilitas Umum bagi orang miskin!

Sang Lurah Aparatur Patung Berhala Pancasila tanpa malu-malu lagi, tanpa basa-basi lagi, tanpa tedeng aling-aling, langsung face to face secara 4 mata, minta bagian sekian persen dari dana Pengadaan Fasilitas Umum untuk orang miskin kalau dia sampai membubuhkan tanda tangannya sebagai salah satu proses cairnya dana tersebut.

Temanku itu bersikeras memegang Islam yang menentang riswah/suap dalam bentuk dan cara apapun. Sang Aparatur pun berputar-putar, mengulur-ngulurkan waktu, berharap temanku itu mengabulkan keinginannya. Temanku tetap memegang Islam. Dan akhirnya, tanda tanganpun tidak diberikan.

Ini adalah kisah nyata (true story) dan ini adalah sangat b i a s a terjadi di kalangan Sistem dan Aparatur Pancasila Patung Berhala Kapitalis. Perhatikanm ini baru di level Lurah, belum diatasanya, dan yang paling atas. Dan ini adalah dana untuk orang miskin mereka pun tega melakukannya. Belum lagi proyek-proyek yang sifatnya umum.

Tidak aneh Indonesia tidak pernah maju dan sejahtera karena sistem busuk dan manusia-manusia bejat Pancasila Patung Berhala yang katanya sakti dan selalu menggaung-agungkan kesejahteraan bagi Rakyatnya. Masih percaya dan bela?

Hari Senin ini, sebagian besar murid sekolahan kembali masuk sekolah setelah kemarin berlibur. Dan pelajaran pertama yg dilakukan adalah Upacara Penghormatan Benda Mati Dua Helai Kain Beda Warna Bendera Sang Saka Merah Putih Berhala Indonesia! Menghormat benda mati, benda mati dua helai kain, dua helai kain yang beda warna, dihormati?

Inilah program cuci otak yang terus diulang-ulang dan tetap dilakukan dimulai dari usia TK disekolahan sampai tua di kantor atau instansi-instansi. Mau sampai kapan keberhalaan ini dijaga dan dilestarikan? Ingat dan perhatikan, kain berwarna itu adalah benda mati! Kenapa dihormat? Kenapa menghormat benda mati?

 

 

 

 

(Maaf saya tidak mengedit sedikitpun, saya hanya ingin mencantumkan apa adanya di sini)

 

Arab/Islam sumber kerusakan bangsa

Kaji Dullah

Sat,16 Dec 200612:26:39-0800

 

Dalam refleksi kosong, kadang-kadang saya jadi geram ketika mengingat sejarah tentang penyebaran virus Islam keIndonesia.

 

Parapenjahat itu adalah Wali Songo dan mereka-mereka yg membuka jalan bagi masuknya virus Arab ke nusantara. Dulu, pada abad ke-8 saja leluhur kita sudah berteknologi tinggi dan mampu membangunBorobudur(salah satu bukti peradaban paling maju pada zaman itu).

 

Abad ke-13 Gajah Mada menjelajahi dan menyatukan sebagian besar kawasan Asia Tenggara, dan sebagai bangsa kita mencapai masa keemasan.

 

Abad berikutnya, mulai para pembawa virus Arab (bukan orang Arab) datang (yakni antara abad 14-15) yang akhirnya pelan-pelan menggerogoti kerajaan Majapahit dan hancur tinggal puing-puing. Dari kerajaan adi-kuasa di Asia Tenggara dengan bangunan2 megahnya (pura, candi-candi), menjadi kerajaan tengu di Yogja & Solo yg istananya aja cuma dari kayu dan udah mau roboh ditiup angin.

 

Coba kalau Islam tidak masuk keIndonesia, barangkali kita sudah lebih maju saat ini dan cara berfikir kita pasti lebih advanced. Kalau sejak abad ke-8 saja sudah bisa bikin Borobudur, membangun kota-kota seindah Bali, menguasai kawasan seluas Asia Tenggara harusnya pada abad ke-16 menara Eifel ada di Jawa, bukan di Paris.

 

Terkadang saya jadi bertanya, Islam sudah memberi apa sih kpd

Indonesia? Kecuali terorisme, budaya jenggot, dan jilbab? Sementara meskipun hanya sisa-sisa, kita sampai sekarang masih bisa menikmati hasil warisan leluhur kita melalui industri pariwisata Borobudur & Bali. Ironisnya, Islam bukan saja telah merusak mental bangsa kita, bahkan telah beberapa kali berusaha menghancurkan warisan budaya asli kita.

 

Thn 85-an teroris muslim beberapa kali mengebomBorobudurdan belakangan ini mau menghancurkanBali.

 

Saya sampai sekarang belum bisa melihat sisi baik apa yang sudah disumbangkan oleh orang Arab ? Kecuali duit2 recehan dari Saudi ke masjid-masjid yang pro Wahabi. Itu pun dampaknya lahir para pasukan jihadi yang siap menjadi relawan perang membela orang Arab yg berantem dengan sepupunya sendiri (Yahudi).

 

Justru, setelah bangsa kita digerogoti oleh virus Arab (mulai abad 14-15),

akhirnya (pada abad ke-16) bangsa kecil seperti Belanda bisa menguasai kita. Demikianlah seterusnya sampai hari ini. Dengan kata lain, penyebaran virus budaya jahiliyah Arab (melalui Islam) telah merusak banyak tatanan sosial budaya lain yang tanpanya barangkali malah bisa lebih maju.

 

Jika salah satu kriteria bangsa yg maju/modern adalah bangsa yg telah

memperkenalkan budaya-budaya unggul, maka seberapa majukah bangsamu hari ini? Ukurannya ada di organ bagian atasnya Muslim Melayu yang mereka tutupi dengan peci bau minyak pelet atau jilbab penutup ketombe..

_________________

MURTADINKAFIRUN

MURTADIN KAFIRUN exMUSLIMINDONESIABERJAYA 11 SEPTEMBER Hari Murtad Dari Islam Sedunia

admin

ADMINISTRATOR

 

Number of posts: 938

Age: 11

Reputation: -13

Points: 2612

Registration date: 2008-12-18

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 Re: Islam Meruntuhkan Nusantara

  gusti_bara on ThuJul 01, 201011:15 pm

 

.HEHEHEHEE

 

 

SI ADMIN LAGI NGLINDUR…..UNTUNG GAK HIDUP DI JAMAN PENJAJAHAN….KALO HIDUP DI JAMAN PENJAJAHAN PASTI DAH MENJADI CENTENG BELANDA KARENA TERTARIK DENGAN KRISTEN DAN MAKANAN GRATIS   .

gusti_bara

BLUE MEMBERS

 

 

 

 

 

Number of posts: 818

Location: samping yesus

Job/hobbies: yang penting seneng

Humor: pantaskah saya menjadi anak yesus?

Reputation: 26

Points: 1787

Registration date: 2010-04-29

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 Re: Islam Meruntuhkan Nusantara

  answering-ff onFri Jul 02, 20106:35 am

 

.gusti_bara wrote:

HEHEHEHEE

 

 

SI ADMIN LAGI NGLINDUR…..UNTUNG GAK HIDUP DI JAMAN PENJAJAHAN….KALO HIDUP DI JAMAN PENJAJAHAN PASTI DAH MENJADI CENTENG BELANDA KARENA TERTARIK DENGAN KRISTEN DAN MAKANAN GRATIS  

 

waduh min….. yang bener aje, masa borobudur dibangun abad 8? katanya borobudur di buat oleh sulaiman as? .

_________________

“Kafir sadar, kafir diem, kafir nglawan, kafir kedalam, kafir keluar, kafir kelompok, kafir tahu, kafir nubuat, kafir penutup, kafir terakhir ”

answering-ff

MUSLIM

 

 

 

 

Number of posts: 2268

Location: ruang humor

Humor: “gile ada yang ngrampok baju gw, Tuhan elu”, kata Yesus

Reputation: 28

Points: 3091

Registration date: 2009-11-13

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 oh admin, pantess aja

  jesus christ onFri Jul 02, 20106:41 am

 

. .

_________________

” Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Q.S 59:23)

jesus christ

MUSLIM

 

 

 

 

 

Number of posts: 1465

Age: 16

Job/hobbies: menanti tampilnya kebodohan shaggy, yhowshua, taro, dkk

Humor: ada idioot forum yang sakit hati sama tuhan jesus christ

Reputation: 47

Points: 2075

Registration date: 2010-01-15

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 Re: Islam Meruntuhkan Nusantara

  gusti_bara onFri Jul 02, 20107:27 am

 

.jesus christ wrote:

 

 

namanya juga admin…mana mungkin dia apal sejarah bangsa kita…sejarah ketuhanan yesus aja gak hapal kok..dia cuma main sembah yang gak pada tempatnya…

 

 

dikiranya si admin sulaiman hidup bereng raja2 jawa kali…jadi ikut bantu bikin borobudur…

.

gusti_bara

BLUE MEMBERS

 

 

 

 

 

Number of posts: 818

Location: samping yesus

Job/hobbies: yang penting seneng

Humor: pantaskah saya menjadi anak yesus?

Reputation: 26

Points: 1787

Registration date: 2010-04-29

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 Re: Islam Meruntuhkan Nusantara

  dewa_bayangan on ThuApr 28, 201111:05 am

 

.Islam tdklah menghancurkan nusantara. Pemikiran diatas bersandarkan pada sebuah kesemuan,hakikatnya tidaklah demikian.. asumsi pmikiran itu sgt prematur dan tdk memandang pada kenytaan..Yg menghancurkan nusantara itu adalahsebagian umat Islam,sebagian umat hindu,kristen,budha,katolik dan umat beragama lain yg tdk memahami ajaran dan melaksanakan perintah agama tsb. Jadi yg mnghancurkan itu bukan agama Islamnya.. dan ini bsa berlaku pada semua agama.. Spt yg kita ketahui bahwasannya semua agama itu mengajarkan kebaikan.. Dan para pengikutnya lah yg menghancurkan nilai2 keindahan agama yg diautnya..

Agama itu mengajarkan kebaikan,cinta kasih…

dewa_bayangan

RED MEMBERS

 

 

 

 

 

Number of posts: 48

Location: Dalam Samudra Ketidaktahuan

Humor: yang bisa bikin ketawa

Reputation: 0

Points: 122

Registration date: 2011-04-28

 

 

 

 

 Similar topics.

 Similar topics

» Pengertian, Tujuan & Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam

» Politik agama atau agama politik?

» Nostradamus dan Ramalannya

» NASKAH KUNO ISLAM NUSANTARA, TERNYATA BANYAK

» PELESETAN KRISTEN DAN BABI

 

.

——————————————————————————–

 

MURTADIN_KAFIRUN  :: Kejawen/Aliran Kepercayaan

Page 1 of 1Permissions of this forum:

 

Tarekat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (Belum Diperiksa, Artikel ini adalah bagian dari seri Islam)

Tarekat (bahasa Arab: Ṭarīqah طريقة; jamak طرق; ṭuruq) berarti “jalan” atau “metode”, dan mengacu pada aliran kegamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam. Ia secara konseptual terkait dengan ḥaqīqah atau “kebenaran sejati”, yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut. Seorang penuntut ilmu agama akan memulai pendekatannya dengan mempelajari hukum Islam, yaitu praktik eksoteris atau duniawi Islam, dan kemudian berlanjut pada jalan pendekatan mistis keagamaan yang berbentuk ṭarīqah. Melalui praktik spiritual dan bimbingan seorang pemimpin tarekat, calon penghayat tarekat akan berupaya untuk mencapai ḥaqīqah (hakikat, atau kebenaran hakiki).

Arti tarekat

Kata tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah).

Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru.

Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naksibandiyah, Tarekat Rifa’iah, Tarekat Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (Suawesi Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja.

Empat tingkatan spiritual

Bagan yang menggambarkan kedudukan tarekat dalam empat tingkatan spiritual (syari’ah, tariqah, haqiqah, dan ma’rifah yang dianggap tidak terlihat)

Kaum sufi berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan spiritual umum dalam Islam, yaitu syari’at, tariqah, haqiqah, dan tingkatan keempat ma’rifat yang merupakan tingkatan yang ‘tak terlihat’. Tingkatan keempat dianggap merupakan inti dari wilayah hakikat, sebagai esensi dari seluruh tingkatan kedalaman spiritual beragama tersebut.

Tarekat-tarekat di dunia:

Berikut ini adalah tarekat-tarekat tradisional yang utama:

  1. Tarekat Idrisiyah
  2. Tarekat Khalwatiyah
  3. Tarekat Naqsyabandiyah
  4. Tarekat Rifa’iah
  5. Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah
  6. Tarekat Qodiriyah
  7.  Tarekat Samaniyah
  8. Tarekat Shiddiqiyyah
  9. Tarekat Syadziliyah
  10. Tarekat Syattariyah
  11. Tarekat Tijaniyah

 

Lihat pula:

  1. Mistisisme
  2. Suluk
  3. Salik
  4. Sufisme

 

Tariqa

From Wikipedia, the free encyclopedia  (This article is part of the series Islam)

A tariqa (Arabic: طريقة‎ Ṭarīqa; pl. طرق; ṭuruq, Persian: tariɢat, Turkish: tarikat; alternate spelling, tariqah meaning “way, path, method”) is an Islamic religious order. In Sufism one starts with Islamic law, the exoteric or mundane practice of Islam and then is initiated onto the mystical path of a tariqa. Through spiritual practices and guidance of a tariqa the aspirant seeks ḥaqīqah – ultimate truth.

Meaning

A tariqa is aschoolofSufism. A tariqa has a murshid (guide) who plays the role of leader or spiritual director of the organization. A tariqa is a group of murīdīn (singular murīd), Arabic for desirous, desiring the knowledge of knowing God and loving God (also called a faqīr Arabic: فقير‎, another Arabic word that means poor or needy, usually used as al-Faqīr ilá l-Lāh, “the needy to God’s knowledge (الفقير إلى الله)).

Nearly every tariqa is named after its founder and is referred to by a nisba formed from the founder’s name. For example, the “Rifai order”, named after Sheikh Ahmad ar-Rifai, is called the “Rifaiyyah”, the “Qādirī order”, named after Shaykh `Abd al-Qādir al-Jīlānī, is called the “Qadiriyya”. Often, ṭuruq are offshoots of another tariqa. For example, the Qadri Al-Muntahi order is an offshoot of the Qadiriyya order founded by Riaz Ahmed Gohar Shahi, the Jelveti order is an offshoot of the Bayrami order founded by Hacı Bayram-ı Veli who are an offshoot of the zahidiyye founded by Pir Zahid al-Gaylani. The Khalwati order are a particularly splintered order with numerous offshoots such as the Jerrahī, Sunbulī, Nasuhī, Karabashiyya and others, the Tijaniyyah order prevalent in West Africa also has its roots in this ṭarīqa.

Khalif

In most cases the sheikh nominates his khalīf or “successor” during his lifetime, who will take over the order. In rare cases, if the sheikh dies without naming a khalīf, the students of the ṭarīqa elect another spiritual leader by vote. In some orders it is recommended to take a khalīf from the same order as the murshid. In some groups it is customary for the khalīfa to be the son of the sheikh, although in other groups the khalīfa and the sheikh are not normally relatives. In yet other orders a successor may be identified through the spiritual dreams of its members.

Tarīqas have silsilas (Arabic: سلسلة‎) “chain, lineage of sheikhs”. Almost all orders except the Naqshbandi order claim a silsila that leads back to Muhammad through ‘Alī. (The Naqshbandi Silsila goes back to Abu Bakr the first Caliph of Sunni Islam and then Muhammad.) Many silsilas contain the names of Shī‘ah Imams.

Every murid, on entering the ṭarīqa, gets his ‘awrād, or daily recitations, authorized by his murshid (usually to be recited before or after the pre-dawn prayer, after the afternoon prayer and after the evening prayer). Usually these recitations are extensive and time-consuming (for example the awrād may consist of reciting a certain formula 99, 500 or even 1000 times). One must also be in a state of ritual purity (as one is for the obligatory prayers to perform them while facingMecca). The recitations change as a student (murid) moves from a mere initiate to other Sufi degrees (usually requiring additional initiations).

Being mostly followers of the spiritual traditions of Islam loosely referred to as Sufism, these groups were sometimes distinct from the ulema or officially mandated scholars, and often acted as informal missionaries of Islam. They provided accepted avenues for emotional expressions of faith, and the Tarīqas spread to all corners of the Muslim world, and often exercised a degree of political influence inordinate to their size (take for example the influence that the sheikhs of the Safavid had over the armies of Tamerlane, or the missionary work of Ali Shair Navai in Turkistan among the Mongol and Tatar people).

Tariqas around the world

The tariqas were particularly influential in the spread of Islam in the sub-Sahara during the 9th to 14th centuries, where they spread south along trade routes betweenNorth Africaand the sub-Saharan kingdoms ofGhanaandMali. On the West African coast they set up Zāwiyas on the shores of the riverNigerand even established independent kingdoms such as al-Murābiṭūn or Almoravids. The Sanusi order were also highly involved in missionary work in Africa during the 19th century, spreading both Islam and a high level of literacy into Africa as far south as Lake Chad and beyond by setting up a network of zawiyas where Islam was taught. Much of centralAsiaand southernRussiawas won over to Islam through the missionary work of the ṭarīqahs, and the majority ofIndonesia’s population, where a Muslim army never set foot, was converted to Islam by the perseverance of both Muslim traders and Sufi missionaries.

Tariqas were brought toChinain the 17th century by Ma Laichi and other Chinese Sufis who had studied inMeccaandYemen, and had also been influenced by spiritual descendants of the Kashgarian Sufi master Afaq Khoja. On the Chinese soil the institutions became known as menhuan, and are typically headquartered near the tombs (gongbei) of their founders.

A case is sometimes made[who?] that groups such as the Muslim Brotherhoods (in many countries) and specifically the Muslim Brotherhood of Egypt (the first, or first known), are modern inheritors of the tradition of lay tariqa in Islam. This is highly contentious since the turuq were Sufi orders with established lineages while the Muslim Brotherhood is a modern, rationalist tradition. However, the Muslim Brotherhood’s founder, Hassan al Banna, did have a traditional Islamic education (his family were Hanbali scholars) and it is likely that he was initiated into a tariqa at an early age.

Certain scholars, e.g., G. H. Jansen, credit the original tariqas with several specific accomplishments:

1.Preventing Islam from becoming a cold and formal doctrine by constantly infusing it with local and emotionally popular input, including stories and plays and rituals not part of Islam proper. (A parallel would be the role of Aesop relative to the Greek mythos.)

2.Spreading the faith in east Asia and sub-SaharanAfrica, where orthodox Islamic leaders and scholars had little or no direct influence on people.

3.Leading Islam’s military and political battles against the encroaching power of the Christian West, as far back as the Qadiri order of the 12th century.

The last of these accomplishments suggests that the analogy with the modern Muslim Brotherhoods is probably accurate, but incomplete.

Orders of Sufism

It is important to note that membership of a particular Sufi order was not exclusive and cannot be likened to the ideological commitment to a political party. Unlike the Christian monastic orders which are demarcated by firm lines of authority and sacrament, Sufis often are members of various Sufi orders. The non-exclusiveness of Sufi orders has important consequences for the social extension of Sufism. They cannot be regarded as indulging in a zero sum competition which a purely political analysis might have suggested. Rather their joint effect is to impart to Sufism a cumulant body of tradition, rather than individual and isolated experiences.

 

 

 

Definisi: tirakat

1. 1 Menahan hawa nafsu (spt berpuasa, berpantang); 2 mengasingkan diri ke tempat yg sunyi (di gunung dsb): ia mempunyai kegemaran — dan bergaul dng masyarakat kecil; ti·ra·kat·an v melakukan tirakat: malam itu ia tidak hadir dl acara ~ di kampungnya

#1. tirakat

Usaha menyucikan diri dengan puasa dan ibadah secara terus-menerus selama beberapa waktu. tujuannya adalah untuk meraih ketenangan batin, mendapatkan pencerahan dalam menjalani hidup atau untuk maksud-maksud tertentu.

Mantan Preman: “Saya mau kembali ke jalan yg benar, Pak”

Pak Haji: “Kamu harus tirakat, puasa seminggu berturut-turut dan tinggal di mesjid agar hati kamu kembali bersih”

#2. tirakat

Tirakat itu asalnya dari bahasa arab thariqah yang artinya jalan. Atau bisa juga tindakan atau amalan rutin seperti bacaan doa, mantra, pantangan, puasa atau gabungan dari kelima unsur tersebut sebagai jalan untuk mencapai pencerahan spiritual atau elmu tertentu

Kakek menjalani tirakat puasa setiap hari jum”at kliwon.

 

 

 

TIRAKAT

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah tirakat yang bermaksud mendekatkan diri kepada tuhan, berupa perilaku, hati dan pikiran.

Tirakat adalah bentuk upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada tuhan.

Berpuasa temasuk salah satu bentuk tirakat , dengan berpuasa orang menjadi tekun dan kelak mendapat pahala, orang jawa kejawen menganggap bertapa adalah suatu hal penting. Menurut kesusastraan jawa orang yang bertahun-tahun berpuasa dianggap sebagai orang keramat. Karena dengan bertapa orang dapat menjalankan kehidupan yang ketat ini dengan tinggi. Serta mampu menahan hawa nafsu sehingga tujuan-tujuan yang penting dapat tercapai, selain puasa kegiatan tirakat lainnya adalah meditasi dan semedhi.

Menurut Koentjaraningrat meditasi dan semedi biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapa brata , yang dilakukan ditempat-tempat yang dianggap keramat missal gunung, makam leluhur, ruang yang memiliki nilai keramat dsb. Pada umumnya orang yang melakukan meditasi adalah untuk mendekatkan diri dengan tuhan.

Adabeberapa bentuk puasa dan tirakat misalnya:

  1. tidak tidur semalam suntuk/ pati geni tidak boleh keluar kamar semalam suntuk, tidak boleh tidur dan makan minum.
  2. puasa senin kamis
  3. mutih mulai dari kemampuan satu hari hingga 40 hari hanya makan nasi putih dan minum air putih sedikit pada saat matahari terbenam.
  4. ngeruh yaitu hanya boleh makan sayur dan buah , dilarang yang bernyawa.
  5. ngebleng yaitu tidak keluar kamar sehari semalam , tidak ada lampu, hanya keluar saat buang air kecil, tidak boleh tidur, makan dan minum
  6. nglowong hanya makan tertentu dengan waktu tertentu tidur hanya 3 jam
  7. ngrowot hanya boleh makan satu jenis buah maksimal 3 buah dari subuh sampai magrib.
  8. nganyep/ ngasrep boleh makan sembarang tapi yang tidak ada rasanya dan harus didinginkan sedingin dinginnya.
  9. ngidang hanya boleh minum air putih dan daun. Lainnya tidak boleh.
  10. ngepel hanya makan nasi sehari satu kepal sampai 3 kepal saja.
  11. wungon tidak boleh makan minum dan tidak tidur selama 24 jam
  12. ngalong , puasa ngrowot sambil menggantung di atas pohon dengan posisi kaki diatas kepala dibawah / sungsang.
  13. topo jejeg yaitu tidak boleh duduk selama 12 jam
  14. lelono melakukan perjalanan malam jam 12 sampai jam 3 untuk mawas diri atas kesalahan yang diperbuat selama ini.
  15. kungkum yaitu puasa bersila dalam sungai yang ketemu dua arusnya mulai jam 12 malam sampai jam 3 atau jam 4 pagi.
  16. topo pendem / ngluwang yaitu puasa dikubur hidup-hidup hanya deberi jalan nafas, biasanya selama 3 hari atau 7 hari, pertaruhannya nyawa dan hasilnya adalah mampu menghilangkan tubuh dari pandangan orang atau melihat jelas dengan mata telanjang orang/ mahluk – mahluk ghoib.

Secara umum bertirakat / berpuasa harus dimulai dengan mandi keramas / bersuci dan niat dalam hati untuk mendekatkan diri pada tuhan. (budaya jawa)

 

 

 

Tirakat

Hari pertama puasa. Bukan hari yang istimewa karena saya telah dua puluh tahun melakukannya. Kalaupun ada yang berbeda (meniru apa yang biasa ditampilkan infotainment) ini puasa pertama saya bersama suami. Bedanya ya hanya terletak pada urusan masak-memasak. Hal-hal lain tetap saja tidak berbeda dengan apa yang saya lakukan tahun-tahun sebelumnya.

Tadi malam saya tidur jam dua belas dan sudah terbangun jam setengah dua. Padahal rencanaya saya baru akan bangun jam setengah empat untuk memasak sebentar lalu makan sahur. Hari ini imsak jatuh jam setengahlima. Tapi ternyata suara teriakan-teriakan orang sudah terdengar sejak jam setengah dua. Suaranya dekat, karena mereka berkeliling di depan rumah di Kalibata. Teriakan “Sahur! Sahur!” sahut menyahut tak karuan. Diselingi dengan suara bambu dan tiang listrik yang dipukul-pukul.

Tiga tahun lalu, saat saya pertama kali tinggal di Jakarta, saya terkejut dengan cara penanda sahur yang menurut saya berlebihan. Di Rawamangun, masjid kompleks perumahan sudah memberikan penanda sejak jam dua malam. Melalui pengeras suara masjid, suara laki-laki terdengar ke semua rumah di kompleks, mengingatkan kalau sekarang sudah jam dua dan sebentar lagi waktu sahur tiba.

Saya membandingkan dengan penanda sahur di desa saya. Orang di masjid mengingatkan sahur saat sudah jam tiga. Anak-anak yang berkeliling juga baru berkeliling jam setengah tiga. Semuanya dengan suara yang lembut, enak didengar. Padahal penduduk desa saya mayoritas adalah muslim. Teriakan sahur tidak akan pernah dianggap sebagai gangguan oleh orang-orang. Tapi justru di Jakarta, kota dimana orang-orang dengan berbagai kepercayaan bercampur seperti salad, penanda sahur dilakukan dengan begitu agresif dan memakan banyak waktu. Saya berpikir, kalau saya saja yang melaksanakan puasa terganggu, bagaimana dengan orang-orang yang tidak melaksanakannya?

Bagi saya, puasa adalah sebuah kontemplasi. Perenungan dan juga meditasi. Ini adalah sebuah kegiatan pribadi, dimana saya sedang berdialog dengan diri saya sendiri sambil meyakini ada kekuatan Ilahi yang sedang membimbing kami. Semuanya dilakukan diam-diam, lirih berbisik-bisik, bahkan seringkali sembunyi-sembunyi.

Besar dalam keluarga Jawa yang masih memegang tradisi, puasa telah menjadi bagian kental dalam kehidupan keluarga kami. Puasa adalah laku spiritualitas untuk mencapai kekayaan batin, juga tirakat sebagai bagian dari perjuangan mencapai apa yang diinginkan. Puasa bagi kami bukan hanya sebulan saat Ramadan, tapi sepanjang waktu.

Ketika ajaran agama memberikan pengaruh besar dalam kehidupan kami, puasa di luar Ramadan salah satunya menjelma dalam puasa yang dilakukan di hari Senin dan Kamis. Semuanya dilakukan diam-diam, kadang sembunyi-sembunyi. Sungguh, saya berulang kali menolak ajakan makan di hari Senin dan Kamis dengan berkata, “Saya sudah makan.” Ada rasa malu dan kikuk kalau saya harus menjawab, “Saya sedang puasa,” karena kalimat itu akan sama artinya dengan, “Saya sedang tirakat.”

Sebagai laku tirakat, dalam puasa saya dengan sadar mengendalikan segala diri dan keinginan. Saya dengan sadar, mengambil posisi meditasi dan berkontemplasi di saat sekitar saya begitu berisik dan penuh godaan. Puasa justru menguatkan saya untuk menantang semuanya. Bukan dengan manja meminta orang di sekitar saya untuk tidak makan, tidak berpesta, demi menghormati puasa saya.

Puasa, sebagaimana ibadah-ibadah lain yang diajarkan dalam kitab suci, merupakan cara yang diajarkan Tuhan agar manusia bisa meningkatkan kualitasnya. Baik kualitas dalam mengolah rasa, mengolah pemikiran, dan mengasah religiusitas. Saya puasa dan sholat, agar saya senantiasa ingat saya hanya bagian kecil saja dari sebuah kekuatan yang maha dahsyat. Puasa dan sholat, membantu saya untuk bisa lebih menahan emosi, berkonsentrasi, memandang setiap hal dari sisi yang berbeda. Puasa dan sholat menjadi cara saya untuk mengendalikan diri, mempertimbangkan setiap apa yang saya maui.

Konsep puasa Ramadan sendiri menurut kitab suci adalah sebuah ibadah untuk Tuhan. Tapi alih-alih bisa ikhlas melakukanya untuk Tuhan, kadang saya malah ikut terjebak dalam hitung-hitungan pahala dan dosa. Berpuasa sembari berhitung banyaknya pahala yang telah saya kumpulkan.

Padahal, saya tak terlalu percaya pada rumusan pahala dan dosa. Karena jika pahala atau dosa bisa dihitung sebagaimana saya menghitung simpanan uang di bank, tentu akan sangat gampang untuk melakukan perhitungan dengan Tuhan. Saya akan bertanya, berapa pahala minimal agar saya bisa masuk sorga. Kalau Tuhan berkata seribu, saya tinggal mengumpulkan angka itu sepanjang hidup saya, lalu sim salabim saya akan masuk surga.

Sungguh, saya tidak sedang berhitung soal pahala dan dosa. Saya hanya sedang melakukanya untuk diri saya. Sembari menunggu rasa ikhlas untuk Tuhan itu datang dengan sendirinya. Entah kapan.

 

 

Tirakat Mbah Muqoyyim saat Hijrah ke Buntet Pesantren

Nama Buntet Pesantren sudah cukup dikenal. Setidaknya oleh kebanyakan masyarakat pesantren diIndonesia. Bahkan pesantren besar di Jawa Barat jika ditelusuri terkait dengan Buntet. Padahal jika mau jujur Buntet itu sendiri sebuah tempat yang sangat kecil, sebuah dusun bahkan bukan desa seperti disangka orang.Adasebuah tirakat (doa) yang dilakukan oleh pendiri Buntet saat hijrah ke tanah ini dan diduga kuat berusaha meniru hijrah Rasulullah saw dalam membangunkotaMadinah. Masa sih?

Sebelum kami membahas tirakat Mbah Muqoyyim, kita perlu mengingat kembali sejarah duakotayang paling banyak dikunjungi karena kemuliaannya: Makkah dan Madinah. Nabi Muhammad saw menyebut duakotaini dengan sebutan “tanah haram” seperti ditulis Syekh Maliki Al Husaini, mengutip hadits Rasulullah saw:

Inna ibrahim harrama makkah wainni harromal madinah. ” Sesungguhnya, Nabi Ibrahim A.S. memiliki Mekkah sebagai tanah haramnya, dan Madinah sebagai tanah haramku (Nabi saw). Jadi tanah haram itu bukan bikinan atau sebutan orang belakangan tetapi dari sabda Rasul saw. Baru kemudian orang menyebutkan dua tanah mulia itu dengan sebutan haromain.

Yastrib bermakna fasad (rusak)

Menurut penuturan Habib Maliky (ibid), dunia itu ada tiga titik. Satu titik ada di Madinah yang dulunya disebut Yatsrib. Rasulullah saw bersabda: “Orang yang sekarang menyebut kata Yatsrib harus istighfar kepada Allah. (al-hadits riwayat Imam Ahmad ). Karena penyebutan Yatsrib itu tidak dikehendaki oleh Rasulullah. Sebab Yatsrib searti dengan rusak, celaka, caci maki.” Karenannya digantilah Yatsirb itu dengan Madinah.Kotaagama,kotahijrah dan lain-lain.

Ketika Nabi hijrah kesana, ada dua kelompok besar:

  1. Orang yang hijrah ke Madinah karena menghindar
  2. Karena mencari wanita. (ada yang cari wanita ada yang dunia dll)

Dari hal itu kemudian Nabi saw “menyindir” seperti yang tertulis dalam hadis yang sangat tenar, innamal a’malu binniyati … waman kanat hijrotuhu … Lahirnya hadits ini, konon, karena ketka itu di Madinah ada seorang janda yang cantik sekali. Kemasyhurannya itu hingga ke Makkah. Makanya rame sekali saat Nabi Hijrah. Namanya adalah Umruul Qois.

Barang siapa yang datang di Madinah. Kemudian memakan makanan darisana, banyak minum maka ia mendapatkah keberkahan. Bukan tanpa alasan, menikmati makanan dari Madinah itu memiliki keberkahan dari tanah disana. Salah satu yang adalah korma ajwah. Orang yang makan hingga 7 butir maka dijamin.

Kenapa Berkah

Karena Nabi saw secara khusus berdoa untuk “keberkahan”kotaMadinah sendiri secara langsung.

والمدينة المنورة بلدة مباركة الطعام والشراب، لأن النبي صلى الله عليه وسلم دعا لاهلها بالبركة في صاعهم ومدهم ومكيالهم، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الدجال لا يطاء مكة ولا المدينة وأنه يجيء ينزل في ناحية المدينة، فترجف ثلاث رجفات، فيخرج إليه كل كافر ومنافق”

Buntet Pesantren

Adakah kaitan antara tirakat (doa) Mbah Muqoyim bagi tanah Buntet Pesantren dengan cara Nabi saw ketika pertama kali hijrah kekotaMadinah. Dari beberapa cerita menuturkan bahwa kampung Buntet (bukan desa Buntet yang memiliki struktur pemerintah desa) sebelum didirikan pesantren dulunya merupakan tempat yang dianggap “angker”, “jelek” banyak kejahatan di sana. Seperti pesantren lain, berdirinya pondok itu biasanya di atas tanah yang penuh dengan nuansa kejatahan.

Sebagai tokoh ulama yang berdakwa di kerajaanCirebon, namun karena tidak cocok dengan cara-cara petinggi kerajaanCirebonyang terkesan pro penjajah, akhirnya Mbah Muqoyim mengundurkan diri dan mendirikan pesantren di Buntet.

Salah satu upaya yang dilakukan beliau saat hijrah ke Buntet itu mirip seperti yang dilakukan oleh Nabi saw, saat awal-awal datang ke Kota Madinah, yang semula disebut Yatsrib. Jika Nabi saw berdoa untuk Madinah agar diberkahi tanah disana, maka cara Mbah Muqoyim pun juga sama beliau berdoa dan bertirakat namun dengan berpuasa 9 tahun.

Tentu saja karena Mbah Muqoyim merasa doif dibanding Nabi saw. Karenanya, puasa 9 tahun dijalaninya sebagai tirakat doa, penuh kepahitan. Masing-masing tiga tahun itu terdiri dari : puasa 3 tahun untuk keberkahan para santri yang ada di Buntet, 3 tahun berikutnya untuk keluarga dan dan terakhir untuk keberkahan tanah Buntet sendiri.

Yang menarik dari cerita yang berkembang di kalangan keluarga Buntet adalah cara puasan Mbah Muqoyim. Beliau katanya, berbuka dengan “sega aking”, nasi yang dikeringkan. Caranya cukup unik, beliau kalau mau berbuka, dengan pena cocor bebak, pena khas santri zaman dahulu, dimasukkan pena itu ke dalam wadah untuk mengambil nasi aking. Dalam satu kali mengambil berapapun yang didapatnya itulah yang dipakai untuk berbuka.

Dalam pandangan kyai Buntet, perbuatan Mbah Muqoyim ini untuk meghilangkan rasa nikmatnya nasi sehingga menggunakan sega aking yang kering. Karena beliau tidak mau memanjakan jasad. Tapi dalam rangka memanjakan ruh.

Apabila memakan 7 butir qorma ajwa, sihir pun tidak bakal mempan, serperti ditulis dalam satu kitab, maka begitulah Mbah Muqoyim dengan hanya memakan segelintir nasi aking sehingga ruhnya yang lebih sehat ketimbang jasadnya. Namun jangan heran, jika sihirpun juga tidak mempan kepada beliau.

Kehebatan Madinah

Salah satu kehebatan Madinah adalah dari ungkapan Rasulullah saw: Inna daajjala la yaqou ilaa makkah wamadinah: Dajjal tidak akan berani menginjak Makkah dan Madinah. Orang yang pergi haji biasanya satu paket dengan berziarah ke Madinah untuk berkunjung ke Makbaroh Rasulullah saw. Sebab disanakita akan “setor muka” dengan kanjeng Nabi Muhammad saw. Mereka yang mendatangi Rasulullah saw, Insya Allah pasti mendapat syafaat.

Kedua, Madinah itu tidak akan terkena wabah yang ditakutkan di dunia. Misalnya kalau dulu orang menyebut cacar sekarang bernama AIDS/HIV. Penyakit ini tidak bakal ada … sebab Rasulullah saw pun telah bersabda: Laa yadhuluhaa at to’uun, penyakit toun tidak akan sampai disana.

Menurut catatan kitab, penyakit-penyakit itu keluar dari kawah-kawah gunung di sekitarkota. Makanya gunung-gunung di sekitar Madinah sudah dijamin tidak menyebarkan penyakit sebab sudah ditongkrongi oleh para Malaikat. Sampai kapanpn tidak akan pernah menjamahkotamadinah.

Hal ini karena Nabi saw secara langsung berdoa agar gunung itu tidak mengeluarkan penyakit dan menyebarkan penyakit kepada penduduk madinah: Allahumma….. hai penyakit jauhlah kamu hingga 7 kilo.

Keistimewaan lainkotaMadinah adalah Nabi Muhammad saw sangat gemar sekali pergi ke Kubah. Sabda Rosul saw: assolatu fi masjidi quba ka umroh. Solat di masjid quba laksana umroh.

Hikmah Sejarah

Dari catatan tersebut kita mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berharga. Dari kasus Hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah telah merubah Madinah sebagaikotayang diberkati. Hal ini karena Rasulullah saw benar-benar peduli dengan tanah yang ditempatinya agar memperoleh keberkahan, terjga dari penaykit dan siapaun yang datang kesanajuga memperoleh berkah.

Hal demikian yang dilakukan oleh Rasulullah saw itu kemudian pada abad ke-18 M ditiru oleh ulamaIndonesiabernama Mbah Moqoyim ketika berhijrah menempati tempat baru bernama Buntet Pesantren. Di tempat baru ini, beliau berdoa untuk keberkahan Buntet: tanahnya, keluarga dan para penduduknya (santri). Beliau berodoa hingga 9 tahun dengan berpuasa.Adapula yang menyebutkan hingga 12 tahun berpuasa untuk dirinya sendiri, namun rasanya tokoh semodel Mbah Muqyim tidak akan memerdulikan kepentingan dirinya. Dirinya sudah kuat, sehingga yang dipikirkan beliau adalah orang lian, dan lingkungannya.

Dari pelajaran tersebut, jika ada orang alim di suatu wilayah lalu wilayah sekitarnya itu tidak ada apa-apa dalam hal bahaya dan segala macam gangguan bagi pendudduknya, itu kita harus yakin, bahwa ulama di wilayah tersebut sudah mendoakannya seperti yang dilakukan Nabi saw. Namun jika ulama (pemimpin) itu tidak mendoakan wilayah sekitarnya maka tentu derajatnya belum mencapai sebutan ustadz/kyai/ulama. Justru kalau bisa mereka itu hendaknya mau meniru akhlaq rosululllah saw.

Tentu bukan bermaksud menyamakan Buntet dengan Madinah, namun kata kunci dari tulisan ini adalah seorang alim yang berada dalam satu wilayah maka ia akan peduli pada lingkungannya. Semata-mata untuk keselmatan umatnya.

Namun kita semua berharap keberkahan yang diupayakan oleh Mbah Muqoyim ratusan tahun yang lalu itu bisa terus bersinergi di Buntet Pesantren hingga sakarang.  Sehingga siapaun yang ada di Buntet Pesantren: kelurganya, santri dan penduduknya, di tanah ini terus memberikan siraman kedamaian, baik lahir maupun batin.

Demikian pula, orang-orang yang memasuki Buntet Pesantren menjadi aman, damai dan tentram. Disamping itu, berkat doa-doa para ulama disana, diharapkan keberkahan yang diupayakn Mbah Muqyim dahulu terus-menerus menguat sehingga tidak ada penyakit berhaya baik penyakit fisik maupun batin yang menyebar ke pesantren tercinta kita. Wallahu a’alam.

 

 

Tirakat untuk anak agar menjadi anak yang sholeh

Adapepatah yang mengatakan: “Ajarlah anakmu sebaik-baiknya dan berikanlah bekal yang secukupnya untuk menghadapi masa depan, karena masa yang dihadapi anakmu kelak akan sangat jauh beda dengan masamu sekarang ini.” Kurang lebih begitulah bunyi pepatah itu. Apakah artinya ya?

Memang pendidikan anak melalui jalur formal saja tidak cukup. Bahkan kalau menurut Om Bob Sadino, sekolah itu hanya membuat anak semakin bodoh, karena hanya mengajarkan barang basi berupa informasi. Tapi bagaimana kita bisa lepas dari sekolah. Semua orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya ke sekolah yang tinggi, dengan harapan suatu saat menjadi orang yang sukses. Tentu saja salah satu ukuran orang sukses adalah kaya secara materi dan dihormati di masyarakat. Apakah itu saja ukuran sukses?

Ya memang saat ini hampir semua orang mengejar materi dalam hidupnya adalah satu-satunya tujuan hidup. Akibatnya mereka melupakan hal paling mendasar yang sebenarnya dicari oleh manusia yaitu kebahagiaan. Akibatnya apa?

Banyak penyakit kejiwaan yang menghinggapi manusia. Rasa kehampaan yang luar biasa, rasa keterasingan dan rasa stress yang berat. Akibatnya banyak diantara mereka yang lari ke narkoba, seks bebas dangayahidup hedonisme, hura-hura dan semau gue.

Sekarang aja gejala seperti itu sudah sangat terasa dan terlihat terang. Apalagi 10 sampai 20 tahun mendatang! Untuk itu anak kita harus mendapat bekal yang lebih baik lagi. Perlu diajarkan caranya berlaku sabar, santun, percaya diri, hormat dan patuh dan tawakal kepada Allah swt. Dan yang nggak kalah pentingnya yaitu kita perlu melakukan tirakat untuk anak-anak kita. Gimana caranya ya?

Salah satu caranya adalah dengan melakukan puasa senin kamis dan sholat malam. Sambil terus berdoa kepada Allah agar anak kita menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi banyak orang. Nah gimana pendapat anda?

 

 

Tirakat Satu Malam

Hari ini kugariskan hidupku atas perihal yang ingin ku kenang dan yang tak ingin ku ulang. Disini kutorehkan akumulasi kegeramanku atas serentetan kebodohan yang berhasil kuciptakan. Inilah perwujudan dari kontemplasiku yang tak pernah sempurna.

Kuikhlaskan buah dari ikhtiarku menguap seperti butiran keringat yang menghempas gurun karena Dia menginginkannya kembali. Kuizinkan mimpi yang menghadiahiku bahagia dan perih untuk tidak pernah menjadi kenyataan. Kumaafkan semua pihak termasuk diriku sendiri, yang berkonstribusi dalam menyakitiku dan membuat kutukanku mengalir atas ketololanku, demi membasuh luka yang hampir membuatku percaya bahwa Dia sedang bermain kejam denganku. Tundukku pada rencana Sang Pembolak Balik Hati yang selalu penuh tanda tanya besar, walaupun ketetapan Nya sempat menuai protesku.

Demi air mata ibunda yang tumpah pada hari ini aku bersumpah untuk menjadikannya bangga atas setiap hela nafas yang dia habiskan untuk menyebut namaku. Tetap dengan caraku. Cara yang tak pernah dia mengerti. Cara yang hanya aku dan orang-orang yang bersedia melihat jalan pikiranku dari sudut yang berbeda yang bisa memahaminya.

Hari ini kuletakkan apa yang menjadi itikadku kedepan agar kalian, orang-orang yang mengagungkan kepedulian, berhenti menghakimi apa yang kutinggalkan.

 

 

Tirakat Untuk Selamat

(By: Sendang Mulyana)

Bila ingin menggembleng diri, yang dilakukan adalah bermacam-macam laku tirakat, biasanya juga disebut puasa atau pasa, misalnya pasa mutih, ngrowot, patigeni, ngebleng 40 hari 40 malam, dan sebagainya. Biasanya disesuaikan dengan tujuan, baik yang bersifat sekadar olah kanuragan maupun rasa-spiritual.

Puasa, tirakat, atau jenis laku lain yang asketik sebenarnya adalah laku personal-spiritual yang tidak mudah dinilai dan dibandingkan tingkat keberatannya. Masing-masing ada aturan mainnya, serta terpulang pada niat dan tujuannya. Berat-ringannya laku spiritual itu  bergantung pada kebulatan tekad sejak awal. Fenomena saat ini, banyak orang suka membentur-benturkannya, padahal yang suka membentur-benturkannya itu justru tidak menjalankan keduanya.

Puasa Ramadan tidak dilakukan, tirakat bermacam-macam juga lewat. Pilih yang paling ringan dan enak. Maka, para pinisepuh menilai, generasi sekarang adalah generasi cengeng yang suka menerabas dalam mencapai tujuan. Benar atau tidak, ungkapan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan introspeksi.

Fenomena saat ini, nuansa puasa didominasi keriuhan lahir daripada kekhusyukan batin. Memang kita perlu berbangga, budaya menyemarakkan Ramadan di negeri kita lebih hebat daripada di Timur Tengah. Akan tetapi, keriuhan, kesemarakan, dan kemuliaan itu tentu lebih indah bila linambaran semangat zikir dan tirakat, bukan semangat rutinitas menjalankan syariat.

Ujian

Pada waktu ingin berguru pada Sunan Bonang, Raden Said disuruh untuk menunggui sebuah tongkat di pinggir kali. Ia harus tirakat, tidak boleh minum bila tak ada minuman yang iseng ke bibirnya, tidak boleh makan bila tak ada makanan yang hinggap sendiri ke tenggorokannya, dan pantangan lain yang tidak ringan.

Raden Said sukses menjaga tongkat itu sampai tubuhnya dililit semak-belukar. Kesetiaannya yang luar biasa menjaga tongkat di pinggir kali menjadikan Sunan Bonang bersedia mengangkatnya sebagai murid kinasih, dan Raden Said mendapatkan julukan baru Sunan Kalijaga.

Cerita rakyat tentang Sunan Kalijaga itu sudah sangat populer di masyarakat Jawa. Kecerdasan, kesaktian, kebijaksanaannya meramu ajaran dogmatis dengan nilai-nilai budaya bercampur-baur dengan mitos. Geertz memandang Sunan Kalijaga berhasil menjadi ikon spiritual Islam Jawa.

Berbeda dari masyarakat yang suka mengedepankan mitos daripada mengurai tanda, Pramudya Ananta Toer dalam novel Arus Balik justru menafsirkan simbolisme dalam cerita asal-muasal nama Sunan Kalijaga sebagai ”penjaga Khalik”. Artinya, penjaga nilai ketauhidan, keesaan dan kemahakuasaan Tuhan. Ia dipandang sebagai orang yang konsisten, istikamah, pada tugas keulamaannya.

Intinya adalah diperlukan pembelajaran dan penempaan diri yang kuat untuk bisa menjadi manusia hebat. Dengan demikian, tidak ada faedahnya saling mendiskreditkan satu sama lain yang hanya menghabiskan energi. Puasa Ramadan hakikatnya dapat dikatakan juga sebagai laku tirakat karena sifatnya yang sangat personal. Pada jenis ibadah ini, malaikat tidak ikut campur tangan memberikan penilaian, tidak sibuk mencatat, urusan puasa sangat eksklusif, yakni langsung dengan Tuhan.

Puasa dan tirakat adalah momentum menguji diri. Dalam menguji diri itu tidak diperlukan dewan juri dan tim pengawas yang menakut-nakuti. Suara hati benar-benar menjadi mahkamah paling tinggi. Uniknya, justru saat ujian itu, menjadi kesempatan terindah untuk bermesraan dengan Tuhan, sumber segala gerak dan pemilik segala kekuatan.

Siasat

Pada saat jadi presiden, BJ Habibie dikecam para kritikus gara-gara berkomentar agar masyarakat berpuasa sebagai salah satu solusi menghadapi krisis yang menderaIndonesia. Ia dianggap telah menyabot peran ulama karena  tugas pemerintah mestinya adalah membuat formulasi kebijakan strategis untuk mengatasi krisis, bukan khotbah.

Sebenarnya, Habibie berkata jujur. Ia bercermin dari sejarah kehidupannya sendiri. Pada masa sekolah ia suka berpuasa karena keterbatasan dana. Pada saat berkomentar itu, mungkin ia mengalienasikan asumsi bahwa belajar itu perlu makanan bergizi, fasilitas yang memadai, untuk dapat menyerap ilmu dengan baik. Dengan cara berpuasa, banyak tirakat, yang mungkin dianggap konvensional, nyatanya, ia bisa menjadi profesor dan presiden.

Anak sekolah harus berani tirakat, itu doktrin zaman dulu. Penggemblengan rasa dan mentalitas dikedepankan ketika seseorang berguru. Pemanjaan makan dan fasilitas justru akan menghasilkan kebebalan. Pandangan itu tentu tidak bisa ditelan mentah-mentah di era sekarang. Akan tetapi, memadukan pandangan modern dengan nilai-nilai lama  yang konstruktif perlu dilakukan.

Penyediaan fasilitas yang memadai dan makanan yang bergizi ditambah dengan penggemblengan mental yang baik, misalnya berpuasa atau jenis tirakat lain akan dapat menghasilkan generasi yang benar-benar tahan-banting. Fenomena sekarang sungguh sangat menyedihkan. Kenakalan, bahkan kebejatan moral, justru sebagian besar dilakukan oleh manusia-manusia yang makan sekolahan. Informasi dari Badan Narkoba Nasional, sebagian besar pengguna narkoba adalah mahasiswa dan anak-anak sekolah.

Bagaimana halnya dengan berpuasa dengan niat menyiasati keadaan, ngirit, berhemat untuk dapat bertahan, atau lebih halus lagi mengelola perekonomian diri?

Sudah dapat diprediksi, setelah pesta demokrasi pasti harga-harga akan berlomba-lomba merangkak naik.Parapolitisi telah berhasil mencapai tujuan, tak perlu lagi menebar rayuan, tak penting lagi berstrategi merebut hati, menaikkan harga-harga terasa sangat ringan. Ditambah lagi momentum  bulan Ramadan dan menjelang hari raya menjadi penyulut naiknya harga-harga.

Dalam kondisi seperti itu, berpuasa dengan niat pertahanan tentu bukan kenaifan. Sengaja lapar dan benar-benar lapar karena tak ada yang dimakan memang berbeda. Akan tetapi, lapar bukan tujuan berpuasa. Sengsara tentu bukan tujuan tirakat. Penghayatan atas lapar memunculkan energi luar biasa untuk mengenal diri dan peduli pada sesama.

Berpuasa karena ketidakberdayaan tidak mengurangi nilai keikhlasannya. Tuhan membuka pintu lebar-lebar bagi hamba-Nya untuk berpamrih pada-Nya. Siapa tahu dengan tirakat, berpuasa, Tuhan sudi memberikan rahmat berlimpah di kemudian hari. Bandingkan dengan penggunaan logika berlebihan, misalnya  karena miskin lantas tidak mau berpuasa. Miskin dijadikan alasan untuk menanggalkan perintah. Energinya ditumpahkan untuk mengejar kekayaan.

Baik yang benar-benar lapar maupun yang sengaja lapar, kiranya menarik piweling dalam ”Suluk Saridin”, yakni ngatos-ngatos ampun lena, mugiyo kasil ingkang dipun seja, tentreming ati urip kang mulya. Berhati-hatilah dalam menjalankan berpuasa, jangan terlena. Semoga benar-benar berhasil sesuai tujuan yang diidamkan. Hati yang tenteram dan hidup yang mulia. Jadi, tak apalah tirakat sebagai siasat untuk selamat.

 

 

 

KASKUS

Saudariku yang kuhormati, semoga keselamatan berserta berkat rahmat Allah selalu tercurah atasmu. Mari kita kaji satu persatu tentang kegiatan seperti yang diatas: Puasa mutih, puasa dengan memakan makanan tertentu, tidak tidur dalam beberapa hari, ataupun tidak keluar kamar. Mari kita bahas melalui hadits-hadits. Di bawah ini adalah puasa-puasa sunnah yang ada tuntunannya dari Rasulullah shalallahu’alayhi wassalam.

1. Puasa enam hari di Bulan Syawwal

Dari Ayyub al Anshari radhiyallaHu `anHu, Rasulullah SAW. bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun” (HR. Muslim II/82, Abu Dawud no. 2416, at Tirmidzi no. 756 dan Ibnu Majah no.1716)

2. Puasa Hari `Arafah dan Hari `Asyura (hari kesepuluh bulan Muharram atau hari kesembilannya)

Dari Abu Qatadah radhiyallaHu `anHu, dia berkata, “Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari `Arafah, beliau menjawab, `Ia menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan yang akan datang’. Beliau juga ditanya tentang puasa hari `Asyura, beliau menjawab, `Ia menghapus dosa-dosa tahun lalu'” (HR. al Bukhari no. 1988, Muslim no. 1123 dan Abu Dawud no. 2424)

Dari Abu Ghathfan binTharif al Muri,iaberkata, “Aku mendengar Ibnu Abbas berkata, `Ketika Rasulullah berpuasa `Asyura dan beliau menganjurkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata, `Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani’. Kemudian beliau berkata, `Kalau begitu, pada tahun depan yang akan datang kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’a) insya Allah’. Ibnu Abbas berkata, `Akan tetapi belum sampai tahun depan, Rasulullah telan meninggal dunia'” (HR. Muslim no. 1134 dan Abu Dawud no. 2428)

3. Puasa di Bulan Muharram

Dari Abu Hurairah radhiyallaHu `anHu, Rasulullah SAW. bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, bulan Muharram dan sebaik-baiknya shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam” (HR. Muslim no. 1163, Abu Dawud no. 2412, an Nasai III/206 dan at Tirmidzi)

4. Puasa di Bulan Sya’ban

Dari Aisyah radhiyallaHu `anHa, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban” (HR. al Bukhari no. 1969, Muslim no. 1156 dan Abu Dawud no. 2417)

5. Puasa Senin dan Kamis

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallaHu `anHu, dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah selalu berpuasa pada Hari Senin dan Kamis, manakala beliau ditanya tentang hal tersebut, beliau menjawab, `Sesungguhnya amal-amal hamba dihadapkan pada hari Senin dan Kamis'” (HR. Abu Dawud no. 2419, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2127)

6. Puasa tiga hari dari setiap bulan Hijriyyah Dari `Abdullah bin `Amr radhiyallaHu `anHu, Rasulullah SAW. bersabda, “Puasalah tiga hari dari tiap bulan. Sesungguhnya amal kebaikkan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, sehingga ia seperti puasa sepanjang masa” (HR. al Bukhari no. 1976, Muslim no. 1159, Abu Dawud no. 2410 dan an Nasai IV/211)

Dan disunnahkan untuk menjadikan tiga hari tersebut hari ketiga belas, empat belas danlimabelas. Berdasarkan riwayat Abu Dzar radhiyallaHu `anHu, Rasulullah Rasulullah SAW. bersabda, “Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari suatu bulan, maka puasalah pada hari ketiga belas, empat belas dan lima belas” (HR. at Tirmidzi no. 758 dan an Nasai IV/222, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al Jaami’ ash Shaghiir no. 7871)

7. Puasa Nabi Dawud `alayHis sallam

Dari `Abdullah bin `Amr radhiyallaHu `anHu, Rasulullah SAW. bersabda, “Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Dawud, beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari” (HR. al Bukhari no. 1131, Muslim no. 1159, an Nasai III/214, Abu Dawud no. 2431 dan Ibnu Majah no. 1712)

8. Puasa pada hari kesembilan Bulan Dzul Hijjah

Diriwayatkan dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi ShallallaHu `alayHi wa sallam, dia berkata, “Rasulullah berpuasa pada hari kesembilan Dzul Hijjah, Hari `Asyura, tiga hari dari setiap bulan, Hari Senin pertama dari suatu bulan dan Hari Kamis” (HR. Abu Dawud no. 2420 dan an Nasai IV/220, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2129)

Puasa mutih tidak termasuk di dalamnya, begitupun halnya puasa hanya dengan memakan makanan tertentu, tidak ada tuntunannya.

Jadi janganlah dilakukan apalagi ditambah-tambah dengan kepercayaan akan menambah keharmonisan keluarga, kepintaran, kebahagiaan, kebathinan, dll.

Hiduplah dengan cara Islam bukan seperti adat istiadat dan perbuatan mengada-adakan ibadah baru dengan tanpa tuntunan Al-Quran dan Hadits, maka perbuatan mengada-ada tersebut biasa kita namakan “Bid’ah”.

Apakah hadits tentang Bid’ah?Adaterdapat empat hadits shahih tentang Bid’ah yang saya ketahui.

1. ‘Irbadl bin Sariyah ra. mengutarakan, Muhammad Rasulullah SAW. bersabda, “Berpeganglah kalian pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rosyidin (Abu Bakar, Umar bin Khotob, Ali bin Abi Tholib, dan Utsman bin Affan) yang terpimpin. Peganglah dia dengan gigi-gigi taringmu, dan jauhilah oleh kalian mengada-adakan urusan baru. Sebab sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Empat Ahli Hadits, kecuali Nasa’i)

‘peganglah dengan gigi taringmu adalah peganglah sunnah Rasulullah SAW.’

2. ‘Aisyah ra. menuturkan, Muhammad Rasulullah SAW. bersabda, “Barangsiapa mengamalkan sesuatu dalam agama ini yang tidak ada asal-usulnya dari agama ini maka tertolaklah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

(tertolak disini adalah tidak diterima oleh Allah SWT.)

3. Rasulullah SAW. bersabda, “Barangsiapa mengamalkan sesuatu (ibadah) yang tidak ada perintahnya dari kami maka tertolaklah”. (HR. Muslim)

4. Hudzaifah ra. memberitahukan, Rasulullah SAW. bersabda, “Allah tidak akan menerima puasa ahli bid’ah, juga tidak menerima sholatnya, hajinya, umrohnya, dan jihadnya. Ia keluar dari Islam laksana seutas rambut yang keluar dari tepung”. (HR. Ibnu Majah)

Masih adakah alasan untuk menjalankan hal-hal yang bid’ah? Saya jadi teringat lagi akan firman Allah dalam:

QS 6:116 yaitu Larangan mengikuti kebanyakan orang.

Keterangan: Kebanyakan orang-orang (yang mana sekarang kebanyakan orang-orang yang menyalahkan sunnah Rasulullah SAW. daripada yang menjaga)”.

QS 31:21 yaitu Larangan mengikuti tradisi nenek moyang juga adat istiadat.

Keterangan: Keturunan/ajaran nenek moyang yang tidak berasal dari kami (Rasulullah dan para Khulafaur Rosyidin)

QS17:36yaitu Larangan bertaqliq buta dalam agama.

Keterangan: Lebih mengagungkan seseorang yang dianggap sangat hebat sehingga segala perkataannya kita terima bahkan mentah-mentah tanpa mengetahui landasan dalil Al-Quran atau As-Sunnah (Hadits) yang ada (benar).

Masalah tidak tidur beberapa hari ataupun tidak keluar kamar adalah hal yang menzalimi diri sendiri. mari kita bahas lagi:

Dibawah ini adalah hadits mengenai:

Anjuran beribadah sesuai kemampuan, Tidak menzalimi diri sendiri, dan larangan beribadah secara terus-menerus (berlebihan).

Aisyah ra. memberitahukan, bahwa apabila Rasulullah SAW. memerintahkan mereka mengerjakan amal ibadah, maka beliau menyuruh yang sesuai dengan kemampuan mereka. Lalu mereka mengatakan, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami tidak seperti engkau. Sebab sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang kemudian”. Seketika wajah Rasulullah SAW. memerah menandakan beliau marah, dan bersabda, “Sungguh orang yang yang paling bertaqwa dan yang paling mengetahui tentang Allah diantara kalian adalah aku”. (HR. Bukhari)

Aisyah ra. menuturkan, bahwa Rasulullah SAW. datang untuk menggilirnya (hari dimana Rasulullah harus bersama Aisyah). Pada saat itu Aisyah sedang bersama seorang wanita.

“Siapakah wanita ini?” Tanya Rasulullah SAW.

“Ya Rasulullah, dia adalah penduduk Madinah yang paling banyak ibadahnya. Dia tidak pernah tidur malam,” Ungkap Aisyah.

Rasulullah SAW. bersabda, “Kerjakanlah ibadah menurut kemampuan kalian. Demi Allah, Dia tidak akan bosan sehingga kalian sendirilah yang bosan. Amal ibadah yang paling disukai oleh Allah SWT adalah yang dikerjakan secara terus-menerus”. (HR. Lima Ahli Hadits kecuali Tirmidzi)

Anas ra. Menceritakan, Rasulullah SAW. bersabda, “Ingatlah, demi Allah, sungguh aku orang yang paling takut dan paling taqwa kepada Allah SWT. Tetapi aku berpuasa dan berbuka, sholat dan tidur, serta menikah dengan wanita. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku”. (HR. Syaikhon dan Nasa’i)

Abdullah ibnu ‘Amr ra. mengungkapkan bahwa Rasulullah SAW. berkata kepadanya, “Aku telah mendengar berita bahwa engkau senantiasa sholat sepanjang malam, dan selalu berpuasa di siang harinya.”

“Ya aku mengerjakan hal tersebut,” jawab ‘Abdullah ibnu ‘Amr.

lalu Rasulullah SAW. bersabda, “Sungguh jika engkau mengerjakan hal itu niscaya matamu mengantuk dan tubuhmu lemah. Sungguh engkau berkewajiban memenuhi hak tubuhmu dan keluargamu, karena itu berpuasalah dan berbukalah, sholatlah dan tidurlah”. (HR. Syaikhon)

Aisyah ra. berkata bahwa ia pernah ditanya, “Apakah Rasulullah SAW. mengkhususkan hari-hari tertentu untuk memperbanyak ibadahnya?”

“Tidak” tegas ‘Aisyah. “Amal ibadahnya dikerjakan secara terus-menerus. Bahkan seseorang diantara kalian pasti mampu mengerjakan ibadah yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah SAW.” (HR. Tiga Ahli Hadits)

Aisyah mengemukakan, Rasulullah SAW. pernah ditanya (oleh seseorang), “Amal apakah yang paling disukai oleh Allah?”

“Yang terus-menerus dilakukan sekalipun sedikit.” Jawab Rasulullah SAW. (HR. Syaikhon dan Tirmidzi)

Sudah jelaskah dengan pernyataan hadits-hadits diatas?

Apakah benar jika kita melakukan sesuatu yang Bid’ah disertakan menzalimi diri sendiri? Maaf tidak ada bermaksud menyinggung pihak lain, tapi saya sungguh menentang perbuatan yang seperti ini. Banyak umat Islam mengambil sebuah hadits yang terputus untuk membenarkan pendapat mereka tentang apa yang mereka kerjakan, seperti hadits dibawah ini contohnya:

“Barang siapa yang mengada-adakan urusan baru yang baik, maka baik pula pahala untuknya. Tapi barangsiapa yang mengada-adakan urusan baru yang buruk, maka buruk pula untuknya.”

Hadits tersebut banyak dipakai untuk orang-orang yang menjalankan berbagai macam bid’ah, tetapi “Mengada-adakan urusan baru” yang dimaksud diatas adalah “PERKEMBANGAN ZAMAN & TEKNOLOGI” bukan perkembangan ibadah. Terlalu banyak orang-orang yang merasa ilmu agamanya sudah sangat tinggi sehingga membuat-buat ajaran baru. Naudzubillah.

Islam pedoman utamanya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, jadi ibadah yang kita lakukan ya harus sesuai dengan pedoman itu. Bila kita membuat ajaran baru berarti kita bukanlah menjadi sosok seorang Muslim lagi, karena tidak ada bedanya dengan kita membuat kitab suci baru yang isinya tentang perkembangan ibadah. Hati-hati karena banyak sekali manusia yang merusak sunnah, contohnya banyak sekali.

Abu Hurairah ra. Menyampaikan, Rasulullah SAW. bersabda: “Islam pada mulanya asing, dan akan kembali asing seperti semula. Maka bahagialah kiranya (orang Islam) yang terasing.”

“Siapakah orang yang terasing itu?” tanya sahabat.

Beliau (Rasulullah SAW.) menjawab, “Orang-orang yang memperbaiki sesuatu yang telah dirusak oleh orang dari sunnahku. Dan orang-orang yang menghidupkan kembali sunnahku yang telah dirusak oleh orang lain.” (HR. Muslim, dan dinilai hadits Hasan oleh Tirmidzi)

Kita memang wajib menuruti kata orang tua (yang mungkin juga orang tua kita menuruti budaya nenek moyang atau adat istiadat kampung), tetapi patuhlah kepada orang tua hanya dalam hal-hal yang ma’ruf, kalau mengarah kepada hal-hal yang munkar ya jangan. Karena ketaatan kita yang paling utama hanyalah kepada Allah subhana wata’alaa. Semoga tulisan ini bisa membantu saudariku.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuhu ya ahlal sunnah wal jama’ah.

Kalau diflashback ke belakang, sepanjang ngaji Qur’an dari dulu sampai sekarang walau seayat dua ayat, sering kita bertemu dengan keterangan-keterangan yang mencengangkan disana. Apa-apa yang dulu kita percayai dibuat nggak berlaku lagi. Menjadi mitos-mitos. Barangkali begitu cara Qur’an menuntun para pembacanya. Kadang lembut setahap demi setahap, tapi kadang mendobrak sampai dalam. Berikut 10 hal-hal yang buat saya telah menjadi mitos, walau bahkan sampai detik ini pun tak sepenuhnya bisa lepas dari mitos-mitos itu.

1. Kita bisa memahami makna Al-Quran, dengan membaca terjemahannya.

Ternyata tidak, bahkan mungkin hanya 20%-nya atau malah nol koma sekian persennya.  Ketika membaca terjemahannya, kita suka bingung dengan gaya penyampaian Al-Qur’an yang sekilas terkesan melompat-lompat dan tidak nyambung antara kalimat yang satu dengan yang lain. Terkesan misterius, dan kadang (sering) seperti bahasa rahasia.

Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS: 56; 77-79)

Hanya orang-orang yang disucikan. Bukan yang mensucikan diri, bukan yang membaca terjemahannya, bukan yang sekolah tafsir sampai S4. Melainkan mereka yang disucikan. Teman-teman yang baik, apanya yang disucikan? Dan oleh siapa? Seperti apa yang disucikan itu?

Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi al ’ilm. (QS: 29; 49)

Jangan salah sangka, I’m not saying “hey don’t read the Quran, karena tidak akan paham. Sederhana saja, bahwa bukan kita sendiri yang membuat kita paham Quran. Ada faktor X, yang diluar control kita. Belajar dan memahami mati-matian tanpa keterlibatan Dia Yang Maha Berkehendak, useless.

2. Kalau amal lebih banyak dari dosa, nggak akan tersentuh neraka.

Faktanya (maaf agak mengerikan) bahwa bila masih ada dosa maka akan tersentuh neraka.

Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. (QS: 20; 74)

Duh, saya sebenarnya tidak kepingin menakut-nakuti. Tetapi khawatir sendiri, benar-benar tidak enak. Semoga kita diberi ampunan, diterima taubatnya, menjadi yang beriman dan bisa beramal yang baik, yang klop.

Dan orang-orang yang beriman dan beramal salih, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka. (QS: 29; 7)

3. Hidup bersih dan sehat, bikin panjang umur.

Apakah memang demikian ketika ajal telah ditetapkan. Tahun, bulan, hari, jam, menit dan detiknya, sudah pasti.

Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). (QS: 35; 11)

Tidak (dapat) sesuatu umatpun mendahului ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka memperlambat (ajalnya itu). (QS: 23; 43)

Jangan salah sangka, bukannya mau bilang percuma hidup bersih dan sehat. Setuju bahwa kita diperintahkan hidup bersih dan sehat, tetapi tidak ada kaitannya dengan hidup dan mati kita. Hidup bersih dan sehat adalah kewajiban, karena badan ini punya haknya yang harus kita penuhi. Tetapi hidup dan mati kita sudah ada yang mengatur.

4. Kita bukan penyembah berhala.

Benarkah kita bukan orang kafir?

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? (QS: 45; 23)

Dan coba perhatikan hubungan yang sangat erat antara mencintai dunia dengan kekafiran, seberapakah jarak kita dengan kekafiran tipis sekali.

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (QS: 16; 07)

Jadi, teman-teman yang baik, benarkah kita bukan penyembah berhala? Kita bukan orang kafir?

5. Beriman adalah sebuah pilihan.

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah. (QS: 10; 100)

Jadi sangat beruntunglah buat kalian yang beriman.

6. Tidak beriman juga sebuah pilihan.

Sebaliknya, itu pun sebuah ketetapan. Saya yakin banyak yang tidak suka dengan ide bahwa orang ditetapkan tidak beriman, karena itu artinya kemudian orang ditetapkan masuk neraka.

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman. (QS: 10; 96)

Penjelasannya mungkin panjang tapi praktisnya begini: kalau kita ingat Dia, bahkan sekelebat saja, kalau kita ingat bahwa kita akan kembali kepada-Nya (maka hokum itu akan berlaku), itu adalah sebuah panggilan dari-Nya, sebuah harapan akan kehendak-Nya, ketetapan-Nya.

7. Harta dan anak-anak adalah kenikmatan dan kesenangan dari Tuhan.

Apakah bukan sebaliknya?

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS: 8; 28)

8. Agama tidak pernah mengajarkan nasionalisme.

Istilah nasionalisme itu sendiri mungkin bukan, tetapi rasanya bukan sebuah kebetulan bila kita ditempatkan, dilahirkan di sini, di tanah ini. Tuhan bukanlah seperti tukang kebun yang secara serampangan menebarkan biji-bijian ke tanah di luarsana. Jiwa-jiwa dipilih dan segala hal dipertimbangkan, untuk sebuah tujuan:

Dia telah menciptakan kamu dari tanah ini dan menjadikan kamu pemakmurnya. (QS: 11; 61)

Lalu teman-teman yang baik, adakah ber-Islam dengan jalan ber-Arab-Arab ria? Bukankah ber-Islam kemudian adalah, justru, berbakti dan berjuang untuk negeri, tanah air ini? Menjadi manusiaIndonesia, seutuhnya?

9. Kita tidak bisa bercakap-cakap dengan Tuhan.  

Anehnya justru kita diinformasikan oleh Al Qur’an bahwa kita pernah memiliki kemampuan itu.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”. (QS 7; 172)

Gimana ceritanya kita tak lagi punya kemampuan itu? Bagaimana kita lupa akan kejadian yang luar biasa ini?

10. Orang yang sudah mati tak mungkin hadir di dunia.

Orang-orang tertentu, ketika mereka sudah meninggal sekalipun, dapat berjalan-jalan di tengah-tengah kita.

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia. (QS: 6; 122)

Cahaya yang terang, apakah kemudian kita tidak menjadi ingin tahu? Cahaya apakah itu?

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk Al-Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya. (QS: 39; 22)

Sumber : Aindra

By: Semut Hitam

Dengan determenisme dan kausalitas ketat yang menjadi konsekuensi logis atas konsep Tuhan Impersonal ala Einstein, maka naluri serta tanggung jawab sosial-ekologis manusia akan terdongkrak. Sebab, bayang-bayang akan bencana ekologis dan kemanusiaan setidaknya akan memberikan bayangan buruk sekaligus pertimbangan signifikan bagi setiap individu yang hendak mengeksploitasi alam maupun manusia. Terlebih, sebagaimana ditegaskan Einstein, tujuan tertinggi dari ketaatan beragama tak lain adalah keselarasan sempurna dengan alam semesta, termasuk manusia di dalamnya.

Pada tahun 1940, Albert Einstein menulis sebuah esai menggemparkan berjudul Science and Religion. Esai itu mengagetkan dan membuat berbagai kontroversi, khususnya di kalangan agamawan dan teolog. Pasalnya, melalui esai itu, Einstein menggusur konsep Tuhan yang telah dibangun oleh para teolog sejak berabad-abad silam. Einstein kemudian menyebut Tuhan ala teolog itu sebagai Tuhan Personal yang tampak begitu kerdil baginya.

Einstein menyikapi konsep Tuhan Personal ala teolog itu secara apatis. Dalam pandangannya, Tuhan Personal itu dianggap terlalu sederhana dan dangkal. Baginya, konsep Tuhan ala para teolog itu justru menggerogoti transendensi Tuhan seiring dilekatkannya simbol-simbol, bentuk (morphe) serta kecenderungan kemanusiaan (pathos) untuk menggapai Yang Transenden itu.

Sebelumnya, pada tahun 1929, setelah membaca dan terpengaruh oleh hipotesa Spinoza dalam karyanya yang berjudul Ethics, Einstein sejatinya telah mulai memaparkan kritikannya pada konsep Tuhan Personal ala para teolog itu. Saat itu pula, Kardinal O’Connell, Uskup Agung Boston, memberikan respon negatif ofensif dengan meneriakkan kepada Jemmaat New England Catholic Club Amerika agar tak membaca apapun tentang teori relativitas. Dengan alasan, teori tersebut merupakan sebuah spekulasi kabur yang menghasilkan keraguan universal tentang Tuhan dan ciptaan-Nya. Menurutnya, teori itu tak lain merupakan selubung hantu ateisme yang mengerikan (New York Times, 25 April 1929).

Mendengar pernyataan serta sikap keras yang ditempuh oleh Uskup Agung tersebut, Rabbi Herbert S. Goldstein dari The Institutional Sinagoge di New York bertanya pada Einstein melalui telegram; “Apakah Anda percaya Tuhan?” Einstein pun menjawab; “Saya percaya pada Tuhan-nya Spinoza yang menampakkan diri-Nya dalam harmoni keteraturan atas keseluruhan yang ada. Bukan sosok Tuhan yang menyibukkan diri-Nya dengan nasib dan tindakan-tindakan manusia”. Dan, membaca jawaban Einstein tersebut Rabbi Goldstein pun menegaskan bahwa tuduhan ateis pada Einstein jelas-jelas tak terbukti.

Adapun setelah esai 1940 yang berisi pemaparan cukup komprehensif tentang kritiknya atas Tuhan-nya teolog dan konsep Tuhan Impersonal-nya itu terbit, ia pun sontak mendapat serangan serempak dari mayoritas teolog –khususnya teolog Yahudi ortodoks- dengan kekuatan dogma kafir dan ateis. Namun, Einstein selalu menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang ateis. Bahkan, ia memiliki konsep Tuhan yang jauh lebih mentransendensikan-Nya.

Terpengaruh dari Spinoza, setelah menggusur konsep Tuhan Personal-nya para teolog, Einstein menggagas konsep Tuhan Impersonal. Dalam pandangannya, Tuhan merupakan Kecerdasan Tertinggi yang menampakkan dirinya dalam harmoni dan keindahan alam. Dia tidaklah ber-’sosok’. Tuhan adalah struktur pengatur kosmis yang impersonal. Baginya, sesuatu yang oleh Injil disebut sebagai aktifitas Ilahi tak lain semacam hukum ketentuan alam. Sedangkan sesuatu yang disebut sebagai kehendak Tuhan tak lain adalah hukum alam. Tuhan-nya Einstein itu merupakan entitas abstrak sebagaimana diungkapkan Injil; “Janganlah kamu membuat patung berhala atas-Nya atau keserupaan dengan macam-macam benda”. (Eksodus 20:4)

Terlepas dari sederetan kontroversinya, pada dasarnya konsep Tuhan ala Einstein tersebut akan semakin mendewasakan keber-tauhid-an dan keberagamaan manusia. Pasalnya, pertama, konsep Tuhan ala Einstein akan relatif menjaga transendensi Tuhan. Sebab, konsep tersebut ternilai akan selalu menjauhkan Tuhan dari simbol, bentuk (morphe) maupun kecenderungan kemanusiaan (pathos) yang dapat menggiring Tuhan pada ‘jurang’ imanensi, sebagaimana kerap terjadi pada Tuhan-nya para teolog. Kedua, konsep agama kosmis yang lahir dari ‘rahim’ Tuhan Impersonal secara tidak langsung akan memacu kedewasaan manusia dalam beragama. Sebab, dalam konsep agama kosmis, rasionalitas dan kebebasan memiliki ruang ekspresi yang lebih leluasa dan terjunjung tinggi. Dalam agama kosmis, Tuhan bukanlah ‘sosok’ yang selalu mengikat dan menjajah manusia di bawah kehendak-Nya. Sebagaimana ditegaskan Einstein, dalam agama kosmis, Tuhan bukanlah ‘sosok’ yang kehendak-Nya seperti kehendak dalam diri setiap manusia; mutlak bagi setiap diri manusia. Sehingga, dalam konsep agama kosmis ala Einstein, setiap manusia memiliki ruang kebebasan dan berkehendaknya sendiri. Ketiga, dengan determenisme dan kausalitas ketat yang menjadi konsekuensi logis atas konsep Tuhan Impersonal ala Einstein, maka naluri serta tanggung jawab sosial-ekologis manusia akan terdongkrak. Sebab, bayang-bayang akan bencana ekologis dan kemanusiaan setidaknya akan memberikan bayangan buruk sekaligus pertimbangan signifikan bagi setiap individu yang hendak mengeksploitasi alam maupun manusia. Terlebih, sebagaimana ditegaskan Einstein, tujuan tertinggi dari ketaatan beragama tak lain adalah keselarasan sempurna dengan alam semesta, termasuk manusia di dalamnya.

Akhirnya, merujuk pada konsep Tuhan ala Einstein, sejatinya ber-Tuhan bukan berarti menafikan eksistensi diri dan menyerahkan seluruh kehendak dan kebebasan kita pada Tuhan secara mutlak. Namun, sebagaimana ditegaskan Einstein, ber-Tuhan sejatinya justru harus ber-‘metamorfosis’ menjadi semangat dan tuntutan untuk selalu berupaya keras melalui pengetahuan rasional secara bebas untuk mencapai hakikat-Nya. Bukan dengan rasa takut-terikat maupun keyakinan yang buta.

  

AH: Inilah dilema pembicaraan tentang Tuhan. Dari berbagai arah dan sumber pijakan manapun, akhirnya pembicaraan tentang Tuhan membentur tembok. Tembok yang membatasi alam kemanusiaan kita yang kasat mata ini, dengan suatu misteri besar yang kita sebut dengan Tuhan.

Jawaban kaum beragama kadang terasa bagai sebuah dongeng yang indah, yang selalu dijadikan sebagai katub pengaman bagi jiwa dan pikiran yang sudah lelah mencari, atau sebagai satpam yang siap melindungi orang-orang yang takut beranjak dari rumah persembunyiannya (untuk tidak menyebut kemalasan berpikir).

Sementara jawaban dari sang pencari dan pembunuh Tuhan bagaikan hamparan padang pasir yang tak bertepi dan melelahkan. Sedangkan Tuhan tidak pernah turun dan hadir untuk menghakimi semuanya. Dan sayangnya, Manusia saling menghakimi atas nama Tuhan yang tidak diketahuinya.

AS: Tuhan tidak mungkin mempunyai perintah yang dapat dilanggar atau tidak, diikuti oleh manusia karena Tuhan Maha Kuasa. Bisa saja itu perintah agama, bukan perintah Tuhan. Manusia tidak punya kekuatan untuk melawannya, kalau itu sebuah perintah Tuhan. Tuhan itu satu sedangkan agama bisa beraneka ragam.

AW: Islam telah mewadahi konsep Enstein dalam Eksistensi Tuhan itu sendiri. Enstein telah menemukan bagian-bagian Tauhid yang ada dalam Islam yang dibawa Rasulullah. Tetapi sayang sinergi kesempurnaan pemahamannya tidak dibarengi dengan pendalaman yang ada dalam Al Qur’an. Andai Enstein setelah menemukan bagian-bagian dari inti Tauhid dan menyelami apa yang dibawa oleh Rasulullah, maka niscaya, Enstein akan mengucapkan dua kalimat Syahadat.

RK: Setelah selesai di level 1, lanjut di level 2. Selaras kutipan diatas, terlebih sebagaimana ditegaskan Einstein, tujuan tertinggi dari ketaatan beragama tak lain adalah keselarasan sempurna dengan alam semesta, termasuk manusia di dalamnya. Level 3 menyusul.

Hari ini, seorang pemuda merasa kecut menyadari bahwa semua materi (seperti tubuh) hanyalah energi yang kental dengan getaran lambat. Bahwa kita semua adalah satu mengalami sendiri kesadaran subyektif. Tidak ada hal seperti kematian (benar hilang,  red.), hidup di dunia ini hanya mimpi (atau bisa dibilang penjara, dll istilahnya) dan kita adalah imajinasi diri kita sendiri (proses) berikut ekses lingkungan yang kita lewati, alam juga dengan cuacanya.

WI: Terangkankah kenapa hidup ini hanya imajinasi, pak RK? Kenpa bisa begitu? Bukankah peng-ibaratan berbeda dengan fakta realitas? Silahkan dijelaskan dengan gambling, jangan berputar-putar, jangan dibuat bermakna ganda.

RK: Untuk menyampaikan segala sesuatu itu memang tidak mudah, dan jika kita menjelaskan supaya tidak mempunyai arti bias kepada seseorang saja, maka akan ditangkis, oleh yang lain dari jalur yang berbeda. Tetapi kalau sudah dewasa pola pikirnya, maka akan mengerti karena tinggal mengikuti alurnya saja.

Nah kalau sudah paham itu, baru kita bisa bicara spesifik. Sekarang mau dari mana? Saya beri contoh, silahkan pilih: dari sisi kaca-mata hitam-putih, warna-warni, bening. Nanti di 4 dimensi berlaku azas kesaksian, point koordinat tersebut, sebagai kontrol keselarasan. Bagi yang sudah paham, bisa mengartikan untuk WI.

WI: Terimah kasih, atas sarannya! Sayang saya belum mengerti, mungkin ada yang mau jelaskan apa yang dimaksud pak RK, perihal apa yang saya tanyakan?

DD: Imajinasi maksudnya adalah ilusi, relitas ke faktaan yg nyata, karena memiliki perhitungan-perhitungan yg seimbang sesuai dengan pertemuan wujudnya. Jadi ilusi yg memiliki perhitungan keseimbangan dalam pertemuan setiap wujud.

HH: Oke terima kasih WI, Einstein belum mampu menemukan rumus untuk memecahkan pertanyaan 1 (satu) dibagi 0 (nol) samadengan berapa? Bahkan kalkulator juga tdk mampu,.itulah sebabnya hidup ini adalah bagaikan imajinasi (NOL), karena yg hidup adalah yg maha Esa/Tunggal/Satu.

WI: Oh bagaikan toh, bukan seperti yang dituliskan pak RK, hanya mimpi dan kita adalah imajinasi? Kalau bagaikan sih aku sedikit ngeh, dari tadi keq! Hidup ibarat senda-gurau, bukan berarti hidup ini senda-gurau. Air laut yang tenang dan ombaknya, dua hal yang berbeda tapi pada dasarnya sama. Mungkin begitu maksud bapak-bapak ya?

DD: Wujud siapa? Semua wujud baik itu wujud benda, wujud rasa, dll. Karena sebenarnya semua hanya ilusi, dan yg ada itu hanya Allah. Rumusnya, menggunakan cara Einstain dengan kemampuan daya nalar pemikirannya akhirnya ia menemukan titik keseimbangan dan campuran wujud-wujud itu.

WI: Oh salah lagi ya, jadi bukan bagaikan. Sebenarnya hanya ilusikah? Mimpi, imajinasi dan sekarang ilusikah? Bisa dijelaskan, apa persamaan dan perbedaan dari ketiganya? Buat lebih sederhana biar bisa aku pahami.

DD: Imajinasi yg akan masuk kedalam ilusi, tetapi dengan kesadaran pengetahuanNYA. RK mengatakan bening, semua itu yg ada hanya Allah, hitam dan putih, serta warna-warna adalah wujud yang ada dengan aturan yang pasti. Perubahan yg pasti, karena memang telah memiliki aturan dan hukum wujud itu sendiri. Untuk pencapaian ke bening, karena harus melewati hitam-putih, warna-warna, baru menyadari bening.

Persamaannya adalah semuanya itu ilusi, perbedaannya adalah wujudnya saja.

SH: Katakan yang kau tahu, setiap orang pada hakekatnya sedang berbicara kepada dan untuk diri sendiri.

AJ: Sehebat apapun konsep ke-Tuhan-annya, nyatanya tidak pernah bisa menutup kenyataan bahwa kita (manusia) ini terbatas. Bahkan orang yg sekelas Einstein-pun tetep saja nggak bisa menembus ruang dan waktu. Padahal dia itu memberikan sumbangan bahan-bahan bagi pengembangan ilmu pengetahuan tentang ruang dan waktu itu sendiri.

Nah, dari itu saja sudah membuktikan bahwa konsepsi manusia tenttng Tuhan juga pastilah mengandung keterbatasan-keterbatasan tertentu, dan tidak menutup kemungkinan, pada masa yg akan datang akan ada konsep Tuhan yg semakin lebih mendekati. Hanya lebih mendekati lho, dan bukan exactly right.

RA: Maksudnya manusia menembus ruang dan waktu gitu yah? Bukannya perjalanan waktu, mesin waktu, dan lain lainnya tidak mungkin ada. Lalu teori-teori yang mengatakan perjalanan waktu, pembengkokan ruang, pembelahan partikel dan lain sebagainya, bukannya sesuatu hal (mengerjakan sesuatu) yang sia-sia, karena nggak mungkin ada tadi?

Premis Einstein di sini bukannya menjelaskan tentang eksistensi Tuhan? Infinity, tentu saja, imajinasi kita terinfeksi, dan bagi sebagian dari kita itu dipotong dalam pikiran sadar kita setiap sekarang dan kemudian dengan cara yang baru dan menarik.  

Aku bermimpi buruk selama bertahun-tahun dimana saya akan memikirkan sesuatu dalam ukuran dua kali lipat. Lalu dua kali lipat lagi. Lalu dua kali lipat lagi. Lalu dua kali lipat lagi. Dan kemudian, sampai kemampuan saya untuk memahami itu kewalahan, dan aku terbangun dalam keadaan sangat cemas. Bentuk lain mimpi ini adalah mengambil sesuatu di dalam sesuatu, dan kemudian semua itu sesuatu di dalam yang lain, dan semua itu sesuatu di dalam yang lain, dan kemudian aku sudah bangun, terbelalak dan berkeringat.

Hanya ketika saya belajar matematika aku menemukan bahwa mimpi saya berisi benih ide yang penting, sebuah ide bahwa matematikawan John Von Neumann telah bertahun-tahun sebelum berkembang cukup sadar dan sengaja. Hal ini disebut hirarki Von Neumann, dan ini adalah konstruksi di teori himpunan. Ada banyak cara infinity bisa menangkap imajinasi kita. Setiap orang bertanya-tanya apakah alam semesta tak terbatas, misalnya. Ini adalah kesalahan mudah untuk menyimpulkan bahwa hal itu harus, dengan alasan bahwa jika tidak maka harus memiliki batas, lalu apa yang akan berada di sisi lain?

Jawaban untuk ini adalah bahwa alam semesta mungkin seperti sebuah bola. Permukaan bola tidak memiliki batas, tapi tentu terbatas di daerah. (Alam semesta, dengan kata lain, bisa seperti permukaan tiga dimensi dari sebuah kawasan yang dapat dibayangkan sebagai yang ada dalam ruang empat dimensi (kosmologis paling berpikir dengan baik mungkin sesuatu seperti itu). Lain garis umum berjalan berpikir seperti ini: jika alam semesta tak terbatas, maka harus memiliki jumlah tak terbatas planet, dan karenanya sebuah planet seperti yang satu ini kecuali setiap orang yang botak (atau pembicaraan mundur, atau apa yang telah Anda …..).

Masalahnya di sini adalah dalam berpikir bahwa himpunan tak terhingga harus berisi segalanya. Namun, sedikit pemikiran menunjukkan bahwa hal ini tidak perlu benar. Terimakasih!

AS:

“SURAT DARI TUHAN”

Kepada            : Kamu (Anda Semua)

Tanggal            : Hari Ini

Perihal              : Diri kamu

Ini AKU, hari ini AKU yang akan menangani semua masalahmu.

Catatan (dan ingat):

Bila dunia ini menyodorkan masalah yang tidak dapat kau tangani sendiri, jangan berusaha menyelesaikan masalah itu. Tetapi, letakkanlah saja masalah itu diboxKU untuk KUselesaikan. AKU akan menyelesaikan masalahmu sesuai jadwal yang AKU tentukan sendiri. Semua masalahmu pasti akan AKU selesaikan, tetapi sesuai jadwalKU bukan jadwalmu. Setelah semua masalahmu kamu letakkan dalam boxKU, janganlah kamu pikirkan & khawatirkan. Sebaliknya, fokuslah kepada semua hal-hal baik yang sedang terjadi padamu sekarang.

Bila kamu terjebak kemacetan di jalan, janganlah marah, sebab masih banyak orang di dunia ini yang tidak pernah naik mobil seumur hidupnya. Bila kamu berhadapan dengan masalah di tempat kerja, berpikirlah bahwa masih banyak orang yang menganggur bertahun-tahun tanpa pekerjaan. Bila kamu sedih karena hubungan keluarga, pikirkanlah orang-orang yang belum pernah merasakan mencintai dan dicintai. Bila kamu merasa bosan dengan akhir minggu, pikirkanlah orang-orang yang harus lembur siang malam tanpa libur untuk menghidupi keluarga & anak-anaknya. Bila kendaraanmu mogok & mengharuskan kamu berjalan kaki, janganlah marah, pikirkanlah orang-orang cacat yang sangat ingin merasakan berjalan di atas kaki sendiri. Bila kamu melihat dicermin rambutmu mulai beruban, janganlah bersedih, sebab mempunyai rambut hanyalah merupakan impian bagi orang-orang yang dalam perawatan kemoterapi.

Bila kamu merenungi makna hidupmu di dunia ini & merenungi apa tujuan hidupmu ini, bersyukurlah, karena banyak orang yang tidak punya kesempatan hidup yang cukup lama untuk merenungi hidup mereka. Bila kamu memutuskan untuk meneruskan surat ini ke orang lain, terima kasih, kamu telah menyentuh kehidupan mereka dalam banyak hal yang tidak pernah kamu bayangkan.

AKU tidak pernah putus menyayangimu.

ttd

AKU

Alam Kubur dan Siksanya

Tanya:

  1. Apa yang dialami oleh orang yang sakaratul maut?
  2. Yang dialami/dijalani oleh orang yang meninggal tersebut di alam kubur?
  3. Bagaimana bentuk siksa kubur?
  4. Apa yang harus dilakukan oleh anak setelah kedua orangtuanya wafat?

 

Jawaban:

1. Yang dialami oleh orang yang sakaratul maut

Di dalam Al-Quran Al-Karim, Allah SWT telah menceritakan bagamana malaikat didatangkan kepada orang yang akan dicabut nyawanya. Dan khusus orang yang zalim, perlakuan malaikat memang cukup kasar dan menciutkan nyali.

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya,: Keluarkanlah nyawamu Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah yang tidak benar dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya..

Sedangkan kepada orang yang beriman kepada Allah SWT dan menjadi calon penghuni surga, perlakukan malaikat 180 derajat terbalik. Mereka demikian ramah dan baik hati. Kepada mereka Allah SWT mengatakan: “Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku”..

Sedangkan secara umum dan dari penampilan pisik, ada hadits Rasulullah SAW yang menceritakan bagaimana keadaan orang yang sedang dicabut nyawanya: “Sesungguhnya pandangan seorang mayyit mengikuti ruhnya ketika dicabut”

2. Yang dialami orang yang meninggal di alam kubur

Ruh itu lalu naik ke langit dan diperlakukan sesuai dengan amalnya di dunia. Bila ruh itu berasal dari orang yang beriman, maka pintu langit akan dibukakan untuknya dan disambut dengan hangat. Sebaliknya, bila ruh itu dari orang kafir, zalim dan berlumur dosa, maka pintu langit akan tertutup untuknya dan mendapat perlakuan yang hina.

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Bahkan ruh itu akan dicampakkan dari pintu langit sebagaimana firman Allah SWT:

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”

Dua ayat inilah yang diucapkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadits shahih yang panjang ketika menjelaskan bagaimana ruh orang beriman dan ruh orang jahat. Salah satu potongannya kami nukilkan berikut ini:

Rasulullah SAW bersabda, ”…Lalu ruh jahat itu dikembalikan ke dalam jasadnya dan dua malaikat mendatanginya seraya bertanya, ”Siapakah rabb-mu? Orang itu menjawab,”hah..hah..aku tidak tahu”. Malaikat itu bertanya lagi,”Siapakah manusia yang diutus kepada kalian?”. “hah..hah..aku tidak kenal”, jawabnya. Lalu diserukan suara dari langit bahwa dia telah mendustakan hamb-Ku. Maka dekatlah dengan neraka dan dibukakan pintu neraka hingga panas dan racunnya sampai kepadanya. Lalu kuburnya disempitkan hingga tulang-tulang iganya saling bersilangan. Dan didatangkan kepadanya seorang yang wajahnya buruk, pakaiannya buruk dan baunya busuk dan berkata kepadanya,”Berbahagialah dengan amal jahatmu. Ini adalah hari yang kamu pernah diingatkan. Dia bertanya,”siapakah kamu, wajahmu adalah wajah orang yang membawa kejahatan?” “Aku adalah amalmu yang buruk”. “Ya Tuhan, jangan kiamat dulu”..

3. Bagaimanakah Bentuk Siksa kubur

Pertanyaan di dalam kubur dan siksanya ada disebutkan di dalam Al-Quran Al-Kariem.

Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki..

Dalam asbabun nuzul secara shahih diriwayatkan bahwa yang dimaksud dengan ‘Allah SWT meneguhkan orang beriman dengan ucapan yang teguh’ adalah bahwa mayat orang beriman di kubur itu mampu menjawab dengan mantap tiga pertanyaan malaikat dalam kubur, yaitu tentang siapa tuhanmu, siapa nabimu dan apa agamamu.

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di kuburnya dan ditinggalkan oleh teman-temannya, maka dia masih mendengar suara sandal mereka. Imam Bukhari menambahkan,”Sedangkan orang munafik dan kafir diserukan kepada mereka,”

4. Apa yang harus dilakukan oleh anak setelah kedua orangtuanya wafat

Yang paling utama adalah mendoakannya, karena doa anak yang shalih adalah hal yang secara sharih disebutkan sangat bermanfaat bagi orang tuanya yang sudah meninggal. Tentu saja anak itu harus anak yang shalih, beriman dan bertaqwa. Karena hanya doa orang yang dekat dengan tuhannya saja yang akan didengar. Jadi kalau anaknya jarang sholat, tidak pernah mengaji, buta ajaran agama dan asing dengan syariat Islam, lalu tiba-tiba berdoa, bagaimana Allah SWT akan mendengarnya. Sementara makanannya makanan haram, bajunya haram, mulutnya tidak lepas dari yang haram.

Selain itu anak yang sholih bisa saja mengeluarkan infaq, shadaqah dan ibadah maliyah lainnya yang diniatkan untuk disampaikan pahalanya kepada orang tuanya. Tentang sampainya pahala ibadah maliyah dari orang yang masih hidup untuk orang yang sudah wafat, ada banyak dalilnya. Di antaranya adalah:

”Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk menggantikan orang lain, dan seseorang tidak boleh melakukan shaum untuk menggantikan orang lain, tetapi ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum. .

Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk bertanya:” Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya? Rasul SAW menjawab: Ya, Saad berkata:” saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya”

Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa bukan hanya ibadah maliyah saja yang bisa disampaikan pahalanya kepada orang wafat, namun ibadah badaniyah pun bisa dikrimkan pahalanya untuk orang yang sudah wafat. Dalilnya adalah nash berikut:

Dari ‘Aisyah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ” Barang siapa yang meninggal dengan mempunyai kewajiban shaum maka keluarganya berpuasa untuknya”

Hadits ini adalah hadits shahih yang menyebutkan bahwa pahala puasa sebagai ibadah badaniyah bisa dikirimkan untuk orang yang sudah wafat. Selain itu pahala itu adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada saudaranya yang muslim, maka hal itu tidak ad halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan membebaskan utang setelah wafatnya.

Ahmad Sarwat, Lc.

Jeritan Siksa Dari Alam Kubur

By: Agorsiloku

Ini adalah kali kedua saya mendengar ceramah yang isinya tentang Dr Azzacov, seorang geolog. Di Siberia sana, menggali sampai kedalaman 14,4 km dan menemukan suara-suara orang yang kemudian dianalisis sehingga dan kemudian disimpulkan itu adalah suara dari neraka atau minimal siksa kuburlah. Bahkan suaranyapun diperdengarkan kepada sejumlah jamaah. Saya juga sudah mendengar ini untuk kesekian kalinya, tapi untuk kali ini terasa berbeda, sebab diceramahkan di Mekkah, di Tanah Haram. Menjadi bagian dari pesona keagungan Allah yang memperlihatkan bagian dari kekuasaanNya untuk diperdengarkan pada Dr Azzacov, kemudian dilantunkan kembali oleh ustad kami di sebuah apartemen tempat kami dalam perjalanan haji.

Cerita ini bahkan beberapa kali diulas oleh berbagai site dan media Islam. Saya sendiri tidak pernah terlalu tertarik pada ulasan begitu dan biasanya langsung saya lewati saja. Saya berpendapat bahwa semua yang berkenaan dengan gambar kebesaran Allah melalui sajian tulisan, pohon rukuk, tomat bertuliskan Allah, Suara Azan di bulan, atau neraka dalam perut bumi, atau sejenis-sejenisnya adalah hoax. Kebohongan atau kerjaan setan (setan dari golongan jin atau setan dari golongan manusia). Jadi, menanggapinya, memikirkannya adalah buang-buang waktu saja.

Ada beberapa alasan mengapa saya tidak merasa perlu percaya :

1.Wahyu Allah yang datang kepada Nabi terakhir berlandaskan tauhid dan akal sehat. Kita diwajibkan mempercayai yang ghaib, mengimani kampung akhirat dan hari berbangkit dengan penjelasan cukup rinci dalam Al Qur’an dan sebagian penjelasan dari Hadits. Al Qur’an lebih mengetengahkan berpikir dan beriman sebagai derajat lebih.

2.Nabi Muhammad, meskipun pada beberapa hadits memiliki hidayah untuk melihat/mengetahui hal-hal yang ghaib ataupun supernatural dan mendapatkan rahmatNya untuk melakukan perjalanan super dahsyat ke Sidratul Muntaha, namun dalam melaksanakan tugas kerasulannya tidak diberikan kekuatan-kekuatan ajaib yang neko-neko. Nabi tidak bisa menghidupkan orang mati, seperti dilakukan nabi Isa. Terluka ketika perang Uhud.

Jadi, dari dua hal pokok di atas, terlebih kalau kita membaca ayat-ayat suci (meskipun hanya terjemahannya yang bisa dimengerti lebih baik), terasa sekali kekuatan logika, pelajaran berpikir sebagai bagian dari energi kesalehan, yang harus dipelihara. Dengan konteks ini, maka saya lebih menganggap bahwa Allah tidak lagi akan menunjukkan keberadaanNya melalui cara-cara yang sudah tidak sesuai dengan jamannya lagi.

Saya lebih cenderung berpikir bahwa Allah mengajak manusia di akhir jaman untuk melihat keagunganNya, mengenalNya melalui ilmu dan pengetahuan, melalui tataran sains dan penciptaan, dan juga pada manusia itu sendiri seperti yang Dia jelaskan dalam ayat-ayatnya yang bertaburan logika dan pemantapan ilmu. Bahkan, menurut saya cahaya Al Qur’an semakin tampak jelas dengan semakin dalam dan luasnya ilmu, teknologi yang berhasil diraih kebudayaan manusia.

Pemahaman manusia di masa kini kepada ayat-ayat suci akan lebih cerah dan jernih dibanding saat Al Qur’an diturunkan atau beberapa abad kemudian. Mungkin dan sangat mungkin abad ke 21 ini pun belum sampai pada puncak peradaban pemahaman Al Qur’an, namun setidaknya dari beberapa kesesuaian sains cahaya Al Qur’an kian nampak. Bahkan dari beberapa sisi, sangat tampak pula bahwa sains masih terlalu kerdil pula dibanding penjelasan Al Qur’an.

Ada sebagian yang berpikir bahwa sains jangan dibawa ke dunia wahyu Illahiah. Menurut saya malah nggak begitu. Sains masih merupakan variabel kecil saja yang menunjukkan kebenaran Al Qur’an. Al Qur’an menunjukkan arah-arah akan kebenaran sains dan boleh jadi di suatu masa, sains bisa memiliki akselerasi lebih baik justru dengan memahami wahyu dari Al Qur’an. Sains justru masih terbata-bata meskipun sudah menjelang ujung ilmu pengetahuan. Pembahasan jagat raya statis, kemudian dikoreksi bahwa jagat raya meluas. Al Qur’an sudah menjelaskannya sejak dari dulu.

Bukan hanya sains, tapi juga fungsi-fungsi sosial terdefinisi jelas dalam Al Qur’an. Misalnya, keseimbangan al Qur’an mengenai kata-kata tertentu, bilangan 19, dan lain-lainnya hanyalah awal dari pemahaman baru, mengapa sampai Allah menantang ciptaanNya : buatlah ayat seperti al Qur’an kalau kamu memang benar.

Jadi, di akhir masa ini kiamat yang sudah tinggal sedikit lagi saja, saya berpikir bahwa Allah tidak akan lagi mengeluarkan bagian-bagian ilmuNya dengan cara-cara yang manusia akan berpikir ajaib, menyampaikan melalui pembukaan hijab-hijab yang dianggap mujizat sehingga manusia percaya pada keagunganNya. Iman dan akal adalah paduan sempurna untuk memahami ayat-ayatNya.

Kembali ke suara dari siksa kubur atau neraka Dr. Azzacov yang diceramahkan sebagai bagian dari “pemerkuat keimanan” dengan hoax. Menurut saya justru yang terjadi adalah sebaliknya. Yang mempercayai, akan kembali kepada dunia klenik lagi. Mencoba memahami konsep Alam Kubur dari sisi Al Qur’an tentunya lebih terjamin dari sudut keimanan. Menutup pintu akal dan iman, menjadi percaya keagungan Allah sambil bersekutu dengan setan. Bukankah nabi tidak mengajarkan ummatnya untuk mencontoh dan percaya hal-hal yang biasa terjadi sebelum kehadiran Nabi Muhammad?, begitu juga yang jelas kita baca dalam rangkaian ayat-ayat. Bukankah begitu banyak disampaikan : apakah kamu tidak memikirkannya?, pelajaran bagi orang yang berakal?.

Dunia kita masih dipenuhi sajen, ngelap berkah, dan hal-hal sejenisnya. Dunia dimana akal dikesetkan dan logika masuk tong sampah. Padahal sudah ditegasi berkali-kali, mereka itu tak bisa memberikan manfaat dan mudharat bagimu.

Dengan segala akal, tentu saja saya percaya bahwa saqar (kiamat) itu ada, neraka dan surga, hari pembalasan, malaikat, dan hal-hal ghaib itu diimani. Seperti juga berusaha memahami, bahwa ternyata alam semesta ini terbentuk dari energi, bahwa ternyata sebagian besar universe ini ternyata dibentuk oleh materi gelap. Dan percaya bahwa para fisikawan teoritis masih bergelut dengan pendekatan-pendekatan kuantum untuk memahami proses penciptaan. Ilmuwan boleh jadi akan mengubah lagi teorinya, dan Al Qur’an akan menunjukkan lagi tingkatan kebenarannya. Saya tak ragukan ini.

(Catatan Perjalanan Hajj 4)

Siksaan dan Himpitan Kubur

By: Syamsuri Rifai

Jalan terjal yang pertama di alam kubur adalah kesepian di alam kubur. Adapun jalan terjal yang kedua adalah siksaan dan himpitan kubur yang harus direnungkan manusia sebelum dijemput oleh kematian.

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:

“Wahai hamba-hamba Allah, setelah kematian alam kubur lebih menderita daripada kematian itu sendiri bagi orang yang tidak diampuni dosa-dosanya. Karena itu, takutlah kamu pada kesempitan kubur, penderitaan, kegelapan, dan keterasingannya. Sesungguhnya kuburan itu berkata setiap hari: Aku adalah rumah keterasingan, aku rumah kesepian, aku rumah cacing-cacing. Kuburan adalah bagian dari taman-taman surga dan sekaligus bagian dari jurang-jurang neraka. Sesungguhnya kehidupan yang sempit yang diperingatkan oleh Allah kepada musuh-musuh-Nya adalah siksaan kubur.

Allah mengirimkan kepada orang yang kafir di kuburnya sembilan puluh sembilan ular yang besar untuk mencabik-cabik dagingnya dan memecah-mecah tulangnya. Allah mengirimnya berulang kali sampai hari kiamat. Dan sekiranya ular itu didatangkan ke bumi, niscaya tak akan ada tumbuh-tumbuhan dan tak akan terjaga tanaman di dalamnya. Wahai Hamba-hamba Allah, sungguh dirimu lemah, jasadmu lembut dan rapuh sangat mudah dihancurkan.” (Biharul Anwar 6: 218, hadis ke 13)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) ketika qiyamul layl mengeraskan suaranya dalam doanya sehingga terdengar oleh penghuni rumahnya: “Ya Allah, bantulah aku dalam menghadapi hal-hal yang menakutkan di alam kubur, luaskan bagiku sempitnya tempat berbaring, karuniakan padaku kebaikan sebelum kematian, dan berikan padaku kebaikan sesudah kematian.” (Al-Faqih 1: 480, hadis ke 1389)

Berikut ini juga doa beliau:

“Ya Allah, berkahi aku dalam kematian. Ya Allah, bantulah aku saat sakratul maut. Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi siksaan kubur. Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi himpitan kubur. Ya Allah, bantulah aku dalam kesepian kubur. Ya Allah, karuniakan padaku bidadari.” (Iqbal al-A`mal: 178)

Ya Allah, bantulah aku saat kematian. Ya Allah, tolonglah aku saat sakratul maut. Ya Allah, tolonglah aku dari kesepian kubur. Ya Allah, tolonglah aku dari kegelapan kubur. Ya Allah, tolonglah aku dari segala yang menakutkan pada hari kiamat. Ya Allah, berkahi aku selama hari kiamat. Ya Allah, karuniakan padaku pasangan bidadari.

(Biharul Anwar 98: 135)

 

 

Akibat dari dosa apakah siksa kubur itu terjadi?

Siksa kubur itu terjadi dikarenakan antara lain: tidak hati-hati dan menganggap enteng urusan buang air kecil, suka mengadu domba, menggunjing, dan menjauhi keluarganya. (Al-Bihar 6: 222, hadis ke 21)

Dalam suatu riwayat disebutkan bersumber dari Sa`d bin Mu`ad bahwa di antara sebab-sebab terjadinya himpitan kubur adalah akhlak yang buruk terhadap keluarganya, dan sikap kasar terhadapnya. (Amali Al-Majlisi: 61)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Tidaklah beriman seorang kecuali bersikap ramah terhadap keluarganya.” (Al-Biharul Anwar 6: 221)

Abu Bashir mendengar bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Sesungguhnya ketika Ruqayyah binti Rasulillah saw meninggal Rasulullah saw berdiri di kuburannya, mengangkat tangannya ke langit, dan air matanya mengalir. Lalu sahabat-sahabatnya bertanya: “Ya Rasulallah, kami melihatmu mengangkat tangan ke langit dan air matamu bercucuran.”  Rasulullah saw bersabda: “Aku memohon kepada Tuhanku agar Dia memberikan kepadaku siksa kubur yang akan menimpa Ruqayyah.” (Biharul Anwar 6: 217)

“Himpitan kubur bagi seorang mukmin merupakan kifarat karena ia menyia-nyiakan nikmat Allah.” (Tsawab al-A`mal: 234)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) pernah berkata:

“Ada salah seorang tokoh terkemuka setelah meninggal ia duduk di dalam kuburnya, kemudian malaikat berkata kepadanya: kami akan cambuk kamu seratus kali sebagai bagian dari siksa kubur. Tokoh itu berkata: aku tidak sanggup manahan siksaan ini. Lalu para malaikat mencambuknya satu kali, dan mereka berkata: azab kubur bukan hanya ini. Tokoh itu berkata: mengapa kalian cambuk aku? Mereka menjawab: Kami cambuk kamu karena pada suatu hari kamu melakukan shalat tanpa wudhu’. Imam berkata: para malaikat terus mencambuknya sebagai azab dari Allah azzawa jalla, dan beliau melihat kuburnya penuh dengan nyala api.” (Tsawabal-A`mal: 267)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) juga berkata:

“Jika seorang mukmin dimintai oleh saudaranya suatu hajat dan ia mampu untuk memenuhinya tetapi ia tidak memenuhi, Allah akan mengirimkan ular ke kuburnya untuk menggigit jari-jemarinya.” (Biharul Anwar 74: 319, hadis ke 83)

Bagi yang berminat:

1. Amalan dan do’a-do’a keselamatan dari siksa dan himpitan kubur

2. Kisah nyata di zaman Nabi saw seorang sahabat disiksa di kuburnya karena sikap kasar terhadap keluarganya.

3. Tek arab do’a dan hadist-hadist tersebut silahkan mengkopi dari milis “Keluarga Bahagia” atau milis “Shalat-do’a” berikut ini.

Amalan Praktis, bermacam-macam shalat sunnah dan doa-doa pilihan, Artikel-artikel Islami dan informasi Islami, klik di sini :

http://shalatdoa.blogspot.com

http://syamsuri149.wordpress.com

Amalan praktis, Adab-adab dan do’a-do’a pilihan haji dan umroh dilengkapi tek

arab, bacaan tek latin dan terjemahan, klik di sini :

http://almushthafa.blogspot.com

Milis artikel-artikel Islami, macam-macam shalat sunnah, amalan-amalan praktis dan do’a-do’a pilihan serta eBooknya, klik di sini:

http://groups.google.com/group/keluarga-bahagia

http://groups.yahoo.com/group/Shalat-Doa

Milis Feng Shui Islami, rahasia huruf dan angka, nama dan kelahiran,

Rumus-rumus penting lainnya, dan do’a-do’a khusus, klik di sini :

http://groups.google.co.id/group/feng-shui-islami

 

 

Muslim kalo mati kena siksa kubur

By: Abu Bakr Jabir al-Jazairi

Orang Muslim meyakini bahwa alam kubur, siksa di dalamnya, dan pertanyaan dua malaikat adalah benar. Berdasarkan dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal seperti berikut ini.

Dalil-Dalil Wahyu:

1. Penjelasan Allah Ta’ala tentang hal tersebut dalam firman-firman-Nya.

* “Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata), ‘Rasakanlah oleh kalian siksa neraka yang membakar,’ (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya.” (Al-Anfal: 50-51).

* “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), ‘Keluarlah nyawa kalian. Pada hari ini kalian dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kalian selalu mengatakan kepada Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. Dan sesungguhnya kalian datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagai mana Kami ciptakan pada mulanya, dan kalian tinggalkan di belakang kalian (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepada kalian dan Kami tidak melihat beserta kalian pemberi syafaat yang kalian anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kalian sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kalian dan telah lenyap daripada kalian apa yang dahulu kalian anggap (sebagai sekutu Allah).” (Al-An’am: 93-94).

* “Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.” (At-Taubah: 101).

* “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras’.” (Ghafir: 46).

* “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Ibrahim: 27).

2. Penjelasan Rasulullah saw. tentang hal tersebut dalam sabda-sabdanya berikut ini:

* “Jika seorang hamba telah diletakkan di kuburnya, dan sahabat-sahabatnya telah meninggalkannya, serta ia mendengar suara sandal mereka, maka dua malaikat datang kepadanya kemudian duduk padanya. Kedua malaikat tersebut berkata, ‘Apa yang dulu engkau katakan tentang orang ini (Rasulullah saw.)?’ Adapun orang Mukmin, ia berkata, ‘Aku bersaksi bahwa dia hamba Allah dan Rasul-Nya,’ kemudian dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah ke kursimu di neraka, Allah telah memberi ganti untukmu dengan kursi dari surga.’ Orang Mukmin tersebut bisa melihat kedua kursi tersebut. Adapun munafik atau orang kafir, maka kedua malaikat bertanya kepada keduanya, ‘Apa yang dulu engkau katakan tentang orang ini (Rasulullah saw.)?’ Adapun orang Munafik atau orang kafir tersebut berkata, ‘Aku tidak tahu. Dulu aku hanya berkata seperti yang dikatakan manusia.’ Dikatakan kepada orang kafir atau orang munafik tersebut, ‘Engkau tidak tahu dan tidak mengikutinya?’ Kemudian orang kafir atau orang munafik tersebut dipukul dengan martil besi dengan pukulan yang membuatnya berteriak dengan teriakan yang bisa didengar makhluk-makhluk yang berdekatan dengannya kecuali manusia dan jin.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, An-Nasai, Abu Daud, dan Ahmad).

* “Jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka kursinya diperlihatkan padanya pagi-sore. Jika ia termasuk penghuni surga maka ia termasuk penghuni surga, jika ia termasuk penghuni neraka maka ia akan menjadi penghuni neraka. Dikatakan kepadanya, ‘Ini kursimu hingga Allah membangkitkanmu pada hari kiamat’.” (Al-Bukhari).

* Sabda Rasulullah saw. ketika berjalan melewati dua kuburan, “Sesungguhnya dua orang di dua kuburan tersebut sedang disiksa karena dosa besar. Ya, salah seorang dari keduanya berjalan dengan membawa adu domba, sedang orang satunya tidak mengenakan tutup ketika buang air kecil.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

3. Keimanan miliaran orang dari para ulama, orang-orang shalih, dan kaum mukminin umat Rasulullah saw., serta umat-umat sebelumnya kepada siksa alam kubur, kenikmatannya, dan apa saja yang bisa dilihat daripadanya.

Dalil-Dalil Akal:

1. Keimanan seorang hamba kepada Allah Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, dan hari akhir mengharuskannya beriman kepada alam kubur, kenikmatannya, dan apa saja yang terjadi di dalamnya. Sebab, itu semua termasuk perkara-perkara ghaib. Jika seseorang mempercayai sebagian sesuatu, maka menurut akal ia harus mengimani sebagian satunya.

2. Alam kubur, kenikmatannya, pertanyaan dua malaikat bukan merupakan sesuatu yang mustahil menurut akal. Bahkan akal yang sehat mengakuinya memberi kesaksian terhadapnya.

3. Orang yang tidur terkadang bermimpi melihat sesuatu yang menyenangkan kemudian ia bahagia dengannya, dan menikmatinya. Namun ia sedih jika ia terbangun. Atau terkadang ia bermimpi melihat sesuatu yang dibencinya, kemudian ia murung karenanya, dan ia senang sekali kalau ada orang yang membangukannya. Kenikmatan dan siksa di alam mimpi tersebut betul-betul terjadi pada ruhani. Dan ruhani terpengaruh dengannya tanpa ia rasakan dan bisa dilihat oleh kita, serta tidak ada seorang pun yang memungkirinya. Bagaimana terhadap siksa alam kubur, dan kenikmatannya yang pada dasarnya sama persis dengan mimpi tersebut?

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 56-60. Terakhir kali diperbaharui ( Monday, 19 November 2007 ) Kasihan sekali udah mati harus disiksa dlm kubur abis itu masuk neraka.

 

 

Siksa Kubur itu ada

Sebenarnya Hadits telah menceritakan bahwa memang ada siksa kubur, cuma kita tidak pernah tahu kejadian setelah mati. Di foto ini adalah mayat seorang pemuda berusia 18 tahun yang digali kembali dari kuburnya setelah 3 jam dimakamkan yang disaksikan oleh ayahnya. (maaf foto tak tampak)

Pemuda tersebut meninggal dirumah sakit di Oman dan setelah dimandikan dan dimakamkan secara Islam di hari itu juga. Tetapi setelah pemakaman ayahnya merasa ragu atas diagnosa dokter dan menginginkan untuk diidentifikasi kebenaran penyebab kematianya.

Seluruh kerabat dan teman-temannya begitu terkejut saat mereka melihat kondisi mayat. Mayat tsb begitu berbeda dalam 3 jam, dia berubah tampak ke abu-abuan seperti orang yang sudah tua. Dengan tampak jelas bekas siksaan dan pukulan yang amat keras dan dengan tulang-tulang kaki dan tangan yang hancur begitu juga ujung-ujungnya sehingga menekan kebadanya.

Seluruh badan dan mukanya memar. Matanya yang terbuka memerlihatkan ketakutan, kesakitan dan keputusasaan. Darah yang begitu jelas menandakan bahwa pemuda tersebut sedang mendapatkan siksaan yang amat berat.

Berdasarkan keterangan ayahnya, anaknya ini rusak dalam urusan beribadah. Sayangnya informasi ini justru saya belum dapat secara detail, serusak apakah anak ini dalam urusan ibadah, bila anda memilikinya, senang bila saya mendapatkan masukan dari anda.

Kalau dilihat-lihat, ketampanan atau kecantikan sudah tidak menjadi hal yg utama lagi di saat kita sudah di alam kubur. Harta, kekuasaan juga tidak dapat menolong kita menghadapi siksa kubur. Hanyalah amalan kitalah yg dapat memberikan manfaat saat kita di alam kubur nanti. Tentunya amalan yg sesuai tuntunan Al Qur’an dan Hadits. Note: Satuan waktu dunia dan alam akherat itu berbeda. Ukuran waktu di neraka jahanam adalah afqo’, dg perbandingan: 1 afqo = 80 tahun akherat = 3 juta tahun dunia. Sekali masuk neraka jahanam yang ber-afqo-afqo itu berarti lebih dari 3 juta tahun disiksa non- stop tanpa istirahat, makan dan minuman.

Ini hanya kemungkinan penjelasan kenapa anak ini walau cuma ditinggal 3 jam, tapi tubuhnya sudah tua seperti itu. Berapakah kira-kira waktu di alam kubur bila di dunia 3 jam?

 

 

Siksa alam kubur « Jalan Akhirat

Apapun ini, yang pasti udah mengingatkan kita bahwa siksa kubur itu memang ada dia yang menciptakan alam di dunia dan akhirat. Apalagi masalah bahasa, dia Maha Mengetahui. Mengapa Allah teguhkan orang yang beriman di dunia dengan terus beramal soleh dan di akhirat (alam kubur) dengan dimudahkan menjawab pertanyaan malaikat “Siapa Rabbmu, siapa Nabimu dan apa agamamu?” Jawabannya adalah kerana pemahaman.

Yang sesungguhnya, itulah kampung akhirat (QS 29:64). kepada kaum yang ingkar agar mereka memilih jalan tidak mempercayai kejadian jeritan siksa dari alam kubur tidak berarti.

Allah SWT mengazabnya dua kali, yaitu di alam kuburnya dan di akhirat nanti. Di alam kuburnya dengan dinampakkan kepadanya neraka pada pagi dan petang. Ini merupakan siksaan sebelum dia benar-benar dijebloskan ke dalamnya dan terjadinya. Siksa kubur yang dahsyat itu dapat dijauhi apabila kalian menjauhi empat perkara: tidak suka berbohong, tidak khianat, menjauhi mengadu domba dan menjaga kencing dengan sempurna. Pergunakan lima peluang sebelum datang yang lima.

Para salaf bersepakat tentang kebenaran adzab dan nikmat yang ada di alam kubur (barzakh). Nikmat tersebut merupakan nikmat yang hakiki, begitu pula adzabnya, bukan sekedar bayangan atau perasaan sebagaimana diklaim oleh kebanyakan ahli. Semoga Alah SWT memberi kekuatan dan selalu membimbing kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya sehingga dapat mencapai surga-Nya dan dijauhkan dari siksa neraka-Mu ya Allah, karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu ya Allah. Tidak dapat dipungkiri lagi keterangannya bahwa siksa kubur itu. Astagfirullah, semoga Allah meluruskan jalan pikiranmu di dunia. Dunia tidak ada apa-apanya dibandungkan di akhirat untuk mengingatkan kita akan penyimpangan jalan.

Alam kubur & alam akhirat akan kita lalui bersama nanti. Itu sikap kita menyikapi alam/siksa di alam barzah (siksa kubur) dunia dan menghadapi akhirat (akan mati), turun kau hai Umar jika didatangi oleh kedua Malikat yang sejarah haji di Malaysia; sejarah kaabah; sejarah kerajaan Islam.

Kalau mengikuti statistik blog ini, kata alam kubur, siksa mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat. Berikutnya, yang mati di jalan Allah: QS 3. Ali lalu nabi Muhammad SAW menyerukan “Kelak akan tiba hari pembalasan dan manusia akan menerima catatan perhitungan amal masing –masing, ada yang menerima ganjaran pahala dan atau siksa sesuai dengan timbangan amal manusia pada hari kemudian“. Seruan inilah yang sangat Allah SWT telah membuktikan gambaran yang sangat rinci supaya manusia paham baik pada saat manusia menjelang ajal (sakratul maut) lalu melewati alam kubur (barzah), lalu sampai di pengadilan akhirat.

Dinding, karena kubur adalah dinding yang memisahkan antara dunia dan akhirat. Allah swt yakni alam memperolah Siksa atau Nikmat kubur Alam Ketigabelas: JALAN Allah SWT. Alam kubur: ”Air mata takwa adalah lampu di alam kubur dan racun hewan pemakan jasad di dalamnya” kata Imam Al-Ghazali. Agama kita bukan melarang tertawa. Sebab tertawa itu sehat. Nabi juga beberapa kali tertawa. Akan tetapi, jika berlebihan, ketika manusia disiksa di alam kubur, maka malaikat tiba-tiba berhenti daripada menjalankan tugasnya. Maka terpinga-pinga dan terkulat-kulat muslimin dan muslimat yang sedang menjalani siksa kubur dan tertanya-tanya, “Wahai Malaikat, di dunia tapi sengsara dunia akhirat semua manusia akan mengalami siksa kubur. kecuali orang-orang yang berjihad di jalan. Siksa kubur adakah?

 

 

MATI LALU DI SIKSA

LJ:Pemaknaan Sakratul Maut di dalam Tasawuf itu cukup sederhana saja, dan sudah tidak lagi terbagi-bagi dalam pilihan karena Sakratul Maut itu sudah menjadi Sakratullah dan Hakekat Mati itu sudah bermakna kembali( IRJI”I)

Namanya saja orang kembali, kepada Tuhan, apa berani Malekat itu mau nyiksa Manusia di depan PemilikNya?

SH:Kalau malaikat disuruh PemilikNya, gimana mbak? Pasti mau, kan patuh banget. ya kan?

LJ:Emang tega? Yach, kita demo saja nuntut Janji Nya. Dia itu Maha Murah di dunia dan Maha Kasih di akherat. Memangnya Tuhan plin-plan?

RK: Tiadalah berhak menghukum diri, sekalipun Allah, melainkan diri itu sendiri yang menghukum dirinya, dikarenakan kelakuan sang diri yang melampaui batas/ mencoba melampaui batas. Segala cobaan sudah ada takarannya, tidak ada yang melampaui batas kesanggupan sang diri. Batas di sini bermacam-macam, sang dirilah yang membuatnya. dan atas izin Allah tentunya.

“Janganlah engkau melakukan kejahatan kepada orang lain, karena perbuatan itu seperti menganiaya dirimu sendiri.” Ketika di hisab nanti tanganmu, matamu, lidahmu, semua yang ada di tubuhmu menjadi saksi atas perbuatanmu yang telah berbuat dzolim. Makanya insyaflah orang-orang yang berbuat jahat, karena akan feed back ke dirinya sendiri, dan beruntunglah orang-orang yang dapat teguran ketika masih di dunia, karena di dunia lebih ringan hukumannya ketimbang di akherat.

Jadi tanganmu yang pernah gampar orang yang nggak bersalah, akan menggampar kamu sekeras-kerasnya sampai kamu benar-benar bertobat dan mengakui kesalahanmu.

LJ: @rk: Itu pembahasan di tingkat TK/SD dong, sama saja dengan janji-janji di kasih permen entar baru ber-Iman, Cuma yang point kalimatmu pada:

“segala cobaan sudah ada takarannya, tidak ada yang melampaui batas kesanggupan sang diri, batas di sini bermacam-macam sang dirilah yang membuatnya,.dan atas izin Allah tentunya.”.

Jadi segala bentuk justicefikasi dari Al-Hakim itu sudah batal ketika pencapaian pada akidah yang sejati. Semua dalam bentuk ni’amahu pada saat kesadaran itu memandang kearahNya. Kita nggak lagi berdakwah yang serem-serem, cuma mengarahkan ummat pada kemurnian Akhlaknya.

RK: Di dalam kalimat di atas ada kata diri atau bisa diartikan sang diri. Sang diri dalam hal ini berarti diri menjadikan sebuah pemisahan self / diri /aku. Memisahkan untuk aksi tertentu, kreativitas dan tujuan tertentu dari sang diri. Di sinilah kita pertama kali mengenal yang namanya ‘ego‘ jeleknya ego pasti semua tahu ‘egois‘. Surga level bawah tidak bisa dimasuki buat yang masih punya sifat egois. Camkan itu!

Jika sang diri tidak bisa dalam prosesnya menuju kesempurnaan, masih juga punya sifat egois, maka itulah ada yang namanya agama. Karena dari agama akan terjadi pemberian syafaat secara instant. Saya hanya bicara simulasi surga level bawah, tentunya di level 2 ada lagi tambahannya selain tidak boleh egois. Yach surga level bawah penduduknya paling banyak.

Berdakwah, juga bisa diartikan memberi kabar sampai bisa diartikan memberi peringatan, artinya dari yang polite (sopan santun) sampai yang kasar (menakut-nakuti). Tentunya kadar berbeda-beda itu lumrah.tetapi bisa dikelompokan 7 level, seperti 7 level surga. demikian pula neraka, 7 level neraka.

Tidak ada satupun manusia yang dapat mengetahui kedalaman hati manusia lain, bahkan nabi Muhammad SAW sekalipun. Ketika nabi Muhammad berdakwah dan mendapatkan ejekan dan cemoohan, hatinya sempat gundah gulana, menahan emosi yang berlebihan dan bermaksud meminta Allah untuk menghukum orang tersebut. Allah berfirman: “Hai Muhammad, tugasmu hanya menyampaikan saja, aku tahu dadamu sempit dibuatnya, sesungguhnya Allah maha mengetahui hati orang tersebut dan urusan Allah-lah selebihnya.”

AT: Saat kita memotong kuku / rambut kita sendiri demi keindahan keseluruhan wujud, apakah itu dinamakan kejam?

SH: Iblispun percaya dengan keyakinannya, dan tak patuh dengan perintahNya.

SA: @lj: Apa anda masih merasakan enak dan nikmat ketika disetubuhi? Kalo ya berarti nanti kalo anda mati anda masih terkena hukum surga dan neraka, karena kita semua yang masih merasakan enak, nikmat, bahagia, sedih, susah menderita masih di dalam hukum sebab dan akibat! Jangan menganggap orang sakarotul maut (mati) itu kembali kepada Tuhan. Yang kembali itu ruhnya, bukan pangrosonya. Nanti yang disiksa adalah pangroso!

CR: Kita kembali kepada Tuhan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Kembali ke neraka, surga, atau kepada Tuhan sejati!

LJ:Inna Lillahi wainna ilaihi Ro’jun” Semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Nya jua. Nah, siapa yang mengartikannya akan kembali kepada Neraka?

CR: @lj:

Terima kasih atas masukannya. Secara umum kita memang menterjemahkan ayat yang anda bawakan dengan terjemahan yang anda buat. Dan untuk itu mari kita perhatikan terjemahan umum tersebut.

Ayat yg anda bawakan berisi dua hal yaitu turun dan naik. Bagian pertama menjelaskan ttg asal yg merupakan prinsip turun yg mana manusia memiliki sumber ilahiah seperti disebutkan aku tiupkan kepadanya ruh-Ku (wana faakhtu fihi min ruhi). Tetapi karena ada tingkatan alam, maka asalnya manusia juga mengikuti tingkatan alam tersebut. Sebagai misal kita bisa mengatakan bahwa manusia berasal dari tanah, dlm ayat lain disebutkan “dari sanalah (tanah) kamu berasal dan kesanalah (tanah) kamu akan dikembalikan“. Begitu pula bisa saja manausia disebut berasal dari sperma. Jadi, dalam prinsip turun manusia melalui tingkatan-tingkatan yg terbentang dari alam ilahiah sampai alam dunia. Jadi manusia berasal dari Tuhan (sebab utama yg jauh) adalah benar sebagaimana juga manusia disebut berasal dari tanah atau sperma (sebab yg dekat). Dan boleh jadi dalam perjalanan tersebut manusia tidak mengalami kesempurnaan sehingga tidak bisa lahir ke alam dunia.

Adapun manusia-manusia yg lahir kedunia, kemudian mengalami kematian, maka ini adalah proses/prinsip naik yg merupakan bagian kedua ayat tersebut. Sesuai dgn turunnya manusia melalui tingkatan-tingkatan alam yg terbentang luas dari alam dunia hingga alam ilahiah, maka dalam proses naiknya juga manusia melalui tingkatan-tingkatan tersebut. Salah satu tingkatan alam itu adalah alam barzakh (alam kubur), dan manusia pasti melaluinya. Karena untuk kembali kepada Tuhan membutuhkan kesempurnaan dan kesucian diri, maka tanpa kesempurnaan dan kesucian itu musthail manusia mampu kembali kepada Tuhan Hakiki.

Di dalam kehidupan ini bahkan sering kali kita melakukan hal-hal yg mengantarkan kita pada kehinaan dan kekotoran, dan tentunya dgn semua kehinaan dan kekootoran diri mustahil kita kembali kepada Tuhan Sejati. Itulah makanya, dalam proses naik itu kita sesuai dgn kapasitasnya masing-masing, jika dgn kesempurnaan dan kesucian diri maka kita akan naik menuju Tuhan melewati alam-alam barzakh, neraka, surga, alam akal, dll, hingga bersama Tuhan. Namun, diri-diri yg jauh dari kesempurnaan dan kesuican bahkan dipenuhi kotoran dan kehinaan tentu saja tempat kembalinya adalah neraka, yg dalam hal ini merupakan salah satu dari menifestasi Tuhan. Jadi, maksud kembali kepada-Nya, bukan berarti bersanding dengan-Nya, tetapi bisa berarti kembali kepada manifestasi-Nya dalam beragam bentuk. Kemanapun kamu menghadap di situ wajah Allah, begitu salah satu firman Tuhan. Karena itu, tempat kembali manusia bisa surga atau neraka yg juga manifestai Tuhan. Tuhan berfirman “Wahai jiwa yg tenang kembalilah kepada Tuhanmu dgn rida dan diridhai, masuklah ke dalam hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaku”. Wallahu a’lam!.

LJ: @cr: Mantaap, setuju! Tetapi, cerita-cerita kayak yg begituan sih hanya pembelajaran bagi para awam biar jangan bikin kerusakan di muka bumi ini, alias batasan-batasan dalam textual yg sesak dengn teori-teori yg keluar dari pikiran-pikiran yg penuh dg kekhawatiran. Yang intinya, katanya manusia bisa membedakan hak wala bathil. Tapi siapa sih mau ngerjain yg batil-batil? Siapa sih mau masuk neraka? Dalam pemahaman di diskusi ini adalah sudah sampai kepada persyaksian, bukan kepada bahasan-bahasan yg ada di buku-buku diniyah atau ibtida’iyah sana. Sehingga saya mengajak untuk kita bedakan Sakratullah dgn Sakratul Maut itu. Biar kita sudah melintasi image yg serem-serem. Jadi Ibadah itu dilakoni dg ikhlas, bukan krn embel-embel, janji-janji manis textual dan juga bukan karena ancaman-ancaman bom di neraka.

SA: LJ, anda berbicara innalillahi wainna ilaihi rojiun, apakah anda sudah mengembalikan seluruh yang ada pada anda kepada Tuhan? Termasuk nafsu anda yang senang disetubuhi? Berarti anda tidak mau masuk neraka hanya ingin masuk surga, sing enak-enak thok! Enak banget, milih sing enak, anak TK saja sudah bisa membedakan enak dan tidak enak!

J: Ada apa sih? Kok anda kayak mulut perempuan saja? Ini nih, forum diskusi! Walau banyak debat, tetapi tetap dalam batasan-batasan norma-norma yg baik. Keliatannya anda datang kayaknya sebagai Addmin pemilik dinding ini.

Ini forum dewasa, jangan sembarangan, dari awal itu saya sudah baca beberapa coment anda itu. Disini bebas berbicara, dalam arti yang kontroversi membuka wawasan sebebas-bebasnya, dan kalau takut sesat jangan masuk sini dong? Coba baca ulang nama Group ini, jangan-jangan anda salah masuk khan? Kalau memang belum memahami banyak hal lebih baik membaca yang lain saja yaa?

Karena kalau saja anda menyimak dulu, entar pasti faham. Nah kalau sudah error(?), jangan ngomel-ngomel yach! Salam Ukhuwah.

Esensinya Semua Judul dan Tulisan disini bukan dalam konotasi semata, jadi keliatan lewat coment-coment semua disini yang faham atau belum, ok? Jangan dulu se’uzon!

AS: @lj: Kenapa harus terhenti dg panggilan-panggilan anak muda, lanjutkan saja, nanti setelah dia banyak membaca, insyaallah faham juga. Tidak biasanya kamu terbebani dg hal-hal demikian. Silahkan dilanjut!

NA@semua: Ada bebarapa makna yg mungkin kita bidik agar menjadi benang merah buat memahami bahasa-bahasa di dalam ilmu Syaikh Siti Jenar. Yang paling utama adalah kita memahami hakekat diri kita, karena bahasan-nya tidak akan keluar dari alam ke-diri-an atau Buana Alit. (Alam Kabir = Buana Agung) Akan tanpak setelah memahami yg di dalam diri. Lanjuuut!

SA: @lj: Seharusnya anda memahami dulu apa yg anda katakan sebelum sewotnya keluar. Telaah kata-kata anda fahami. Sepertinya anda belum faham dg apa yg anda tulis. Pada dasarnya semua yg bisa dikatakan itu adalah teori dan Tuhan tidak butuh dg teori saja tapi terealisasi menjadi nyata, bukan ocehan yg tak ada bukti. Kamu masih terasa nikmat bila dis****uhi laki-laki? Itu bukti kamu belum kenal Tuhan, karena kamu masih terasa nikmat.

LJ: Hehehehe, maaf AS? Usssttzz, memang sih sedari awal saya sudah faham kok lagi dialog sama siapa gitu, makanya sedikit kita turun pakai gaya mereka. Insyaalah semoga nanti mereka juga menemukan dirinya.Amiin!

SA: @as: Anda bukan Syech Siti Jenar yg mungkin sudah bertemu dengan Tuhan dg kuhni dzatnya, anda masih dalam teori, teori dan teori. Bulsit, semua itu aku rasa di hadapan Tuhan. Tuhan tidak butuh buana alit, buana agung dan buana-buana yg lain.dan diri bukanlah Tuhan. Tuhan dan diri itu berbeda, lagi-lagi semua itu hanyalah teori.selama kita masih suka dilihat orang, bangga bila dipuji orang, takut dengan lapar dan miskin, gila dengan kehormatan dunia. Kotoran a***ng semua apa yg kamu ucap!

@lj: Jangan pamerkan ilmunya anak kecil yg baru belajar tassawuf seperti itu di hadapan kami! Kamu masih gila dengan harta,.coba evaluasi diri dan instrospeksi diri dulu, masih punya rasa sombong dan suka dilihat orang saja sok gaya, sudah berma’rifat.sudah kayak rab’ah adawiyah saja lu. Ilmu masih dalam teori tak usah dipamerkan!

LJ: Hehehehe, betul juga yah! Aduuuh @sa: Apa yg kamu ucapkan bagus juga dan buat bahan evaluasi, mantaaap!

NS: Biarkan Anjing Menggongong, Kafilah tetap berlalu…

Makanya LJ, lihat-lihat dulu kalau anak-anak yg lagi main dolanan, jangan dikasi uang dong? Malah jadi sia-sia, dia akan tetap saja nangis minta permen, mana bisa dimengerti? Anak yg nggak tahu mata uang, itu akan slalu dianggapnya benda aneh.

LJ: Ussstz, sudah tuh dikasih permen, makanya diem saja dulu. Namanya kita sedang menghadapi anak-anak harus bisa lihat sikon.

AS: Ternyata saya juga salah kemarin, yg kebetulan lewat di sebuah taman, saya nyoba-nyoba lempar uang seratusan, yaaah sia-sia jadinya, ternyata mereka hanya butuh pisang.

Gimana ngejelasinnya? Kalaulah itu uang, karena yg ada diotaknya hanya yg empuk-empuk saja. Masyaallah, memang semestinya harus evaluasi diri.

CR: @lj:

1. Saya kurang paham apa yg anda maksud orang awam. Apakah orang yg tidak mengerti agama dg seluruh kaitannya, atau orang yg masih bisa ditakut-takuti dg neraka dan diiming-imingi dg surga. Mungkin yg anda maksud adalah yg belakangan. Maaf, terus terang saya sendiri belum melihat argumentasi dan penjelasan anda yg memenuhi syarat penjabaran filsofis maupun sufistik. Dan tentunya dlm diskusi ini diperlukan argumentasi yg sesuai nalar dan prinsip-prinsip sufistik, bukan sekedar mengatakan ini awam dan itu khusus. Bisakah anda tolong saya untuk menjelaskan teori-teori yg menurut anda tidak berisi kekhwatiran?

2. Pembicaraan agama memang memiliki lapisan-lapisan tekstual hingga substansial, dan tentunya menghubungkan lapisan-lapisan ini adalah hal yg sangat baik. Memahmi setiap lapisan itu penting agar tidak terjebak dlm lompatan pemahaman yg tidak akurat.dan tentunya setiap lapisan ini memanifestasikan keyakinan pd tingkatannya. Karena itu, tidak ada satupun sufi yg mengingkari lapisan tekstual atau syariat, bahkan hal ini merupakan batu tapakan untuk menuju penyaksian.

3. Neraka dan surga di satu sisi adalah balasan dan ganjaran, tetapi keduanya pada maratib al-wujud adalah termasuk wujud yg merupakan manifestasi ilahi. Jadi, pada tahapnya keinginan pada surga dan neraka bukanlah ditujukan pada surga dan neraka, tetapi ditujukan pada Tuhan, sebab surga dan neraka adalah manifestasinya. “Aku mencium dinding pagarnya LJ, bukan karena dindingnya, tetapi karena pemiliknya/penghuninya”, kata Majnun. Jadi, dalam perjalanan si Majnun, terkadang belum bisa bertemu LJ, dia hanya bisa sampai ke dinding pagarnya. Tapi Majnun tidak ingin terlena hanya pada pagar dan rumahnya, karena tujuan hakikinya adalah bersatu dgn si LJ. Memang untuk menjadi seorang sufi jelas harus menghilangkan segala jenis keinginan terhadap makhluk Tuhan (termasuk surga dan neraka), karena yg ditujunya hanya Tuhan. Karena itu wahdat al-wujud adalah puncak tertinggi pencapaian insan, bahkan penyaksian yg anda katakan masihlah level bawah untuk menjadi seorang sufi.

4. Jika telah memahami sedikit penjelasan di atas, maka kita bisa memahami bhw ayat “inna lillahi wa inna ilaihi ro’jiun” memiliki lapisan-lapisan pamahaman dan manifestasi. Kembalinya kita sesuai dg kemampuan dan kapasitas kita apakah hanya kembali sampai ketingkatan wujud binatang, tingkatan wujud setan, tingkatan wujud neraka, surga, malaikat, manusia, atau tingkatan bersatu dg Tuhan. Jadi kembali kepada tingkatan-tingkatan tersebut, juga dikatakan kebali pada Tuhan (manifestasi Tuhan ditingkatan tersebut), dan tentunya kembali yg hakiki adalah kembali pada Tuhan sejati (whdat al-wujud). Inilah yg ingin saya katakan dlm diskusi ini agar kita tidak terjebak pada pembahasan tasauf, irfan, atau mistisisme yg jauh dari argumentasi nalar dan wahyu, tetapi hanya khayalan para psudosufism (tasauf semu).

Imam Ali berkata: “Janganlah kamu beribadah karena takut pada neraka shg menjadi budak, atau ingin pada surga sehingga jadi pedagang, tapi beribadahlah dg kemerdekaan karena memang Tuhan layak disembah”..

5. Keikhlasan adalah salah satu syarat penting dlm seluruh aktivitas manusia, dan tentunya keikhlasan juga memiliki lapisan-lapisan dari syariat, tarekat, hingga hakikat. istilah Lillahi ta’ala juga memiliki lapisan pemaknaan sbg manifestasi keikhlasan. Dia bisa bermakna “karena Allah”, “untuk Allah” dan “milik Allah” atau “hanya Allah”. Sekali lagi, semua sebaiknya berbuat sesuai dg kemampuannya, karena hal ini hanya enak dibicarakan tapi sangat sulit untuk dipraktekkan. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah swt untuk terus mendekat kepada Wujud-Nya. Semoga bermanfaat. Maaf, wallahu a’lam.

JH: Nah ini nih yg agak dewasa, karena orang awam berdiskusi itu, tanpa ada ujung pangkal, yg dating-dateng menghujat-hujat orangg lain. Kesenggol dikit sudah tambah marah, semakin buruk mulutnya. Yach,  kayak saya ini kwk kwk kwk kwk kwk kwk

SA: @cr: Benar kata anda.dan untuk anda LJ, AR dan NS, ilmu kalian sudah tak asing bagi kami dan apa yg kalian omongkan itu hanyalah buku bacaan yg banyak dijual di toko-toko, anak TK-pun bisa menbaca dan memahaminya. Lagak kalian kayak aulia’ saja. P**is sik bisa berdiri ae polah tok! Kau tahu ilmu Alloh itu tak terbatas, kau anggap ilmu yg kalian miliki itu yg paling tinggi. Hebat bener kau sedah sejajar dengan Tuhan,.seharusnya kalian malu dengan Alloh dg para aulia’ yg hidup mereka diabadikan penuh pada Tuhan, tidak hanya bisanya ngedabruz tok pamer ilmu muter-muter tak tahu jurusanya. Aku yakin kalian hanya bisa ngomong tok buktinya gak ada.wong 3 titik ma’rifat masih ngowos ae berlagak kayak nabi! Tong kosong nyaring bunyinya. Kwaaaakkkkkkkkkkk

@lj, @ns, @as: Kalian sudah teracuni pemahaman Syech Siti Jenar, apa hebatnya tokoh kalian itu ilmunya cetek manusia seperti Syeh Siti Jenar mau menyaingi nabi Muhammad yg notabenya sudah melihat Alloh dengan kesempurnaan kuhni dzatnya. Orang seperti kalian, jangankan aku yg memberi komentar seluruh nabi dan rosul seandainya mereka hidup tidak akan mampu menyadarkan kalian yg sudah menjadi iblis dalam agama.

WB: Pada dasarnya tidak ada, ilmu itu memiliki tingkatan-tingkatan tersendiri, dan takaran orang awam itu tidak mesti nampak pada zohirnya. Ia mampu menjelaskan atau tidak akan sesuatu yg difahaminya dari kajian ilmu-ilmu. Namun itu sering kelihatan pada sikapnya menjaga keseimbangan yg ada pada dirinya. Jika di dalamnya memang sudah sakit maka tentu akan keliatan pada wujudnya. Jadi orang memahami akan selalu berkata-berkata yg baik.

Bukan hanya berpengetahuan yg tidak diimbanginya dg ZauQiyah / rasa yg ada pada dirinya, sehingga apa isi kepalanya saja yg keluar. Mari diskusi dg tanpa terbebani dg emosional, yg malah semakin menunjukkan kedirian itu.

UJ: Bagi yg mungkin merasa asing dgn kalimat-kalimat atau wejangan di sini, akan sangat bijak untuk diam dulu, jangan asal mengumbar fitnah dg keras kepala, shg malah menjauhi esensyi makna topik yg ada. Diam sambil menyimak lebih utama drpd begitu selesai membaca, tidak mesti wajib coment, apalagi kalimat yg di hantar oleh rasa kebingungan yg juga terbungkus amarah.

SA: @uj: Sudah dikatakan bahasan ini forum diskusi ini sudah banyak dan sering terdengar karena sudah banyak dicetak dalam buku-buku agama, dan tidak asing lagi.kalau anda menganggap ini asing anda yg kurang pengalaman. Teori itu mudah! Ngomong hakikat, ma’rifat dan Tuhan itu mudah, menjalankan teori itu aku rasa yg sulit.dan aku yakin anda belun tentu bisa, termasuk saya dan semua yg ada dalam forum ini.bisa. Kita cuma berkoar-koar pamer ilmu.Tuhan, itu nyata dan Tuhan itu goib yg ke goibannya tak mungkin bisa diterangkan dengan omongan yg ngedabruz tak ada buktinya..

Yang lebih baik itu adalah: diam! Itu sebaik-baik dan sepandai-pandai dan semengertinya manusia adalah diam, walaupun dia berilmu tinggi tapi diam. Itulah aulia’ Alloh.

RK: Widiiihhh, maklumat dari dul kenyot / SA:

“Yang lebih baik itu adalah: diam! Itu sebaik-baik dan sepandai-pandai dan semengertinya manusia adalah diam, walaupun dia berilmu tinggi tapi diam. Itulah aulia’ Alloh”. Maklumat itu untuk SA, atau orang-orang seperti yang seperti itu, atau keseluruhan? Itu berlaku untuk waktu lampau, sekarang, atau selamanya? Atau dari awal hingga akhir? Bagi orang-orang yg dirinya diam, bagi semuanya jika itu sebagai kesadaran diri bukan untuk menghakimi.

SA: “missing text”

RK: Itu kan kata kamu yang merasa dihakimi, lain lagi bagi yang sedang merasa ingin memengetahui kemudian bertanya. Please dong ah, dul kenyot kamu jangan egois dong. Menyamakan semuanya dengan dirimu secara mutlak!

SA: Bukan dari lampau, sekarang atau selamanya, tapi berlaku pada semua yg merasa diam, ini untuk diriku dan semua.

@rk: Hai iblis Sabto Darmo, ilmunya lawakan Srimulat kamu tamatan SD ya? Tak bila men tela’ah kata-kata! Gobloooooooook….! Kwakkkkkkk

RK: Widihh, tong, tong. Kacau balau tong, tong. Jangan-jangan mandi saja masih dimandiin emaknya nih. Ilmu Allah luas tong, bukan seperti yang elo andaikan, yg sempit itu. E buju-buneng, e buju-busyet.!

SA: Ngomong mah iblis tak ada habis nya ini….kwakkkkkkkkkkk…kwakkkkkkkk sabto darmo!

AW: @sa: Panorama uraian anda jungkir balik.!

SA: @aw: Panorama Tuhan juga sudah dibalak-balik dan dijungkir-balik oleh manusia!

AW: Tapi saya ingin bahas jiwa dari argumen anda!

SA: @aw: Apa maksudnya tolong di perjelas! Soalnya saya orang bodoh.

AW: Bukankah tiap individu memiliki kadar sesuai dengan keadaannya. SA, berlaku bagaikan dinding batu demi proteksi pada pemahaman keluar jalur. Di sisi lain bagai kanebo yang meresap air dan agak malas untuk meneteskan, tapi tetap merembeskan airnya. Pemahaman mulia dinodai melalui argumen cadas namun melukai dirinya sendiri.

SA: @aw: Mulia tapi menimbulkan fitnah apa gunanya? Cadas, melukai diri sendiri bila diperlukan untuk semua, mengapa tidak? Tuhan sudah dijungkir-balik pemahamannya, apa salahnya aku ikuti gaya kalian yg jungkir-balik. Menghadapi iblis harus jadi iblis, menghadapi Tuhan harus jadi Tuhan. Soalnya Tuhan sekarang jadi banyak.

AW: Point 48 kalimat kalian seoalah anda memisahkan diri. Coba baca lagi tiap kalimat yang anda uraiakan. Anda melempar makna terselubung tapi anda yang menikmatinya..

SA: @aw: Apa maksdnya tolong diperjelas! Saya ini cuma lulusan TK, jadi perlu wawasan dari anda!

AW: Maaf, sifat merendah bagai buah yang sangat ranum untuk dipetik.Trimakasih.

uraian anda, banyak yang ingin mengcounter rekan-rekan yang ada di forum ini. Seolah anda sangat memahami apa yang menjadi muara dari diskusi. Dan saya percaya anda memang mengerti, di sisi lain anda memberikan serat pemahaman yang malah memunculkan kedirian anda, bukankan ini forum diskusi? Siapa saja boleh berargumen sesuai dengan kadarnya.

SA: @aw: Kedirian adalah milik tuhan dan tuhan bukan milik kedirian, diri adalah diri dan tuhan adalah tuhan. Forum diskusi yg berbuah fitnah ini menurut pendapat saya orang yang berotak sempit!

NS: @aw, @rk: Anda-anda para senior-senior di sini, memang kadang-kadang sesekali kita akan bertemu manusia-manusia aneh. Itu kan mungkin yg lagi kesasar nggak tahu arah & kebingungan mencari sesuatu. Jadi semoga dg pertemuan dg anda-anda semua bisa bermanfaat baginya. Karena ini hanya proses, yg menganugrahi kita silaturrohmi, walau mungkin dalam warna yg agak beda, mari kita terima sbg tamu yg baru. Dia sudah banyak menunjukkan siapa dirinya, lewat kata-kata manisnya, yg menurut dia itu baik dan mungkin itulah bahasa-bahasa kemuliyaan baginya atas semua pengalaman spitiritual yg pernah ia lakoni.

LJ: Kita berharap semoga saja saat ini kita sedang menyenggol sebuah tempurung, dengan harapan kataknya bisa keluar dan agak bebas melihat banyak alam yg lebih luas lagi. Hehehehe. Amiiin!

AW: Saya respek dengan SA. Melihat antusiasnya untuk berbagi di forum ini, sebagai individu yang memiliki pengetahuan, tapi sedikit ada sentilan, perihal ending akhir dari al kisah sepak terjang ABUNAWAS. Menurut cerita ABUNAWAS yang sangat nyentrik menghentikan perilakunya yang senang membuat kontroversi. Setelah didatangi oleh orang bijak yang mengatakan padanya kalimat ini: “Wahai Abunawas, andai kau tak bisa menjadi garam dalam kehidupan ini, tidak usahlah engkau menjadi LALAT”.

Kembali ke Topik :Mati lalu disiksa

———————————————–

sebagaimana hukum yang sangat tua umurnya di alam semesta yakni: hukum sebab akibat, telah ditetapkannya surga dan neraka sebagai kosekwensi adalah rahmat yang sangat besar yang sangat patut disyukuri. Perihal adanya penafsiran/persangkaan yang menghidari hal tersebut itu dikembalikan kepada individu, sebab pada dasarnya kita ini hanya makhluk yang selalu berharap akan ridha Ilahi. Serta bagi yang meyakini dan telah mengalami hal diluar konteks itu adalah hak Mutlak Ilahi kepada Makhluknya, tapi pembahasan ke hal tersebut akan selalu berakhir dengan makna bias.

Menyimpulkan akan apa yang akan ditetapkan Ilahi kepadanya adalah persangkaan belaka, sebab makhluk hanya bisa erharap akan ridha Ilahi Kepadanya.

JH: Mantaaap…! Jika saja memang kita memiliki pengetahuan buat diskusi, yach pasti yg keluar adalah coment yg punya makna dab manfaat, setujuuuu!!

Tapi yg memang hanya masuk buat menghujat-hujat sih, adauuuuh duh huuuuh, ami-amit dong malah semakin keliatan bodohnya saya. Hahahahaha

SA: @ns: Kami memang orang tersesat, apa kalian tidak tersesat? Teliti dulu diri kalian semua! Dasar kalian semua orang yang suka basa-basi yang tak sadar jika kaliam juga tersesat. Kalian semua juga orang bingung! Sama seperti kami! Ngomong ngalor-ngidul yang tak tahu arah. Kalian semua kebanyakan omong kayak anak kecil yang baru bisa ngomong, yang tak mungkin sampai kepada tuhan!!!!!!!

@lj: Kami memang katak yang ingin keluar dari tempurung dengan izin dan bantuan tuhan kami, sedangkan kalian orang yang bodoh yang tak mau keluar dari ilmu, pengetahuan dan kebodohan kalian sendiri.

KA: Ckc ckc ckc ckc ckc ckc. Bagus sekali bunyi dakwahnya?

AH: Biasa Ki! di dalam berdiskusi terkadang harapan kita bisa berMuzakaroh, malah sesekali jadi Mujadalah. Namanya kita berkumpul banyak wrna. Dg wejangan-wejangan di atas, pada saatnya nanti semoga bisa juga jadi renungan tatkala mengharap Al-waridh yg dapat melunakkan kerasnya hati. Karena melayani debat bagi yg keras kepala malah nantinya kita ikut-ikutan terseret ke Alam Amarah. Semoga manfaat semua. Amin!

CR: Bagaimanapun dalam membincangkan keagamaan dan terutama ketuhanan jelas harus dengan nalar yg jernih dan hati yg suci. Ungkapan-ungkapan yg tidak layak pada Tuhan sebaiknya dihindari dalam ruang publik, sebab pengalaman seseorang adalah milik pribadinya dan bukan konsumsi publik. Saya teringat apa yg dikatakan Ibnu Arabi ttg Hallaj, bahwa kesalahan Hallaj adalah mengucapkan apa yg dialaminya ke ruang publik disaat posisi fana.

Begitu pula, pembicaraan ttg ma’rifat sekalipun tidaklah bisa dijauhkan dari nalar syraiat dan rasional karena bagiakan kulit bawang, setiap lapisannya akan membuka lapisan yg lain, dan tentunya semakin terbuka lapisan marifat maka akan semakin kuat syariat, hati dan akalnya. Pada saat itulah, jiwanya akan terbang menuju keharibaan ilahi, melalui maqam-maqam manifestasi yg tak terbatas.

LJ: Betul Mas! Makanya di sini dinding khusus yg namanya sudah jelas-jelas buat siapa yg memang memiliki dasar pemahaman ttg Zauq yg senantiasa membuka pikiran bebas dalam segala prasangka masing-masing.

Lihatlah pada topic-topik yg lain! Tuh, aduuuh kalau dilihat dg kepala gambling, yach gila semua tuh. Makanya kita di sini mengasah otak berbagi rasa, bukan mau membanding-bandingkan. Ini saya lihat forum khusus bagi yg sudah agak enjoy, berusaha melepaskan beban agar nggak terusik. Jadi yg menghujat-hujat, biarlah nggak apa-apa kok.

AH: Saya juga setuju, jika kita masih terusik dan ikut marah-marah.berarti terpancing dong? Jangan-jangan memang anda dan kita semua lagi diuji oleh para sohib-sohib kita. Hahahahaha

RS: Owalah, ternyata masih saja seperti dulu, janganlah kalian mengalungkan intan di leher BABI. Kkwakwakwkakwakwka…………..

MATI LALU DI SIKSA, saya sangatlah setuju dengan ini karena tuhan itu maha EGOIS. Tuhan hanya ingin bersenang-senang sendiri. Semakin terbuka mata hatinya maka tuhan akan semakin mentertawakan dan mengombang-ambingkan hati yang terbuka. Hahahaha. Siapa suruh buka hatimu? Ooooo hihihihihihi!

MATI LALU DI SIKSA,

Siapa yg mati?

Kapan matinya?

Siapa yang nyiksa?

Dimana disiksanya?

Wah kok jadi pusing mikirin mati sama siksa, apa gara-gara baju ini?

Kayaknya musti lepas baju dulu baru mulai dara awal lagi!

Om, saya satpol PP, anda saya tangkap karena tidak berbaju dan bercelana. Anda ini kalo orang normal pakai baju, kalau sudah gak normal sini saya masukin panti rehabilitasi Wkakwakwk, makanya om jangan suka telanjang sembarangan, huahahaha.

AS: Aduh maaf mas, habisnya enteng banget mau kemana-kemana kalau gak pakai baju, gak ribet dan gak bikin kecantol!

RS: Ya memang enteng tapi tetep anda harus saya masukkan panti rehabilitasi, coba saja anda ke pasar gak usah pakai baju dan celana, halah paling gak brani. Kwakwk.. Orang kalau mau jadi gila jangan setengah-setengah om. Wkawkakwka… Harus total gila dong…….!!! Wkwkwkkkk……!!!

RS: Kalau gila mah jangan setengah-setengah om!

AH: Tambah suerrrruuu neh kalau ada si RS, ternyata semua kata-katanya masuk akal juga tuh. Jangan mengalungkan intan di leher babi, dalil dari mana?

RS: Busettttttttttt!! Om, yang berdalil itu siapa? Masih gak tahu ya om? Kwakwak! Apakah masih harus dan perlu dijelaskan? Hahahaha

AH: Kwk kwk kwk! Kok ketularan neh, banyak tawa, semoga saja babinya sudah masuk hutan dan kalungnya buat kita-kita neh!

RS: Huahahahaha! Ya sukur-sukur dikalungin ke diri masing-masing om, saya gak habis pikir saja di forum ini buayank sekali intan-intan bertebaran dimana-mana. Sayang cuma hanya beberapa orang saja yang mau memungutnya, dan so kaya-raya donk, intan gitu loh. Hehehe.

Lalu pertanyaannya mengapa dan mengapa kalian hanya mengalungkan intan di leher BABI dari pada di leher DIRI sendiri yang suka gak pakai baju? Sudah TUA pada telanjang lagi. gak malu apa? Busettt rupanya sudah tidak punya kemaluan lagi! Hahahahahaha …..

SA: @all: Ilmu kalian seperti lawak srimulat saja, cocoknya ditonton manusia yg butuh humor! Tarzan berkata: “Mbul-mbul dari mana asalnya ayam.?” Timbul menjawab: “Ya dari telur Zan.!” “Kalo telur dari mana asalnya Mbul.?” “Ya dari ayam to Zan!” “Kok mbuleg ya Mbul gak punya titik temu?” Itulah ilmu yg kalian bahas menimbulkan fitnah saja. Sok kementer melampaui tuhan.

@lj: Sepertinya anda itu cocoknya jadi wts saja! Sebab anda pastinya lebih suka kumpul kebo dari pada menikah secara syareat yg bersebab dan akibat, bila perlu kawin saja dengan k***au besoknya, lagi kawin sama ****ng karena menurut ilmu kalian semuanya kembali pada diri dan setiap diri adalah aku. Jadi ****ng dan k***au juga aku.nah cocoknya LJ disetubuhi oleh ****ng dan k***au. Maaf itu penafsiran orang bodoh seperti saya. Kwakkkkkkkkkk (Adakah ini fitnah?). Diskusi yg mulia katanya namun mengundang fitnah.

AH: Alhamdulillah semoga Tuhan menerimamu di sisinya.

LJ: Turut berduka-cita, semoga arwahnya diterima di sisinya. Hehehehehehe.

Tamat yah? Jangan heran mas SA, walau kamu jungkir-balik memaki-maki disini, tidak akan sama sekali mengusikku, karena memang tempat duduk kita beda. Ya kamu duduk di rumahmu, dan saya duduk di rumahku . Hehehehehehe.

AH: Kasian juga memang jika orang meludah menghadap ke atas, ludahnya hanya nyampai ke wajahnya sendiri. Lanjut ah!

SA: Pelacur dan germonya bersuara rek! Kwakkkkk kwakkkkkk.

*********************T A M A T*****************

Mati ahh, enakan mati. Siapa yg mati ya?

********************TAMAT*******************

MATI LAGI AHHHHHHHHH….

RE: Begini neh kalau pada kurang tidur.

SH: Hehehehehe, perkataan-perkataan dan persangkaan-persangkaan sebenarnya untuk dan dari DiriKu sendiri. Tiada celah bagi manusia untuk bertindak atas keinginannya sendiri. Dia melakukan untuk DiriNya sendiri. Jasad beku tak akan bergerak dg sendirinya..

RS: @sa: HUAHAHAHAHA! Entah kamu sadar atau tidak, sebenarnya kamu itu lebih ahli dari pada ustad dan kiyai bahkan wali songo pun tunduk kepadamu, tapi saying iblis masih gak mau tunduk kepadamu. Mau tahu kenapa iblis gak mau tunduk padamu. Karena kamu sama seperti DIA wkawkakwkawkakwa

AH: Aduuuh, saya kagum olahan bahasamu. Tidak sia-sia orang tuamu mendapat anugrah Nya.

NS: Yang diajak ngomong itu di sini manusia oooy. Karena kalau sesama manusia bisa kita saling mengerti dan diskusinya jalan dong?

SH: @ns: Oleh sebab itu hargai dan hormatilah keDirian yg menguasai jasad beku ini. Setiap keberadan pada maknanya telah tertunduk pada Zat Maha Kuasa dan setiap pengertian maupun diskusi sedang menuju jalan tauhid inilah yg sedang diarahkan olehNya.*smiles*

NS: Siiip! Setuju jadi semakin keliatan neh, mana manusia-manusia yg sejati, pasti tahu diri.

SA: ****ng dan k***au juga diri lho!

………………………….T A M A T…………………………….

MATI LAGI aku rek! Mati itu enak!

Sesama IBLIS dilarang diskusi karna hanya menyesatkan manusia!

*******************T A M A T***********************

Iblis juga DIRI lhooo bro, mati lagi rek!

RS: Hahahaha, sumpah om SA ini bikin saya sakit perut ketawa olehnya. Huehehehe bahkan sang iblis pun terdiam olehnya. Siapa bilang iblis itu menyesatkan, justru iblis itulah yang membimbing anda ke jalanNYA Hahahahaha.

AW: Jalan yang mana?

AH: Kalau sapi yg diikat itu lehernya dg tali, kalau manusia yg diikat itu lidahnya dg mawas diri. Tapi kalau Iblis yg diikat itu apanya? Kwk kwk kwk.

RS: Om, ya jalan iblislah jalan yang mana lagi. Kalau iblis itu diikat keakuannya.

AW: Jalan yang satunya jalan siapa

AS: Iblis-iblis sama-sama bersuara lantang menunjukkan ke-iblisannya! Sesama iblis dilarang berdebat! Ilmunya menyesatkan!

…………………………….T A M A T…………………………

MD: @all: Kalian gak sadar bahwa ilmu kalian ditertawakan oleh orang yg menurut saya ilmunya di atas anda, biarpun SA masih muda, terlihat dari uraiannya ia sudah tahu muara ilmu anda. Maaf itu menurut saya yg bodoh ini,.ia menyindir anda dengan kata tamat, masak anda gak faham? Katanya ilmu anda tinggi dan dalam? Sekali lagi maaf, mari sama-sama evaluasi diri!

IS: Benar sindiran mas SA, dia menyarankan untuk diam tak banyak kata-kata. Teori itu mudah mengerjakannya, yg sulit.ngomong, komentar yg tak menemukan titik temu, yg lebih baik dikerjakan apa yg sudah kita tahu dari sebuah ilmu. Lebih baik diam seperti diamnya para aulia’, Alloh mereka tidak banyak bicara seperti kita, tetapi banyak berbuat.

<<<<<<<<<<<<<<<T A M A T<<<<<<<<<<<<<<

SH: Ini forum diskusi yg bernama SSJ, semoga jelas dan faham. Be happy.

AW: Diam dan pura-pura tau atau pura-pura tidak tahu sangat tipis bedanya. Diskusi kadang mencerahkan dan membawa manfaat jikalau hati tidak lagi gundah dari terpaan-terpaan arah. Hilangkanlah umpatan, sebab biarpun sebait kalimat bermakna itupun sudah mewakili perbuatan.dalam forum ini, kita sudah berbuat.

AH: Mantap! Itulah yg sulit ditembus. Bagi yg memang tidak mau mengakui, maka semakin diri itu terbelilit kekonyolan-kekonyolan pada dirinya. Sebuah sikap dan kalimat-kalimat terkadang begitu tidak perlu dijelaskan panjang-lebar jika hanya mengiris-iris pada lapisan luar. Sedangkan di forum ini sudah pada melepas beban yg justru, sedikit saja kita membuka diri maka mafhum setiap keegoan itu akan luntur dan kita akan cepat saling berterima.Namun jika memang dasarnya sudah terbebani, maka jungkir-balikpun disini. Menghujat-hujat, mengumpat-umpat, tidaklah akan memberi makna apa-apa pada diri. Justru kegalauan itu senantiasa akan ttp terbawa di alam nyata itu.

Ini forum diskusi SSJ, jadi para salik di sini tentunya sudah banyak mengarungi alam rahsa, jadi bagi yg memang sengaja ataupun tidak, setiap kata-kata yg dilempar dg ketidak tahuan dan atau sengaja dan atau kepura-puraan, maka itu akan jelas sekali.

Karena di forum ini orang tidak hanya membaca tulisan itu semata. Namun si penulispun bisa terbaca alam duduknya. Makanya sering dikatakan ini forum dewasa.

JH: Kalau mau diam, yach jangan diskusi dong! Itu semedi namanya bro, ngajak-ngajak diem kok repot-repuot masuk diskusi? Lucu memang, bener juga tuh jeruk makan jeruk! Kalee! Sekalian saja bawa suporter kemari.

Kalau mau cari pembenaran diri? Jangan di sini bro, tapi kalau mau cari kebenaran, kalau diri itu datang dg kebenaran, yach pasti disambut dg kebenaran pula. Ngajak orang evaluasi. Evaluasi yang lain itu semua ucapannya. Dari awal biasa-biasa saja kok lalu yg mulai nulis hujatan-hujtan, cercaan-cercaan, itulah yang evaluasi. Kok malah nyuruh orang lain evaluasi, yg mana? Yang sudah duduk sopan duluan? Atau yang baru datang terus menghujat?

RS: Siapa yang merasa tinggi tingkatannya maka semakin pula ia terdampar di neraka dirinya. Memang ini nafsi-nafsi saja lagi, tapi mengapa tuhan menciptakan kita berpasangan? Mengapa tuhan mengadakan banyak orang? Ingatkah anda bahwa hidup ini hanya main-main dan canda-tawa belaka.

It’s very stupid. Apakah hanya dengan kata TAMAT lalu anda merasa juara bertahan, lalu habiskah sampai disitu? Owalah, itu hanya awalnya saja. Jangan menyangka anda sudah memasuki full semuanya. Itu hanya awalnya saja, memang anda lebih tua ya wajar saya harus menghargai anda. Tetapi disini, yang tak terpakai hanyalah akan menjadi bangkai!

SA: Kami hanya mengingatkan dan memberi tahu bahwa ilmu yang kalian semua bangga-banggakan dan kalian bengar-bengorkan belum tentu benar. (Tebasan pedang lebih utama daripada belaian wanita bertutur kata indah)

@jh: Kebenaran bukan milik kalian (forum kalian) dan kami tak butuh pembenaran dari kalian yang bodoh, dungu, dan bahlol..

@rs: Kalau hidup ini hanya main-main, mati saja lo. Ilmu yang tak terpakai itulah ilmu yang langka yang justru harus difahami, sedangkan ilmu yang kalian anggap benar, kalian anut, banyak dijual di jalan-jalan yang belum tentu benar. Bonggooooollll

JH: Hanya dengan mengatakan TAMAT, sudah dianggap berilmu tinggi? Dari semua kalimat-kalimatnya sudah terbaca bagaimana diri itu kasar. Dari semua awal kata-kata wejangan halusnya orang berilmu tinggi? Kalimat-kalimatnya begitu halus, bijaksana, menggambarkan kesejukan, kedamaian? Ini orang yang berilmu tinggi? Hahahaha, jangkrik-jangkrik malam saja akan ketawa! Datang menghujat, lalu pergipun menghujat! Berilmu tinggi?

SA: ………………………..T A M A T…………………………..

AJ: @semua yg berpaham SSJ: Ilmu kotoran anjing yang kamu pelajari itu jangkrik alias jancokkk. Golongan manusia munafik, iblis bangsa mengaku ilmunya paling bener, k***k **u kalian semua. Ngakuo bejat itu lebih baik dari pada mengaku paling benar.  Ilmunya Syeh Siti Jenar itu ilmu jajanan, roso’an, ilmu gatok, ilmu rasa, rasa t***. Bonggol bojo sik enak ae pola tok, masih takut miskin dan suka dipuji orang ae polae wes koyo biso nyundhul langit. Seumpamanya SSJ itu masih hidup bakal tak ludahi mukanya.SSJ. Itu iblis seperti saya tapi bedanya SSJ mengaku malaikat padahal iblis bagi agama. Munafik! T***** ena’e bonggol ketimbang ngomong sing gak onok gunane kayak yg kalian omongkan.

AH: Dari beberapa sumber Syar’iyah, tidak satupun yg menepis akan adanya siksa setelah mati. Namun pada kajian-kajian sulukiyah dalam Ilmu Thorekat – Hakekat, maka hal-hal demikian maka sangatlah jarang dibahas, sehingga segala perbuatan ibadah itu mengarah pada ajakan menuju keikhlasan. Jadi sangat wajar para salik yg menjalani suluk itu akan menafikan segala bentuk siksaan itu pada akherat nanti. .

SA: ………………………..bonggooool……………………..

Urus tetangga-tetangga kalian yg masih banyak kelaparan itu lebih utama dari pada ngomong yg tak ada gunanya!

______________________T A M A T ___________________________________

Wahai orang berilmu tinggi, naikilah ilmumu sana, kenapa masih repot di sini, dg ilmumu yg tinggi itu, kami nggak level dg ilmumu yg tinggi itu.

AH: Biarin aja kok! Mungkin dia masih malu tuk keluar, tapi inilah warna kita, mari kita nikmati dg tanpa ada beban sama sekali. Dan dengan keberadaannya malah diskusi ini tambah rame.

NS: Tuhan memang sedang mengajarkan kita tata karma. Namun dgn cara yg beda. Kita dipertunjukkan salah satu saudara kita yg memang levelnya agak lain, sehingga kita bisa mengenal banyak warna dalam pengenalan diri. Saya setuju memang ini patut kita nikmati.

RK: Hai semuanya nyok kita bikin riset (research). Mari kita praktek seolah-seolah kita di laboratorium. Ambil sebuah botol plastik yang kulitnya tidak terlalu tebal (dipencet bisa peot) dan ada tutupnya (seperti kemasan minuman mineral), ingat harus ada tutupnya sehingga bisa ditutup rapat. Iisi botol tersebut dengan air setengahnya dan bekukan di mesin pendingin hingga beku. Bagi yang sudah ada di kulkas yang seperti itu langsung lanjutkan langkah berikutnya.  Botol yang berisi es beku tersebut kemudian dituangkan air mendidih 1/4 botol. Secepatnya tutup botol tersebut dengan rapat. Kemudian kocoklah dengan cepat. Apa yang terjadi?

Hasilnya botol akan mengkerut (tidak seperti kebalikannya mengembang), kira-kira proses apa yang terjadi? Kalau kita membuat perumpamaan antara panas dan dingin berarti itu suatu hal yang berlawanan. Kemudian mereka dipersatukan dan dipaksa untuk berbaur dan dimasukan dalam satu ruang bersama dan dibatasi ruang tersebut (tertutup) maka yang terjadi adalah mempererat tali silaturahmi keduanya dan menimbulkan rasa yang menyenangkan dalam pembauran.

Ada pribahasa: jangan lo benci seseorang berlebihan, entar malah jadi seneng betulan loh. (Ini untuk cowok benci ke cewek atau sebaliknya) Nah ilmu di atas bisa dijadikan untuk pelet dengan izin Allah tentunya. Tapi jangan dipraktekan sembarangan yach. Terutama buat yang muda-muda yang belum punya pacar nih!  

UJ: Tapi lihatlah, Iblis direndam sampai 70 ribu tahun nggak mempan-mempan, keras kepala kayak batu cadas.

LJ: @rk: Lho kok saya malah jadi malu neh, karana sejak mulai masuk saya hanya menghujat-huajt saja dan mencerca kalian.

RS: Om, siapa yang belum punya pacar status lajang itu hanya untuk sensasi belaka. Tetapi ya memanglah semua orang bebas berpendapat. Semua orang bebas beragumen karena memang itulah yang diinginkan. Karena tidak ada baik tanpa adanya buruk, dan tidak ada buruk tanpa adanya baik.

Om SA, kalau hidup anda bukan untuk main-main lantas anda hidup itu untuk apa? Nafsi nafs? Hanya bisa bilang TAMAT saja saya juga bisa. Lalu bisakan anda menTAMATkan diri anda? Wong bernafas saja masih minta bantuan Allah.

Om AJ, kalau mau ceramah di mesjid om, disini tempatnya orang buang intan. Disini sudah kaya semua pada buang intan, apa lagi om RK, paling kaya tuh suka buang intan sembarangan. Semoga anda sadar dan mau mengambil intannya, sukur-suku kalo sadar ada intan. Rugi lho kalau gak ngambil. Memang ajaran Sech Siti Jenar ini ajaran jalanan,. ajaran sampah, ajaran yang apalah pokoknya menurut anda. Lantas kalau sampah gak dibersihkan dari jalanan ya jalanannya akan tetap kotor.

Om RK, tuh suka banget bersihkan jalanan yang penuh sampah! Huahahahaha…

YE: Mati lalu disiksa, syareatnya. Disiksa lalu mati, tarikatnya. Mati untuk hidup, hakekatnya. Hidup tiada mati, makrifatnya.

MP: Malaikat kok nyiksa badannya senderi?

AS: Dalam pemahaman aliran SSJ tidak ada konsep untuk merasa jiwa yang lebih unggul untuk menguasai jiwa yang lain. Tidak ada agen-agen Tuhan yg mewakili keberadaan Nya. Jadi Tuhan langsung kepada manusia, karena kepercayaan kami bahwa sesungguhnya setiap manusia adalah utusan di muka bumi ini. Jadi jika sudah berbicara ttg pengenalan maka itu adalah rahsya yg tersembunyi di balik lapis = lafadz. Jadi semua hanya ungkapan saja. Dalam hakekat mati, adalah kembali perkara siksa itu adalah hisab yg kontan di dunia, dan orang luar muslim menamai karma. Jika baik akhlak kita di dunia, maka baik pula yg kita terima oleh diri dan anak cucu..

Demikian sebaliknya.

HH: Kalau sudah mati, apanya yg mau disiksa bro? Kalau masih hidup baru bisa disiksa, kalau sudah mati, ya sudah! Itu urusan yg mati, disiksa kek, dibakar kek, terserahh! Gitu aja kok ngepet!

WI: Koq bisa, semua seolah meniadakan realita yang telah ditetapkan Allah. Hukum telah dia adakan, tahap dan proses yang terkandung dalam Firmannya, Siksa, kenikmatan sebagai konswekuensi ciptaan dan alur makhluk telah ditetapkan. Kenapa bisa ditiadakan? Bukankah itu adalah kehendaknya? Bukankah Nur Muhammad Juga kehendaknya? Konsekwensi dari kehudupan yang dia berikan adalah kehendaknya.

Diharapkan ada masukan dengan bijaksana!

KA: @wi: Itu kan baru hanya cerita-cerita dalam textual. Yah wajar kalau memang ada yg ragu dan lain sebagainya, Gimana kiat mau menghakimi bagi keyakinan orang yg nggak keliatan? Karena sampai saat ini belum ada yang baru balik dari sana, yg kebetulan sudah nyelesaikan siksaan-Nya, lalu cerita dan nunjukin babak-belurnya sekalian. Hahahahaha.

MI: Luar biasa, membahas mati namun diri, jasad, rasa, karsa, jasa, akal, logika hingga pengetahuannya belum pernah mengalami mati, maka hanya sebuah ilusi belaka dari rasa ketakutan diri akan sakratul maut.

Selamat bertakut-ria dengan sakratul maut. Sesuatu yang sia-sia belaka tanpa pemaknaan hakekat fana-diri, fana-ilmu, fana-akal, fana-logika hingga fana segalanya. Bagaimana akan sakratul maut?

Belajarlah mati sebelum mati sebagai puncak klimaks nikmatmu, jika tidak sungguh kalian akan mati sia-sia belaka, sama persis anjing yang mati ditabrak tronton terus bangkainya dimakan burung elang, dan sisanya dimakan cacing-cacing tanah, sungguh mati yang tiada arti..

HH: Belajar ofline sebelum offline, kalau sudah bisa, yaa terserah mau offline kapanpun!

MI: Mati itu hanya sekedar rasa yang lewat, sebagai latihan adalah sakit struk, sakit lever, sakit, diabetes dll. Semua ini adalah latihan proses mati yang siap hadir menyapa kita. Jika kita dapat merasakan nikmatnya sakit maka berarti kita sudah 25% dapat merasakan indahnya mati, jika tidak maka sungguh hidup kita 99% masih terkuasai oleh nafsu belaka.

HH: Mati lalu disiksa, disiksa lalu mati. Dua-duanya gak enak, mendingan mati dalam keadaan sehat wal’afiat.